Siang itu, Nina duduk tenang di sebuah sofa. Gadis remaja berumur 16 tahun itu sesekali tersenyum sendiri. Dia tuna netra, tuna rungu, tak bisa bicara, penyandang cerebal palsy dan masih ada disabilitas lain. Dengan kondisinya itu, Nina hanya bisa merespon sentuhan. Saat kuraba tangannya perlahan, dia langsung menarik diri, tapi kemudian tangannya ganti mengelus tanganku, seperti pengen tahu siapa orang yang mengelusnya. Nina hanyalah satu diantara penghuni wisma lain, anak-anak surga.

Hanya sentuhan yang membuat Nina terhubung dengan orang lain.

Sebenarnya sudah lama mau ke sana, tapi tertunda-tunda. Suatu hari pernah membaca brosur tentang Wisma Tuna Ganda ini saat aku ke Rumah Piatu Muslimin. Ternyata memang satu yayasan. Beberapa kali kalau ada teman cari tempat menyalurkan donasi, kuarahkan ke sana juga. Kali ini aku datang menengok sekaligus menyampaikan amanah seorang teman baik yang tak perlu disebut namanya. Wisma Palsigunung tidak susah dicari karena persis di samping jalan raya besar. Tepatnya di seberang kampus Universitas Jayabaya atau samping pabrik Panasonic di Jalan Raya Bogor.

Hari Selasa siang, 13 Desember 2022 sebenarnya ada jadwal sidang di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Tapi sebelum sidang, aku menyempatkan diri nyetir sendirian ke Wisma Tuna Ganda Palsigunung di Jalan Raya Bogor, Km 28,5, Cimanggis, Depok. Memang waktunya mepet. Tapi niat baik harus disegerakan dan pasti ada kemudahan. Sekitar jam 10.30 aku meluncur lalu sampai jam 11.30 dan jam 2 siang sudah duduk manis di ruang sidang. Alhamdulillah jalanan lancar dan semua bisa dijalani dengan baik.

Wisma Tuna Ganda Palsigunung ada di pinggir jalan raya besar.

Saat sampai di sana, penjaga keamanan dengan ramah menyapa dan mempersilahkan masuk. Bangunannya terlihat kuno, seperti rumah jaman dulu. Aku duduk sendirian di ruang tamu sambil melihat-lihat foto para penghuni yang dipasang di pigura. Ruang tamunya berbatasan dengan ruang santai lalu terdapat ruang tidur yang sebagian dapat terlihat dari ruang tamu.Kulihat beberapa penghuni di sana. Rasanya berdesir-desir melihat mereka dari kejauhan.

Waktu aku datang, kepala wisma yaitu Ibu Kristanti sedang bersama belasan mahasiswa yang mau pamitan setelah melakukan kunjungan. Sementara menunggu bu Kristanti, aku ditemani seorang pengasuh untuk berkeliling wisma dan kenalan dengan semua penghuni serta pengasuh.

Sosok yang pertama kutemui adalah Nina, remaja 16 tahun. Kulitnya putih bersih. Dia sudah 10 tahun tinggal di wisma dan entah di mana kedua orang tuanya. Kondisinya yang buta, tuli, tuna wicara, cerebal palsy dan disabilitas lainnya membuatnya sulit berkomunikasi. Bisa kebayang nggak mengajari orang tak bisa melihat dan tak mendengar? Sangat sulit. Cerita keberhasilan tokoh Hellen Keller, tokoh yang tak bisa melihat dan tak bisa mendengar tapi bisa bicara, cerdas bisa sekolah lalu jadi penulis, aktivis dan dosen itu sungguh luar biasa dan seperti sebuah keajaiban. Tentu berkat support luar biasa dari orang-orang sekelliling dan kondisi otaknya tak bermasalah.

Bagi Nina, hanya sentuhan yang membuatnya terhubung dengan dunia luar. Awalnya Nina menarik tangannya saat kuelus. Aku ingin menyapanya dengan satu-satunya cara yang dia tahu yaitu sentuhan. Aku berusaha mengelus pelan lagi, dan dia tersenyum lalu mulai tertawa-tawa mengeluarkan suara, seperti excited ketemu orang baru. Tangannya pun berusaha meraba-raba dan memegang tanganku. Sepertinya mencoba mengetahui siapa aku. Duh.. airmata pun tertahan keluar. Sesekali dari mulut Nina keluar air. Dia ngeces. Dengan sabarnya ibu pengasuh mengelapnya.

