Sedih.. Itulah yang saya rasakan suatu hari saat ngobrol dengan orang tua yang mau pasang implan koklea pada anaknya. Bagaimana saya tidak sedih, ortu tersebut mengatakan masih makan beras jatah raskin dan gajinya sebagai buruh tak tentu. Duh, implan itu tak hanya selesai beli alat ratusan juta sekali saja. Tapi ada biaya lain seumur hidup. 😒 Saya pun menganjurkan jangan lakukan itu.

IMG_4372

Saya memang rutin menulis perjalanan anak saya Aziza untuk mendengar dan berbicara. Semua saya lakukan sejak setahun lalu, sejak anak saya terdeteksi profound hearing loss atau tuli sangat berat hingga memakai implan koklea. Saya pun tak hanya nulis tentang anak saya, tapi juga tentang kisah anak lainnya dengan implan, ABD atau bahasa isyarat.

Ada tiga tujuan saya menulis. Pertama self healing dan bentuk penerimaan saya. Kedua menjadi rekam sejarah hidup anak saya. Harapannya, suatu hari nanti Aziza akan baca semua tulisanku tentang kisah hidupnya dan perjalanan hidup yang kami lalui sekeluarga. Ketiga, memberikan info, berbagi atau memberi dukungan bagi yang lain. Saya sadar saya dibantu ratusan sahabat baik dan juga orang yang tak dikenal atau yang baru saya kenal. Karena itu saya ingin membalas kebaikan pada kehidupan.

Meski saya memilih jalan implan untuk anak saya, bukan berarti saya akan membujuk semua orang untuk melakukan implan. Tidak. Kalau menurut hati saya sebaiknya itu tidak dilakukan, jelas akan saya katakan itu.

Saya juga tidak menganggap implan koklea adalah satu-satunya keberhasilan mutlak dalam HIDUP anak dengan gangguan dengar dan mengecilkan yang lain. Tidak. Ada banyak jalan menuju Roma bukan? Sudah banyak juga contoh orang yang ada gangguan dengar sangat berat yang sukses dibidangnya tanpa harus implan juga. Sebaliknya ada contoh juga orang yang tak ada masalah pendengarannya ya hidupnya gak jelas. Ya kan?

Memang saya dan suami memilih implan untuk Aziza setelah diskusi panjang dengan banyak pihak dari dokter, terapis, orang tua lain. Ada berbagai pertimbangan hingga kami memutuskan itu. Salah satunya agar bisa memberikan akses mendengar secara optimal pada Aziza yang gangguan dengarnya sangat berat yaitu diatas 110 desibel. Kami memilih implan karena meyakini jangkauan suaranya lebih luas.

Setiap ada yang bertanya soal implan, saya selalu berusaha menjelaskan bahwa sekali kita melakukan implan pada anak, ibaratnya kita akan kontrak mati dengan provider. Kenapa? Karena setelah implan, alat anak butuh di-mapping rutin seumur hidupnya plus FFT aided. Kebutuhan servis, beli spare parts, upgrade juga akan berhubungan dengan provider selamanya.

Kalau masih garansi memang akan ada tanggungan soal alatnya luar maupun dalam. Lepas dari garansi, akan ada biaya lain atau asuransi rutin. Kalau tidak ada garansi/asuransi, bila terjadi kerusakan berapa juta atau berapa puluh juta yang harus keluar?

Alat itu pun takkan bisa bertahan seumur hidup. Yang ditanam memang proyeksi bisa bertahan puluhan tahun. Tapi yang luar? Yang namanya elektronik ada umurnya juga. Belum lagi kalau alat atau baterainya hilang jatuh. Kalau handphone nyelip bisa dimisscall, kalau sound processor? Kalau ada masalah sama printilannya pun bukan sesuatu yang murah. Naudzubillahi min Dzalik.

Setelah implan, anak takkan langsung bisa bicara. Ada yang salah mengira setelah beli alat dan operasi ya selesai. Sim salabim anak bisa bicara karena gampang dah pakai implan. Salaaaaaaaah. Kenyataannya, butuh waktu bagi anak menyesuaikan dengan alatnya. Butuh waktu mengajarkan bahasa dimulai dengan mengenalkan suara, mengajarkan imitasi, memasukkan kosakata, mengajarkan bicara, mendorong spontanitasnya, mengajarkan bicara membentuk kalimat.

