Banyak yang mau operasi implan koklea buat anaknya, tapi tak mengerti apa yang akan dihadapinya. Saya tuliskan pahit-pahitnya untuk jadi pertimbangan. Bukannya saya mau menggembosi sebuah ikhtiar. Tidak. Tapi memberi informasi untuk pertimbangan sebelum memutuskan langkah. Implan koklea tak selalu manis dan tak semudah membalik telapak tangan membuat anak bicara verbal. Ibarat jalan, bukan melulu jalan tol mulus yang ditempuh, tapi ada jalan terjal dan berliku. Sisi pahitnya perlu dilihat, jangan hanya melihat manisnya saja. Saya juga bukan endorser implan. Kalau siap dan yakin, silahkan lanjutkan. Kalau ragu jangan lakukan.


Rasanya permintaan donasi implan koklea banyak sliweran di timeline saya. Buat saya, sah-sah saja buka donasi wong anak saya juga beli alat dibantu donasi banyak teman. Tapi kadang saya tarik nafas panjang kalau membaca narasinya. Misalkan saja masih banyak ditulis tuli/ tuna rungu sebagai penyakit, padahal bukan penyakit. Mungkin nulisnya masih kalut dengan kenyataan anaknya tak bisa mendengar. Beberapa kali saya baca buat makan sekeluarga saja ditulis masih susah bahkan ada yang japri saya masih makan nasi aking atau nasi sisa yang dikeringkan lalu dimasak lagi. Mohon maaf, bukan mengecilkan niat, tapi kalau makan saja susah, lalu bagaimana nasibnya setelah implan? Apalagi ada anak lainnya. Bukankah lebih baik buat makan yang sehat dan bergizi atau untuk biaya sekolah semua anak yang tak sedikit. Sekali implan ada tagihan yang menanti seumur hidup.


Aziza dan alat implannya.
  1. Pembelian Alat Tak Cuma Sekali

Banyak yang memutuskan implan tapi hanya mengira beli alatnya sekali saja lalu selesai. Dikira beli sekali lantas bisa dipakai seumur hidup. Untuk implan titanium bagian dalam memang diharapkan seumur hidup. Kecuali jatuh kejedut dan pecah implannya atau terganggu koneksinya ya harus operasi re-implant. Saat ini, dari ketiga merek perusahaan besar Cochlear dari Australia, Medel dari Austria dan Advance Bionic dari Amerika harga termurahnya sekitar Rp300an juta dan termahal Rp800an juta sepasang.

Untuk alat luar perlu upgrade sekitar 6-8 tahun. (Nggak wajib siiiih). Tapi yang namanya elektronik ada masa menurun kerjanya kan? Coba bayangkan, bisakah kita pakai hape atau laptop yang dibeli tahun 2010? Kira-kira seperti itulah. Kalau pun bisa dipakai ya bakal lemot. Untuk upgrade dengan teknologi baru tanpa beli implan bagian dalam berkisar Rp250-500 juta sepasang. Jadi jangan kaget saat alat kinerjanya menurun ya perlu beli lagi. Selain soal kinerja menurut yang perlu ganti, juga perlu menyesuaikan kebutuhan. Misal untuk SMP, SMA/ kuliah nanti ya butuh alat yang bisa bluetooth nrima telpon atau dengar dari jangkauan mini mic jauh yang dipakai guru/ dosen pengajar. Anak saya Aziza beli di umur 3 tahun dan sekarang umur 7,5 tahun. Kira-kira umur 11 tahun setelah pemakaian 8 tahun saya perlu membelikan lagi seharga Rp250 juta.

Selain itu, kadang ada hal tak terduga misalnya ada kebijakan discontinued products. Biasanya provider akan memberi tahu kapan pada para pembelinga. Artinya alat tidak diproduksi lagi di seluruh dunia, termasuk spare partnya sehingga ortu diberitahu siap-siap membeli alat baru. Ya kalau spare partnya tidak tersedia dan masih mau pakai ya gak bisa dibenerin kalau rusak dan provider tak bisa melayani servis lagi untuk type itu. Mau gak mau ya harus beli kalau anaknya masih mau mendengar. Ini artiya wajib gak bisa ditawar. Minimal ya Rp250 juta sepasang. Meski ada pemberitahuan, seringkali orang tua yang baru beli tidak menyangka akan secepat itu karena saat beli tidak tahu sama sekali. Baru jalan berapa tahun ternyata discontinued. Soal kebijakan discontinued products ini di semua merek ada.

