Cari

Memecah Sunyi Aziza

Perjalanan Untuk Bisa Mendengar dan Berbicara

Aziza di Mediakom Kemenkes

Pada peringatan Hari Pendengaran Sedunia 2017, Aziza masuk dalam liputan majalah Kementrian Kesehatan, Mediakom. Untuk membaca tulisan tersebut, silahkan klik: Artikel Aziza.

IMG_0786

Featured post

Membuka Diri..

image
Aziza, 12 Maret 2016 di Philips island Melbourne. Saat itu kami tak tau dia tuli.

Blog ini saya buat untuk menuliskan perjalanan anak ketigaku, Aziza Sakhia Supriyadi,Β  agar bisa mendengar suara dan belajar berbicara. Aziza yang lahir 12 Maret 2014 didiagnosa mengalami gangguan pendengaran sangat berat (profound hearing loss) pada 20 Agustus 2016. Hasil tes Berra dan ASSR menunjukkan bahwa dia hanya bisa mendengar suara diatas 110 desibel atau setara deru suara pesawat dari dekat. Dokter mengatakan sel-sel rambut kokleanya mengalami gangguan sejak dia masih dalam kandungan yang diduga karena virus CMV.

Lanjutkan membaca “Membuka Diri..” β†’

Featured post

Pertama Kali Ulangan Bahasa Inggris

Anak wedhok ulangan bahasa Inggris untuk pertama kalinya. Lumayanlah dapat skor 95 dr 100.. Nilai bukan tujuan, yang penting gimana pemahaman dia dan ngerjain sendiri 😍. Seneng liat perjuangannya belajar bahasa Inggris, berusaha memahami, fokus mendengar bahasa yang asing buatnya dan belajar ngucapin yang tak mudah buat lidahnya. ❀️

Implan Koklea dan Pahit-pahitnya

Banyak yang mau operasi implan koklea buat anaknya, tapi tak mengerti apa yang akan dihadapinya. Saya tuliskan pahit-pahitnya untuk jadi pertimbangan. Bukannya saya mau menggembosi sebuah ikhtiar. Tidak. Tapi memberi informasi untuk pertimbangan sebelum memutuskan langkah. Implan koklea tak selalu manis dan tak semudah membalik telapak tangan membuat anak bicara verbal. Ibarat jalan, bukan melulu jalan tol mulus yang ditempuh, tapi ada jalan terjal dan berliku. Sisi pahitnya perlu dilihat, jangan hanya melihat manisnya saja. Saya juga bukan endorser implan. Kalau siap dan yakin, silahkan lanjutkan. Kalau ragu jangan lakukan.

Lanjutkan membaca “Implan Koklea dan Pahit-pahitnya” β†’

Jajan 10 Juta dan Bersyukur


Kalau hidupmu berat, jangan ngrasa jadi orang yang termalang sedunia. Semua orang punya masalah yang dihadapi. Beratnya bisa brasa sama berat banget meski bentuknya beda. Kayak org putus pacaran, bagi satu orang ringan, buat yang lain bisa berat banget bahkan bisa gila atau bahkan bundir. Hiks. Buka mata, buka hati. Orang itu wang sinawang. Yang terlihat hidup wow, kadang tiba tiba jebret kena narkoba karena gak bahagia hidupnya atau wow gonjreng tapi terlilit utang di mana-mana. Di sisi lain, ada yang hidup dilihat susah oleh orang lain, misal buruh biasa ternyata rumahnya hangat, keluarganya adem ayem dan tenang. Terus bersyukur itu yang bisa menjaga hati. 😊

Kalau kepalamu tak perlu dibor, telingamu tak perlu pakai batre untuk mendengar, bersyukurlah. Dikasih sehat, mendengar gratis itu berkah luar biasa. Gak kebayang tho, klean lagi denger musik atau lagi ngobrol seru tiba-tiba makpet hening total semua karena batre habis hehe. πŸ™ˆπŸ’†β€β™€οΈ

Kalau memang terlahir tuna rungu dan memilih jalan mendengar, trus harus pakai alat ratusan juta, harus beli batre, kabel ya bersyukurlah kalau masih kebeli. 😊Intinya tetep bersyukur. Alhamdulillah masih ada rejeki. Alhamdulillah dapat diskon tipis-tipis. Ehem..

Ini Edisi menghibur diri jajan batre 10 juta buat Aziza (diskonnya gak kusebut ya hihi). Jajan yang harus siap seumur hidup. Ini baru jajanan printilan. Belum jajan utama, beli alat reguler upgrade 200-300 juta per 6-8 tahun πŸ™†β€β™€οΈπŸ’ͺ. Sehat kuat, sehat kuat, sehat kuaaat..