Prosesnya pun panjang, bertahun-tahun melalui terapi Auditory Verbal Therapy yang tidak murah. Per jam 250 ribu – 500 ribu. Ya, Hanya satu jam saja. Terapi dengan terapis hanyalah sebentar. Hanya secuil dibanding waktu bersama orang tua. Seberapa besar komitmen ortu mendampingi? Ada juga yang gagal anak tak bisa bicara karena sesudah implan tidak begitu terurus terapinya khususnya di rumah. 😒

Kembali ke keluarga yang mau implan tadi. Ketika beliau bercerita masih makan susah, makan masih beras raskin, gaji tak tentu, sungguh hati ini campur aduk. Katanya ada yang mau membantu mencari donasi buat anaknya untuk beli alat implan. Saya mau mendukung usahanya untuk anak tercinta. Tapi bagaimana kelanjutannya? Bagaimana terapinya? Bagaimana perawatan alatnya?

Saya pun mencoba bicara tanpa mengecilkan niatnya, tanpa membuat beliau tersinggung. Satu yang saya pikirkan bagaimana kehidupan keluarganya paska implan? Apakah tidak lebih susah. Kalau sekarang makan raskin, bagaimana nanti? Bagaimana asupan gizi anaknya? Duh teraduk-aduk hati ini.Β πŸ˜”. Andai ada yang lain dalam posisi sama yang ngepas sekali dan punya anak tak hanya satu, tentu lebih bijak memikirkan anak yang lain juga.

Memang rejeki ada di tangan Tuhan, tapi kita diberi akal dan pikiran untuk bisa berhitung merencanakan sesuatu. Ibaratnya kita mau kredit mobil Ferrary dua pintu. Kita tentu gak bisa enteng bilang nanti Tuhan ngasih rejeki buat nyicil padahal keadaannya ngepas atau susah untuk memenuhi kubutuhan hidup 😒 Ini implan, menyangkut kepala anak. Sekali ditanam, ya alat ada di dalam kepala anak. Waktu tak bisa diputar setelah kepala dibor dipasang implan hingga rumah siput.

Suatu hari, pernah juga mendengar kabar seseorang yang berhutang ratusan juta untuk implan dan kesulitan paska implan. Bisa dibayangkan hari-hari paska implan keluarga itu akan nyicil hutang tersebut hingga bertahun-tahun. Kalau memang gaji tinggi dan cicilan kecil, masih bisa teratasi. Tapi kalau gaji ngepas? 😒 Ironisnya ada kendala entah faktor apa hingga akhirnya alat tak dipakai lagi sementara cicilan hutang masih berjalan.

Bisa saja implan dengan berhutang. Tapi pesan saya, kalaupun berhutang harus ada proyeksi hitungan membayarnya paska implan yang tidak memberatkan hidup. Misalkan masih bisa nyicil dan kebutuhan hidup serta terapi masih tercukupi.

Bisa juga hutang sesaat untuk beli alat sambil menjual harta yang ada karena kadang menjual barang tak bisa cepat. Tentu kalau ada aset, Β hutang itu bisa segera lunas. Kalau sudah lunas, penghasilan bisa dialokasikan untuk proses habilitasi dan biaya lain. Jangan sampai juga hutang yang niatnya baik mengimplan anak tapi malah terjerat rentenir. πŸ˜”

Sungguh, sebelum memutuskan implan, saya harap semua mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Pikirkan berkali-kali dengan jernih, karena usaha kita paska implan juga harus keras dan akan ada tagihan seumur hidup. Ukur juga komitmen kita mendampingi anak. Kalau memang sudah siap lahir batin dan finansial silahkan saja. Tapi kalau masih ada keraguan, jangan pernah lakukan.

Salam hangat..
Ibunya Aziza yang implan koklea di umur 2 tahun 9 bulan. (081282032922)

Mohon maaf bila ada yang tidak berkenan dengan tulisan saya. Tak ada niat mengecilkan sebuah ikhtiar. 😘