Ada yang bercerita, berhutang di bank untuk membeli alat sekitar Rp400 jutaan. Ternyata discontinued dan hutangnya masih jalan. Duh.. sedih denger curhatannya. Tapi hidup harus jalan terus bukan? Mau siap-siap beli atau selesai gak pakai. Hiks

Bagi saya, karena alasan hutang itu akan memberatkan paska implan ditambah pengeluaran yang lain, saya tidak menyarankan pada siapapun berhutang ratusan juta di bank untuk implan. Kalau ada yang bisa dijual, maka lebih baik menjual sesuatu. Jangan hutang, bunganya pun besar. Kalau memang berat , dan kalau tak ada yang membantu ya tak usah implan. Legowo.

2. Asuransi/ Perpanjangan Garansi

Selain soal beli alat, perlu dipikirkan soal asuransi alat yang dibayar tahunan. Besarnya biaya bayar tergantung harga alat. Anak saya pakai type termurah di merk Cochlear, biaya asuransi/ perpanjangan garansi kedua alatnya sekitar $400. Di sebuah kasus, ada yang alatnya rusak kecemplung air dan kebetulan gak bayar asuransi. Ya sudah, wassalam tidak tercover. Kudu beli lagi dong ratusan juta. 

Di kasus lain, pengalaman mama Finn alatnya ilang setelah anak masuk toilet. Kemungkinan nyemplung trus disentor sama Finn. Namanya bocah kecil ya. Ditanya juga gak tau hehe. Karena fisiknya tak ada, asuransi ya gak mengcover πŸ™ˆ. Hiks beli lagiii ratusan jutaaaa.. Nyesek gak sih? 

Obrolan mamak-mamak anak implan hehe


3. ‘Jajan’ Asesoris Tak Bisa Diprediksi

Gimanapun juga ortu harus siap dengan uang cadangan untuk beli asesoris kalau dibutuhkan karena tidak dicover asuransi. Yang namanya kabel coil itu rentan putus, kepuntir jadi tak bisa menyalurkan suara yang ditangkap dengan baik. Kabelnya harganya ya lumayan. Begitu juga dengan baterai. Harus disiplin ngecasnya, tidak boleh kelamaan karena bisa gampang menggembung atau rusak.

Meski sudah hati-hati, baterai anak saya pun harus diganti setelah dipakai 4,5 tahun. Kami punya 4 bawaan saat beli dan semuanya rusak. Awalnya hanya 1 yang bocor dan disusul ketiganya bareng. Akhirnya kami beli 2 sekaligus akhir bulan Juli lalu. Harga normal jualnya sekitar 10 juta. Yak duit lewat.. 😬. alhamdulillah masih dicukupkan 

Rumpian mamah-mamah hehe

Saat asesoris rusak, ya harus beli segera. Gak kenal waktu sih 😬. Dari hook patah, kabel coil, microfon cover ganti per 3 bulan, batre ya kudu siap.

4. Bayar Terapi Seperti Duit Lewat

Sudah pakai alat implan ratusan juta, lalu bagaimana dengan terapinya? Mayoritas pemakai implan terapinya Audio Verbal Therapy (AVT) untuk mengoptimalkan kemampuan dengar pakai alatnya. Tapi banyak juga yang ikut terapi wicara atau kombinasi keduanya bareng. Apakah sudah siap dengan biayanya. Sejauh yang saya tahu, belum ada RS pemerintah yang menyediakan terapi AVT dan dicover BPJS. (Mungkin ada tapi saya belum tau). Artinya kalau mau terapi AVT itu harus bayar sendiri. Untuk di Jakarta, biaya bervariasi ada yang berkisar Rp350 ribu perjam, Rp500 ribu perjam, bahkan Rp1 juta perjam. Anggap saja yang termurah Rp 350, sebulan 4 kali ya Rp 1,4 juta

Kalaupun tidak AVT lalu mau hemat ikut terapi wicara pakai BPJS , apakah siap dengan biaya mondar-mandirnya? Kadang di daerah, RS untuk terapi wicara juga jauh.

