image
Aziza, 12 Maret 2016

Blog ini kubuat untuk menuliskan perjalanan anak ketigaku, Aziza Sakhia Supriyadi,  agar bisa mendengar suara dan belajar berbicara. Aziza yang lahir 12 Maret 2014 didiagnosa mengalami gangguan pendengaran sangat berat (profound hearing loss) pada 20 Agustus 2016. Hasil tes Berra dan ASSR menunjukkan bahwa dia hanya bisa mendengar suara diatas 110 desibel atau setara deru suara pesawat dari dekat. Dokter mengatakan sel-sel rambut kokleanya mengalami gangguan sejak dia masih dalam kandungan yang diduga karena virus CMV.

Aziza tidak sendirian. Setiap tahunnya diperkirakan ada sekitar 5000-10.000 bayi lahir dengan gangguan ketulian di Indonesia. Bahkan menurut data WHO Multicenter Study tahun 1998, jumlah penderita gangguan pendengaran di Indonesia menempati urutan ke 4 tertinggi di dunia. Peringkat ini tidak berubah di tahun 2016 berdasarkan data Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian  (Komnas-PGPKT).

Oleh karena itu, melalui blog ini aku sekeluarga ingin membuka diri berbagi kisah Aziza dan hal-hal terkait tuli atau gangguan pendengaran. Blog ini semacam diary tentang perjalanan Aziza yang kuharap akan dibaca dia saat besar nantinya. Menulis juga merupakan self-healing buatku dan aku berharap orang lain tidak mengalaminya, atau setidaknya bisa mengantisipasinya.

Untuk orang tua yang baru mengetahui anaknya tidak mendengar, tentu rasanya dunia seperti runtuh. Pasti awalnya semua merasa hancur, bingung, dan sedih membayangkan masa depan anak tercinta. Karena itu, aku ingin memberikan dukungan semampuku karena aku juga telah ditolong banyak pihak.

Hearing loss bukanlah akhir segalanya. Masih banyak harapan untuk bisa terus mendukung anak-anak yang mengalaminya. Begitu banyak contoh penyandang tuna rungu yang berhasil di bidangnya masing-masing. Melalui blog ini, aku sekeluarga juga ingin terus belajar dari para orang tua yang juga mengalami hal yang sama.

Salam hangat

Illian Deta Arta Sari (081282032922)

fb: illian deta arta sari

Instagram: illiandeta