Kemarin kondisi ‘telinga’ Aziza bikin trenyuh. Batre bawaan beli alat yang rechargable ada 4. Yang 1 sudah mati total sudah sejak setahun lalu. Jadi sejak itu cuma pakai 3 gantian. Baru pakai alat dua jam, baterai di telinga kanan habis. “Mami batre alat Aziza habis. Aku gak bisa dengar”. Jreeeng. Ganti pakai cadangan. Yang mati dicas. Eh gak lama ganti yang kiri. “Papi alat yang kiri mati juga.” 🀣. Trus ganti yang dicas tadi 🀣 . Dah kepake semuanya dong 3.

Lanjutkan membaca “Jajan 10 Juta dan Bersyukur” β†’

COBAAN vs BERKAH


Bagi sebagian orang hidupku serba enak, ketawa-tawa mulu dan pengen kayak aku. (Beberapa menyatakan langsung gitu ke aku) πŸ™ˆπŸ˜¬. Bagi sebagian orang lainnya, hidupku beraaaaat banget punya anak spesial dan gak kebayang njalaninya. πŸ™ˆπŸ˜¬. Dua hal yang bertolak belakang.

So.. kesimpulannya semua itu relatif hehe.. Buatku, hidupku berubah banget karena Aziza. Jadi lebih sabar, lebih bisa menghargai hidup dan bisa ngrasa seneng banget atas hal-hal kecil dalam hidup. 😬Brasa berlimpah-limpah berkah dan cinta kasih dari begitu banyak orang, datang bergelombang seperti ombak ra uwis-uwis.❀️ So, apakah Aziza cobaan? Mmm.. Saat awal, memang brasa berat banget nget nget kayak cobaan hidup yang gelap gulita. Dulu sedihnya terasa sampai ke darah, berdesir-desir. Literally ya. Brasa berat. Makin kesini, semua pandanganku berubah. Aziza dengan keistimewannya adalah berkah, bukan cobaan apalagi hukuman. 😍.


Semua orang punya ujian, cobaan dan tantangannya sendiri dalam hidup. Ada yang punya masalah ekonomi yang mencekik, ada yang ditinggal pergi atau ditinggal meninggal pasangan, ada yang rumahnya kayak neraka karena pasangan tak harmonis, ada yang tersiksa menahun karena mertua dan ipar, ada yang diberi ujian anaknya kena masalah hukum/ narkoba atau malah nggak percaya agama dan membuat stress ortu, ada yang putus-putuuuus terus gak nemu jodoh, ada yang tak dikasih anak sementara banyak yang tak menginginkan anak malah justru dikasih mudah dan anaknya ditelantarkan, dan ada juga yang dikasih cobaan sakit tak kunjung sembuh. Hiks πŸ™ˆ. Semua berat loh, apalagi kalau ditambah terus ngeluh dan terus menyalahkan Tuhan “kenapa aku harus mengalaminya? Kenapa? ” 😒. Hal yang berat yang sebenarnya ada jalan keluar akan terasa lebih berat.

Lanjutkan membaca “COBAAN vs BERKAH” β†’

BABAK BARU AZIZA


Bocah ini banyak mengubah hidupku.. 180 derajad. Rasanya dulu habis terbang tinggi setelah lulus kuliah di Melbourne trus langsung jatuh ke jurang kesedihan yang terdalam saat tau kondisinya. Semua gelap. Gak kebayang bisa melaluinya. Dulu sampai bisa ngrasa darah berdesir-desir saking sedihnya. Gak bisa diucapkan dengan kata-kata sedihnya. Tak mudah untuk bangkit. Tapi semua bisa dilalui dengan dukungan banyak orang. Aku cukup beruntung banyak yang peduli. Di banyak tempat, banyak yang terpuruk karena dikucilkan, dibully, dianggap aib keluarga. 😒.

Membesarkan anak berkebutuhan khusus jadi lebih menghargai progress sekecil apapun. Rasanya begitu banyak berkah dan berlimpah sayang buat anak wedhok. Dia kayak punya banyak orang tua, budhe pakdhe, om tante yang sayang. ❀️ Dulu, mendengar suara huruf demi huruf keluar dari mulutnya aja rasanya kayak dapat doorprise gak habis-habis. 😊. Gak berasa bocah ini sekarang sudah SD.. Yang ngikuti perkembangan Aziza tentu tau banget bagaimana dulu dari gak bisa mengucap huruf A, sampai sekarang bisa secerewet ini ❀️.. Perjuangan panjang, berdarah-darah, tak semudah membalik tangan tapi tak mustahil. Ada keajaiban Tuhan lewat kejaiban teknologi.