Untuk anak saya, dia ikut terapi AVT sekitar 3 tahun. Dulu ditambah terapi oral motor manggil ke rumah perjam Rp 250 ribu karena ada masalah pada otot oral motornya. 

5. Gagal Bicara / Tak Sesuai Harapan

Di semua merek ada saja anak pemakai implan yang tak berkomunikasi verbal sesuai harapan. Jumlahnya memang tak banyak. Kalah dibanding yang akhirnya bisa bicara lancar ya jumlahnya sedikit saja sih. Kegagalan bisa fialami siapa saja. Yang impan juga gak tau, apakah anaknya yang bakal ngalamin di jumlah yang sedikit itu. Ada banyak faktor, misal dari syarafnya, atau ada sakit bawaan, mapping kurang pas atau anak gak kooperatif pas mapping jadi menyulitkan, anak gak mau pakai alat atau faktor X lainnya.

Karena tak ada progress, beberapa ortu masih mengusahakan mapping di Singapura. Sekali ke sana hitungan pesawat PPnya, hotelnya dan mapping dengan audiologist berkisar 5 jutaan, sementara FFT 3 jutaan.

Di luar semua itu adalah komitmen keluarga. Terapi AVT hanya sejam atau dua jam dalam seminggu. Sisanya anak tumbuh bersama keluarga. Apakah ada yang komitmen ngajarin? Beberapa kali saya dengar kisah ortu yang sibuk lalu anak diasuh sama ART yang mungkin kurang bisa mengajari bicara. Saya sendiri memilih melepas kerjaan karena mau fokus pegang tanggung jawab itu. Saya tak mau menyalahkan orang lain atau PRT kalau anak tak bisa bicara.

Cerita lain anak dititipkan sama nenek kakeknya yang sudah sepuh atau sakit-sakitan sehingga tak bisa optimal ngajarin anak. Jadinya ya anak lebih banyak main hape atau liat tv. Sesungguhnya hape dan TV itu tidak mengajarkan komunikasi untuk anak tuli/ tuna rungu yang sedang belajar mendengar dan bicara. Kalau memang mau memfasilitasi anak untuk komunikasi verbal, butuh banyak hal yang menguras tenaga, waktu dan finansial. Butuh pengorbanan. Bukan cuma bisa membeli alat saja.

Pesan saya, jangan sampai kejadian bisa implan tapi ke belakang hidup menderita karena hutang menggunung. Jangan sampai bisa implan karena donasi tapi berikutnya beli batre, atau kabel tak mampu sehingga alat sia-sia tak bisa dipakai. Siapkan hati dan upaya upgrade juga rentang waktu 6-8 tahun. 

Rejeki memang di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa. Tapi kita sebagai manusia wajib mengukur kemampuan diri. Bukan berarti yang bisa implan hanya yang kaya raya atau tajir mlintir saja. Bukan gitu. Tapi sebaiknya ada yang bisa dihitung dan disisihkan. Jangan sampai mengorbankan anak yang lainnya juga misal sampai sampai gak bisa makan bergizi, atau gali lubang tutup lubang buat bayar hutang. Implan koklea bukanlah satu-satunya jalan untuk membuat anak kita mandiri. Banyak juga contoh pemakai ABD atau yang memilih bahasa isyarat tanpa alat apapun yang mandiri dan sukses berkarir πŸ™ 

Oya, meski ada hal-hal pahit seperti yang saya tulis di atas, jalannya panjang menguras tenaga, waktu, emosi dan finansial, saya tidak menyesal atas keputusan yang saya dan suami ambil dengan berbagai pertimbangan matang. Saya tetap bersyukur atas keputusan itu😊 Setelah melalui perjalanan panjang, saat ini anak saya Aziza sudah sekolah di SD umum bilingual Bahasa Inggris – Indonesia dekat runah. Dia satu-satunya yang tuli/ tuna rungu dan alhamdulillah bisa mengikuti pelajaran. Allah SWT Maha Baik.

Semoga tulisan saya bermanfaat. Amiin

Jakarta, 6 Agustus 2021

Illian Deta Arta Sari (Hp satu-satunya 081282032922)


Baca juga:

Cobaan vs Berkah https://www.google.co.id/amp/s/azizaku.com/2021/08/02/cobaan-vs-berkah/amp/