Semua orang tentu menginginkan anaknya terlahir sehat, semua organ dan anggota tubuh berfungsi semestinya tak ada bedanya dengan anak lain. Tapi kita tak bisa memilih dikasih anak seperti apa. Setelah punya anak difabel, tak jarang orang tua, khususnya ibu takut punya anak lagi.

Mempunyai anak difabel juga harus disyukuri sama halnya punya anak yang tak ada sakit atau kondisi bawaan lain. Orang tua tak selayaknya mengutuki nasib terus atau malah menelantarkan anaknya. Mertua juga tak selayaknya mengutuk mantunya karena memberi keturunan difabel. Bagaimanapun juga, anak adalah karunia Tuhan.

Namun punya anak difabel itu memang tak mudah, membutuhkan ekstra sabar, ekstra waktu, ekstra tenaga dan ekstra keuangan juga. Selain itu juga menguras air mata. Karena itu, sungguh manusiawi kalau orang tua, (khususnya ibu yang bakal mengandung 9 bulan 9 hari) takut punya anak lagi dengan kondisi sama.

Anak saya sudah tiga, jadi memang tidak (atau belum) ada rencana mempunyai anak menjadi empat, lima, atau enam. Hehe.. Mengurus anak tiga yang semua aktif dan memberi perhatian sesuai porsinya saja menguras energi banyak. Dulu malah maunya cuma dua saja. Tapi karena anak pertama dan kedua lelaki, ya tetep ingin punya anak perempuan.

Alhamdulillah 12 Maret 2014 kami dapat anak ketiga, perempuan. Kami beri nama Aziza Sakhia Supriyadi. Ternyata Allah SWT memilih kami mempunyai Aziza, anak istimewa yang tak bisa mendengar alias tuli atau tuna rungu.

Memang hingga saat ini, kami tak ada rencana nambah momongan. Soalnya kami sudah ngrasa tiga anak saja sudah kemruyuk. Hehe Tapi seandainya anak kami baru satu Aziza, tentu pengen anak lagi dan tentu akan dagdigdug untuk nambah.

Kumara dan Nararya senang sekali menyambut adik yang baru dilahirkan.

Beberapa teman sesama ibu anak difabel bercerita agak trauma punya anak lagi yang sama-sama difabel mengingat kondisi anaknya yang butuh perhatian ekstra. Karena itu beberapa memutuskan tidak (atau belum) nambah lagi walaupun anak baru satu. “Aku masih agak trauma nambah anak lagi. Anak yang sekarang saja masih butuh perhatian banyak,” kata seorang teman.

Beberapa postingan di medsos juga menceritakan kegalauannya. Misalnya “Saya takut hamil lagi.” “Kalau sudah punya anak difabel apakah anak berikutnya bisa sehat tak ada masalah apapun?”.

Membaca kegalauan ibu-ibu yang lain, saya pun merasakan kegalauan yang sama. Meski tidak (atau belum) ada niat menambah momongan, rasanya kebayang kekhawatiran kalau hamil lagi juga dapat anak istimewa lagi.

Buat semua ibu anak spesial, kekhawatiran mempunyai anak difabel lagi wajar. Yang dipikirkan tentu banyak hal. Namun intinya karena sayang pada anak yang sudah ada dan anak yang akan ada terutama memikirkan bagaimana mengurusnya.

Tapi kalau memang mau menambah anak, kekhawatiran itu bisa sedikit terbantu andai tahu apa penyebab disabilitas anaknya. Kalau kena virus bisa tes TORCH. Kalau sudah tahu sebabnya jadi bisa diantisipasi dengan konsultasi dokter tentunya. Misalkan ibu kena virus/ parasit yang masih aktif, bisa diobati atau ada tindakan pencegahan yang lain.

Ada beberapa ortu yang punya anak difabel lebih dari satu. Mereka tetap kuat bersemangat dan tetap bisa bahagia. Ada pula yang sudah punya anak difabel hamil lagi dan anak-anak berikutnya tak ada gangguan kesehatan atau tak ada situasi bawaan lahir apapun.

Kalau memang siap nambah anak lagi, tak perlu khawatir berlebihan. Orang tua yang anak-anaknya tak spesial saja bisa berikutnya dapat anak difabel entah karena penyebab genetik, virus, parasit, masalah saat melahirkan atau paska lahir.

Mempunyai anak difabel bisa jadi ladang ibadah. Ada 1001 alasan untuk tetap bersyukur dan tetap bahagia.

Sebaliknya mempunyai anak yang sehat tak kurang apapun juga bukan jaminan kebahagiaan.ย Begitu banyak cerita anak yang sehat, tampan rupawan tak kurang apapun malah besarnya malah jadi ujian buat orang tua yang sepuh misal kena narkoba, tega sama orang tua atau melakukan hal buruk. Na’udzubillahi Min dzaliq. (Jadi buat ortu anak biasa ya tak usah sombong punya anak tak ada masalah apapun lantas menghina atau melecehkan anak difabel atau ortunya. ๐Ÿ˜Š )

Bila memang orang tua memutuskan tak nambah anak agar bisa fokus sama anak difabelnya, tak perlu dengar omongan orang kalau disuruh-suruh nambah anak. Seperti biasa, orang sini suka nanya “Kapan nambah anak lagi?” . “Anaknya cewek semua, gak pengen nambah cowok?”. “Anaknya gak dikasih adek biar nanti bisa njagain kalau gedhe?” ๐Ÿ™„๐Ÿ™„ dan seribu satu pertanyaan lain. ๐Ÿ˜ฌ Abaikan pertanyaan yang menganggu.

Buat ibu yang memang mau menambah anak, persiapkan diri dan konsultasi ke dokter. Lakukan pencegahan bila memungkinkan. Sisanya, berdoa dan serahkan pada Tuhan karena manusia takkan pernah tau rencana Tuhan dibalik semua takdirnya.

Sungguh, manusia hanya bisa berencana. Sedangkan Tuhan yang menentukan. Tuhan Maha Baik.. ๐Ÿ˜Š

 

Aziza saat masuk ruang operasi implan koklea, sesudah keluar dari ruang operasi dan saat bersiap pulang dari rumah sakit.