Berikutnya aku salaman dengan perempuan yang dipanggil Kak Lena. Umurnya sudah 38 tahun, matanya buta sebelah, mengalami retardasi mental, tuna wicara dan lainnya. Kami duduk tidak berjauhan saat aku bersama Nina. Selama itu Kak Lena memperhatikan aku, senyum padaku. Saat kuajak salaman, dia mengulurkan tangan juga. Dia tak menjawab saat kuajak bicara karena memang tuna wicara. Hanya senyum. Meski kondisinya begitu, Kak Lena cepat tanggap mendekati Nina saat ngeces. Dia pun mengelap dengan hati-hati. Sementara itu, aku mendekati anak di pojokan.

Di pojok ruangan itu ada seorang anak kecil yang sedang sibuk makan. Kulihat di mangkuk plastiknya ada nasi dengan kuah sop dan sosis. Saat aku masuk ruangan, dia sudah dadah-dadah, sesekali curi-curi pandang dan senyum-senyum padaku. Badannya terlihat kecil, seperti anak 4 tahunan. Ternyata umurnya 18 tahun. Duh aku lupa namanya. Menurut ibu pengasuh, ibunya sudah meninggal saat balita lalu singkat cerita dia dibuang oleh Bapak dan ibu tirinya di pinggir jalan begitu saja. Oleh polisi dibawa ke Dinas Sosial yang akhirnya diserahkan ke Wisma Palsigunung karena disabilitasnya ganda atau lebih. Anak ini retardasi mental, tuna wicara, global delay development. Saat kuajak bicara, dia cuma senyam-senyum sambil meneruskan makan.

Dari ruang itu aku masuk ke ruang sebelahnya. Semua ruangan di sana hening, tak ada keramaian atau teriakan. Benar-benar hening. Hanya mendengar pengasuh yang bicara ngajak ngobrol penghuni. Di ruang sebelah kulihat ada gadis kecil yang melihatku tanpa kedip. badannya seperti anak balita. Dari papan nama di dinding, aku tahu anak i tu bernama Ita Puji Astuti. “Halo Ita, ini bu Illian. Sehat yaaaaa,” sapaku yang dibalas pandangan memelas tak berkedip.

Rupanya Ita sudah berumur 26 tahun, dan menghuni wisma sejak 20 tahun lalu. Ita mengalami cerebal palsy, retardasi mental, tuna wicara. Bu pengasuh cerita kalau kedua orang tuanya penyandang tuna netra, dan saat bayi Ita jatuh dari tempat tidur hingga menyebabkan kondisinya parah begitu.

“Dulu Bapak ibunya kadang nengok. Kalau saat ini Bapaknya sudah meninggal dunia, tapi ibunya masih hidup dan sesekali datang mengunjungi Ita. Ibunya tuna netra gitu naik angkot turun di depan Bu. Saya juga suka kasian melihat ibunya naik angkot jauh gitu,” katanya. Duh, terbayang beratnya jadi sang Ibu. Dengan kondisinya yang tuna netra, masih ada anak lainnya dan hidup kekurangan harus berpisah dengan Ita. Semoga Ibunya Ita sehat terus. Ita tentu tahu Bapak ibunya sayang. Dia di sana bukan karena tidak diinginkan keluarga, tapi karena keadaan.

Ita, gadis 26 tahun yang tergolek seperti balita..

Masih di ruangan yang sama ada TV yang menyala. Rupanya ada satu penghuni, namanya Pak Wawan yang sedang menonton tv dan masih memegang remote control. Saat kudekati di samping kasurnya, dia tertawa lebar dan bersuara seperti mau menyapa. Kulitnya kuning terang, bersih, tapi hanya tergolek di kasur, lehernya miring, jari tangan dan kakinya kaku semua. Pak Wawan menderita cerabal palsy, spastik, microchepalus, tuna wicara. Dia kelahiran 14 Agustus 1975 dan sudah menghuni wisma sejak 14 Oktober 1980. Saat kubaca papan namanya,aku makdeg. Sungguh waktu yang panjang untuk hidup tergolek begitu puluhan tahun. Dia tinggal di panti sepanjang umur hidupku yang kelahiran 1980.

“Pak Wawan nih semalam begadang nonton bola,” kata pengasuh sambil memegang tangan Pak Wawan. Dia ketawa-tawa diajak bicara. Dia bersuara berusaha bicara tapi tak jelas dan aku tak menangkap sama sekali apa yang diucapkan. “Kalau nonton bola jangan kemalaman, nanti susah tidur loh,” tambahku. Yang diajak bicara tetap ketawa-tawa, matanya berbinar-binar. Dia terlihat senang dikunjungi, ketemu orang. Lalu aku ijin mengambil fotonya. Dia mengangguk.