Semalam saat mau tidur, Aziza nyium aku dan suami. Dia memang masih tidur sama kami. Dia bilang, “Mami, Papi.. Aziza sudah gedhe sekarang. Sudah SD, nggak TK lagi. Aziza seneng sekolah. Aziza sayang banget sama mami papi. Sayang banget, banget. Makasih ya. Yuk bobok. Besok Aziza sekolah pagi.”

Nyesssssssssss.. 😍. Nikmati babak baru hidupmu ndhuk..

Makasih buat semuanya yang sudah mendukung kami ❀️❀️. Lemah Teles, Gusti Ingkang mBales.

‘Jajan’ Aziza Hari Ini

Kalau ada orang tua anak tuli/ tuna rungu ingin implan dan bertanya, biasanya aku akan jelaskan konsekuensi biaya paska implan. Tujuannya biar gak kaget dan siap menghadapinya. Paska implan, anak tak otomatis langsung bicara. Tetep butuh perjuangan berat. Beli alat pun tak cukup sekali saja tapi perlu upgrade rutin per 8-10 tahunan dengan harga ya ratusan juta juga plus terapi dan printilan biaya lainnya yang seperti kontrak seumur hidup. Seperti hari ini, Aziza perlu beli mic protector mungil 3 biji gini 700 ribu yang per 3 bulan ganti. (Yeilah olasting cuilik doang hehe πŸ€£πŸ™ˆ). Kalau kabel rusak atau patah, kabel 7 cm ya sekitar 1 jutaan (yeilah kabel seucrit ajaaa.. kalo beli di toko besi, kabel bisa bermeter meter harga segitu hehe) πŸ™ˆπŸ˜¬. Bersyukurlah yang punya telinga gratis tak berbiaya seumur hidup. ☺️ Bersyukur, bersyukur dan bersyukur. Jangan lupa berempati dan ajarkan anak-anak kita tidak membully yang beda.. ❀️

Persahabatan 3 Anak Implan Koklea

Aziza, Ditta dan Noel tampak senang kalau ketemu. Mereka mungkin merasa dekat sebagai sesama pemakai implan koklea. Kali ini mereka kumpul di Eco Park Ancol. Ah semlga mereka rukun sampai besar nanti dan saling mendukung. Amiiin

Aziza Mendongeng Nabi Yunus

Ada yang mau dengar Aziza mendongeng? Ini Aziza baca kisah Nabi Yunus full 1 buku, 10 menit. Sabar ya, anggap aja dengerin dongeng menjelang tidur hehe.. Untuk ngajarin Aziza bersuara dari 0, sampai tahap bisa baca dan paham kalimat itu rasanya berdarah-darah, berderai air mata hehe.. Ah nyes liat perkembangannya.😍 #Tuli #TunaRungu #Implankoklea (Sekarang umur 6,5 Tahun). Btw, kaos dari tante Meidy ❀️.

Ini videonya ya:

https://www.facebook.com/713333048/posts/10157865352143049/?extid=0&d=n

Menang Lomba Blog

Alhamdulillaaaaaah.. Tanggal 28 September ada pengumuman dari Kemendikbud, tulisan β€œSekolah Online Buat Aziza, Anak Tuna Rungu” menjadi yang terbaik no urut satu di kategori umum.. Hiks terharu pada diri sendiri.. ☺️. Makasih atas semua dukungannya..

Terapi Oral Motor

Kemampuan bicara Aziza makin hari makin jelas. Kini Aziza sudah bisa mengucapkan semua huruf kecuali β€œR” yang belum begitu jelas 100%, atau masih agak samar seperti bule hehe. Proses Aziza tak mudah, dulu dia sempat mengalami hambatan bicara karena ada gangguan oral motor sehingga susah memproduksi beberapa bunyi khususnya konsonan.

Lanjutkan membaca “Terapi Oral Motor” β†’

Sekolah Online Buat Aziza, Anak Tuna Rungu

Aziza dan hasil karyanya.

Pandemi Corona membuat semua sektor terkena imbas termasuk dunia pendidikan. Ketiga anak saya pun tak bisa ke sekolah langsung. Salah satunya adalah Aziza Sakhia Supriyadi (6,5 tahun), seorang penyandang tuna rungu atau tuli yang memakai implan koklea sebuah alat yang ditanam di dalam kepala atau telinganya. Sungguh ada tantangan tersendiri bagi dia menjalani situasi baru ini dan bersekolah secara daring. 

Aziza lahir tanggal 12 Maret 2014 dan menjalani operasi penanaman implan koklea di umur 2 tahun 9 bulan, tepatnya 9 Desember 2016 di hari Anti Korupsi sedunia. Sejak saat itu, dia terus belajar mendengar dengan telinga bioniknya sekaligus belajar bicara.

Sebelum ada pembatasan sosial berskala besar (PSBB), Aziza bersekolah tiap hari di TK inklusi. Dia juga masih menjalani terapi auditory verbal therapy (AVT) seminggu sekali bersama terapisnya. Karena Corona, semua kegiatannya itu berhenti. Saya dan suami yang menjalani work from home (WFH) pun harus menyesuaikan dan berkreasi mencari cara belajar yang menyenangkan agar Aziza dan kakak-kakaknya tak bosan belajar di rumah saja. Tentu kami harus akomodatif terhadap masukan mereka.

Saat awal PSBB, rasanya sungguh tak mudah mendampingi sekolah online 3 anak dalam satu waktu bersamaan. Apakagi ada tanggungan pekerjaan dari kantor yang harus diselesaikan. Anak pertama yaitu Kumara Natadharma Supriyadi di awal pandemi ada di masa peralihan akan lulus SD dan masuk SMP. Sementara anak kedua transisi dari kelas 4 akan naik kelas 5 SD. 

Awalnya berat tapi puji syukur kami bisa beradaptasi. Selain sekolah daring lewat zoom, tambahan belajarnya kami buat fleksibel. Kakak pertama dan kedua pun menemukan pola belajar yang efektif dan kami saling bantu untuk mendukung anak no 3 yang difabel.

Di awal pandemi, Aziza belum bisa membaca kalimat. Karena kami semua ada di rumah, maka kami bergantian mengajari membaca, menulis dan berhitung. Durasinya tidak panjang, tapi pendek-pendek saja dan sering.

Sekolah online Aziza juga tetap berjalan lewat zoom meeeting sama seperti kakak-kakaknya. Setiap hari, dia sekolah dari jam 9 hingga 11.30 pagi. Di awal pandemi, Aziza belum biasa mendengar suara digital. Saat itu, dia masih menjalani terapi pengenalan suara digital. Bagi para pengguna implan koklea, suara elektronik akan terdengar lebih robotik.  Awalnya dia banyak diam, terlihat bingung, menahan tangis. Berhari-hari dia kesulitan menangkap apa yang diucapkan gurunya. Kami pun sungguh khawatir dia sedih tak bisa mengikuti pelajaran. Kami terus mendampingi dan juga melatih dengan melakukan video call bersama saudara di kampung.

Seiring waktu, Aziza makin beradaptasi. Dia kini sudah peka dengan suara digital dan bisa berkomunikasi dua arah dengan guru-guru dan teman-temannya saat pertemuan berlangsung. Dia pun terlihat makin menikmati sekolah online. Kini dia makin lancar membaca, termasuk membaca buku sederhana. Setiap ada permintaan membaca dan berhitung dari gurunya di layar laptop, dia terlihat percaya diri dan antusias menjawab.

Situasi pandemi membuat banyak hal berubah dan banyak yang tak mengenakkan. Dari pada terus mengutuk keadaan, kami memilih tetap positif dengan terus berusaha mengoptimalkan pembelajaran di rumah. Kami pun tak lupa juga bersyukur atas capaian-capaian kecil ketiga anak kami, khususnya Aziza yang perlu dukungan ekstra.

#CerdasBerkarakter, #BlogBerkarakter, #SeruBelajarKebiasaanBaru #BahagiaBelajardiRumah

Haydar, Santri Tuna Rungu Pemakai Implan Koklea Hafal 30 Juz Al-Quran

Pemberian Rekor MURI pada Haydar.

Hari Kamis 2 Juli 2020, Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan penghargaan kepada Ali Haydar Altway. Santri Madrasah Aliyah Tahfidzul Quran As-Sukarti ini diberi penghargaan rekor MURI sebagai penyintas tuna rungu yang berhasil menghafalkan Al Quran 30 Juz.

β€œPenghargaan ini saya dedikasikan kepada semua anak disabilitas khususnya tunarungu, untuk mendapatkan tempat yang sejajar di masyarakat dan mempunyai kualitas hidup yang lebih baik,” kata Haydar saat menerima penghargaan MURI.

Lanjutkan membaca “Haydar, Santri Tuna Rungu Pemakai Implan Koklea Hafal 30 Juz Al-Quran” β†’

Dikelola oleh WordPress.com.

Atas ↑