Pak Wawan yang hobi nonton bola. Di wajahnya selalu ada senyuman dan wajah tertawa..

Selanjutnya aku masuk ke ruang tidur sebelahnya. Kulihat ada 3 orang sedang di ranjang. Ada Ibnu Rusdi, penghuni wisma yang tertua yaitu 52 tahun. Di sebelahnya ada Leo Poniman umur 49 tahun dan Pak Freddy Manulang umur 46 tahun. Mereka bertiga cerebal palsy, tuna netra, tuna wicara, retardasi mental dan lainnya. Ketiganya tak ada suaranya, hanya rebahan di ranjang. Entah apa yang ada di benak mereka melewatkan waktu demi waktu seperti itu berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu dan bertahun-tahun. Atau mungkin memang tak ada pikiran dalam benaknya. Aku yakin banget, di umurnya yang ke 46, 49 dan 52 tahun itu, tak ada dosa sedikitpun yang dimiliki. Calon penghuni surga.

Aku bertanya ke pengasuh kenapa tangan Freddy dipakaikan sarung tangan begitu. Rupanya pak Freddy secara tak sadar suka menyakiti dirinya sendiri pakai tangan sehingga tangannya dibalut kantung seperti bayi biar mencakar muka atau melukai diri. Saat kulihat papan nama mereka, cukup kaget dengan lamanya mereka di panti. Ya ampuuuuuun, Pak Leo menghuni di sana sejak tahun 1978, Pak Rusdi sejak 1979, dan Pak Freddy sejak 1981. Sungguh waktu yang panjang dan keluarganya menghilang entah di mana. Sedihnya tak ada sanak saudara yang menengok selama belasan atau puluhan tahun belakangan.

Pak Freddy tangannya diberi pelindung. Ranjang jejer dengan Pak Leo dan Pak Rusdi. Ketiganya tuna netra, tuna wicara , cerebal palsy dan tinggal di sana sejak sekitar 1979an.

Masih di ruangan yang sama, ada Wawan, pemuda kelahiran 1999. Wawan mengalami cerebal palsy, mental retardasi, tuna wicara dan autisme – hiperaktif. Kalau orang lain yang tak ada masalah kesehatan, umur 23 tentu lagi seneng-senengnya menjalani masa muda, tapi dia hanya rebahan. Kakinya satu diikat dengan pagar kasur. Kutanya kenapa diikat, dijawab karena wawan kalau bebas kadang bisa membahayakan diri sendiri dengan lari ke jalan raya, atau tenaganya yang besa membuat yang lain kewalahan. Dia nggak sadar dengan tenaganya yang besar kadang bisa menyakiti orang lain juga. Kalau pas sesi terapi, atau belajar dan sesi makan atau ada pendamping stan by, maka tidak diikat. Tidak terus menerus.

Melihat wawan, aku teringat anak-anakku. Di umur 23 tahun, mungkin anak-anakku nantinya tentu lagi seneng-senengnya lulus kuliah S1, kuliah S2 lagi atau lagi seneng-senengnya dapat kerjaan. Tapi Wawan hanya tergolek. Semoga ada peningkatan dan hidup lebih baik buat wawan. Amiiin

Dari ruang tidur, aku diajak jalan keliling ke belakang, menuju ruang dokter dan ruang belajar. Para penghuni meskipun kondisinya memprihatinkan tetap diberi akses belajar apa saja yang memungkinkan. Mereka tiap hari ada jadwal belajar dan selain itu juga ada fisioterapi rutin yang dilakukan. Ada pula dokter dan relawan yang rutin memeriksa kesehatan mereka.

Ruang yang terakhir kukunjungi adalah ruang terapi. Di sana aku ketemu satu-satunya penghuni yang bisa menyahut sapaanku, yaitu Elsa umur 29 tahun. Wajahnya cantik, dan mukanya penuh senyum, ceria. Dia berasal dari Bangka. Awalnya dia tinggal di panti lain. Tapi karena panti lama itu akan tutup, Elsa akan dikembalikan ke Bangka. Sementara saat itu di sana hanya ada panti jompo, bukan panti yang fokus mengurus penyandang disabilitas. Akhirnya Elsa ke Wisma Palsigunung.

“Hai apa kabar?” tanyaku.

Dari atas kursi roda, Elsa menjawabku,” Hai.” Elsa berusaha dadah-dadah melambaikan tangan.

“Sudah makan?”

“Dah.”

“Makan apa?”

“Ian,” kata Elsa berusaha mengucap Ikan.

Elsa terlihat kesulitan mengucap kata karena spastik kekakuan otot yang dialami, termasuk otot di mulut. Tapi dia mengerti perkataan dan berusaha keras menjawabku dengan wajah ceria. Aku mengajak dia foto selfi dan dia memperbolehkan sambil senyum manis sekali.

Selfi dengan Elsa, gadis 29 tahun yang ceria dan penuh semangat.

Di sekeliling Elsa ada anak-anak yang sedang istirahat dari terapi. Mereka tiduran di matras terapi. Tatapan mereka nanar.. Duh.. Semoga ada peningkatan kesehatan dan ada keajaiban buat mereka.

Setelah selesai menyapa semua penghuni panti, aku akhirnya bisa bertemu Bu Kristanti. Dia menjelaskan sejarah wisma Palsigunung yang dulu digagas Ibu J.S. Nasution (Istri almarhum jendral Nasution) yang saat itu menjabar sebagai ketua BPKKS (Badan Pembina dan Koordinasi Kegiatan Sosial) DKI Jakarta. Pengurus PKKS bersepakat dengan ibu Hajjah Sophie Sarwono sepakat membuat Wisma Palsigunung yang diresmikan 2 Maret 1975. Wisma ini adalah panti sosial pertama di Indonesia yang khusus menangani penyandang disabilitas ganda. Dari hasil aku ke sana kemarin, bukan cuma ganda disabilitasnya, tapi mayoritas berlipat-lipat ganda.

Menurut Bu Kristanti, panti pun terbuka apabila para penghuni bisa kembali pada keluarga. Tapi mayoritas memang tak diurus keluarga, tidak ditengok, atau ada yang memang tidak diinginkan bahkan meninggal pun ada keluarga yang tak mau mengurus karena alasan-alasan tertentu. Untuk pembiayaan pun, hanya sekitar 4 penghuni yang masih dapat kiriman keluarganya. Artinya keluarga masih punya tanggungjawab dan keterikatan dengan anak keluarga yang dititipkan.

“Sejak Wisma berdiri tahun 1975, hampir 90% penghuni yang keluar dari wisma karena meninggal baik usia tua atau memang sakit. Bukan kembali pada orang tua,” kata Bu Kristanti yang memang sudah puluhan tahun merawat anak-anak panti jadi tahu persis perjalanannya dan suka dukanya.

Foto penghuni panti. Datang dan pergi, tapi mayoritas pergi karena meninggal dunia.

Bu Kristanti sendiri sudah 32 tahun mengabdikan diri di Wisma karena panggilan hati. Dulunya dia kerja di asuransi. Dia mengatakan yang dilakukan panti memang kecil dibanding dengan jumlah penyandang disabilitas di seluruh Indonesia. Kapasitas panti memang hanya 30 orang, tapi mereka berbuat yang terbaik dan sebaik-baiknya buat para penghuni. Dia berharap tak ada lagi cerita anak dibuang orang tua atau keluarganya.

“Anak adalah amanah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Sudah seharusnya apapun keadaan anak diterima dan menjadi bagian dari keluarga. Jangan sampai anak dibuang, atau diserahkan ke panti begitu saja lalu masalah selesai. Anak butuh kasih sayang orang tua,” katanya. Namun keadaanlah yang membuat ada anak-anak yang tak cukup beruntung tumbuh dan didukung oleh keluarga. Di situlah peran wisma yang terus berbagi kasih, merawat, melatih, dan mendidik para penghuni.

Bersama kepala Wisma Tuna Ganda Palsigunung

Dengan segala keterbatasannya, baik keterbatasan tenaga, fasilitas, atau finansial Wisma Palsigunung ini terus ada bagi para penyandang disabilitas ganda, anak-anak surga yang tak cukup beruntung hidupnya. Oleh karena itu, buat semua teman yang membaca tulisanku ini, kalau ada rejeki silahkan sisihkan dan bantu mereka. Bisa datang langsung sekalian menengok atau transfer melalui:

Bank Mandiri atas nama Wisma Tuna Ganda No rek 129-0000-127-031

Demikian cerita singkat kunjungan ke Wisma Tuna Ganda Palsigunung. Buatku, dengan mengingat mereka membuatku terus bersyukur, mengingatkan untuk tak banyak mengeluh dan diingatkan untuk terus berbagi ats rejeki yang didapat. Yuk berbuat baik pada sesama selagi masih hidup. Terima kasih

Berbagi takkan membuat kita berkurang atau kekurangan.