img_4338Kapanpun dan kemanapun Aziza pergi, selalu saja ada yang melihat kepala Aziza tanpa kedip, atau bahkan melotot. Tak jarang, orang berbisik-bisik yang tetap saja kudengar. Malukah aku? Tidak.. ย Marahkah aku? Juga tidak.. ๐Ÿ˜Š

“Mama, mama.. itu apa yang dikepalanya anak itu?” kata seorang anak umur 12 tahunan dibelakangku saat antri di mall. Saat aku menengok, ibunya tampak gugup merasa tak enak. “Maafkan anak saya,” katanya.

Aku pun menjawab bahwa tak perlu minta maaf. Kemudian aku melihat ke arah anaknya. “Anak tante ini kurang bisa mendengar, jadi perlu dibantu alat ini,” kataku. “Sama seperti orang yang matanya tidak jelas melihat, terus dibantu pakai kacamata,” tambahku. Dia pun manggut-manggut sambil tetap melihat kepala Aziza.

Pada lain waktu, aku bertemu wali murid temannya anak pertamaku. “Adek lagi ndengerin musik apaaaa..,” katanya sambil senyum sumringah menyapa Aziza. ย Kemudian dia berpaling padaku. “Bu, anak kecil dengerin musik pakai gituan nggak apa-apa telinganya?” tanyanya polos.

Sepertinya ibu itu berpikir Aziza sedang memakai headset untuk mendengarkan musik seperti yang banyak dipakai anak muda jaman sekarang.. Mungkin dia khawatir gendang telinga Aziza bisa rusak karena headset.

Lagi-lagi aku nggak marah dengan komen seperti itu. Justru aku mau ketawa tapi kutahan karena nggak mau menyinggung. Aku sangat maklum atas ketidaktahuannya.

Kemudian kujawab,” Aziza nggak ndengerin musik bu. Dia nggak bisa mendengar dari lahir tapi baru ketahuan.” Kusampaikan juga kalau aziza baru operasi implan. Lagi-lagi ibu itu minta maaf dan kujawab tak perlu minta maaf. Selanjutnya ibu itu bertanya tentang faktor penyebab dan kujelaskan tentang bahaya TORCH yang dia tak pernah tahu sama sekali.

Suatu hari lainnya, aku ke bank ketemu customer service (CS). Mbak CS officer itu melongo melihat Aziza.๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ Sepertinya baru pertama kali seumur hidupnya melihat alat yang Aziza pakai.

“Kepalanya kenapa bu,” tanyanya penuh rasa heran sambil melayani aku. Kujelaskan bahwa Aziza pakai perangkat sound processor. “Kok itu bisa nempel?” tanyanya terlihat takjub.

Marahkah aku? Tidak perlu sih.. Kujelaskan lagi dan mbak CS terus melayani sambil terus bertanya karena ketidaktahuannya. “Saya kena virus CMV saat hamil,” kataku. Rupanya mbak CS yang ayu dan masih single itu pun juga tak tahu soal TORCH.

Kemudian kujelaskan singkat sambil berpesan agar tes TORCH dulu sebelum program hamil. Lebih baik mencegah dari pada mengobati yang bakal memakan tenaga, waktu dan pikiran serta finansial yang sangat banyak kalau ada apa-apa. “Punya anak diffabel itu nggak mudah mbak,” kataku sambil senyum menutup penjelasan saat sudah selesai urusanku.

Tatapan mata heran, tanpa kedip, bahkan terbelalak bukanlah hal baru. Bisik-bisik dan pertanyaan-pertanyaan itu juga sudah muncul sejak Aziza memakai ABD 23 September 2016.

Memang tampilan Aziza terlihat beda. Di kota besar Jakarta saja, pemakai ABD atau sound processor masih menjadi perhatian, gimana kalau di desaaaaaaa?

Rambut Aziza saat ini masih sangat pendek kiri kanan bekas cukuran operasi. Karena itu perbedaan tampilan Aziza sangat mencolok. Dengan sound processor dan baterai yang besar dibelakang telinga, kabel dan coil yang nempel di kepala, Aziza tampak seperti robot. Iya, robot cilik yang cantik. Hehehe..

Coil berbentuk bulat seukuran uang receh Rp 500an itu nempel tanpa pengait apapun. Tampak ajaib buat yang belum pernah melihat atau tak tahu tentang implan.

“Kok bisa nempel,” kira kira itu yang ada dibenak orang-orang yang takjub dengan coil Aziza. “Wow.. ajaib..”๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜ณ hehehe..

Kadang ada juga yang nanya-nanya harga. Biasanya kujawab “mahal banget” sambil nyengir. Kalau tetap masih pengen tau banget harganya ya baru kukasih tau. Biasanya ekspresinya kayak syok banget.

“Hah? Bisa buat beli mobil atau rumah kecil ya,” komen beberapa orang. Ada juga yang komen uangnya bisa buat naik haji beberapa kali. Aku pun mesem. Biar nggak dikira tajir mlintir ya kubilangin, “Saya juga dibantu banyak teman kok wong saya ya nggak kaya raya.. ahamdulillah dicukupkan,” kataku.

Seringkali aku nggak menunggu orang bertanya dulu. Kalau sekiranya ada orang melotot tanpa kedip di dekatku, atau malah mendekat saking penasarannya, aku langsung memberitahu secara singkat apa yang ada di kepala Aziza. Kalau seluruh tetangga Alhamdulillah sudah tahu semua kondisi Aziza karena dia tiap hari jalan-jalan keliling kampung dan main dengan anak-anak tetangga.

Implan Koklea seri CI24RE merek Cochlear yang ditanam di kepala Aziza sudah menjadi bagian tubuhnya untuk seumur hidup. Tentu, pasangan luar implan itu juga jadi bagian tubuh Aziza meski yang luar bisa di upgrade dengan teknologi terbaru.

Aku tak malu menjelaskan kondisi Aziza pada orang-orang yang menatap aneh atau penasaran padanya. Sikapku kutunjukkan di depan aziza agar dia belajar tidak malu dan tegar dengan kondisinya. Suatu hari nanti, saat besar dia sendiri yang harus menghadapi pandangan orang itu.

Aku berusaha ngajari Aziza supaya tidak sebal atau marah dengan pandangan orang atau pertanyaan-pertanyaan yang terus muncul. Raut mukaku slalu senyum setiap ada yang nanya. Yang kuajarkan pada aziza adalah kalau ada orang yang tidak tahu ya dikasih tahu. As simple as that.

Justru pada orang-orang yang penasaran dengan alat Aziza, aku bisa memberi tahu orang lain soal bahaya TORCH yang faktanya banyak yang tidak tahu, tidak peduli atau berpikir tak mungkin kena. Kusampaikan juga perlunya tes pendengaran pada anak saat bayi agar kalau ada apa-apa tidak terlambat.

Sudah tak terhitung aku njelasin tentang alat Aziza, kenapa Aziza tuli, apa itu TORCH, bahayanya dan gimana mencegahnya. Buat yang maen ke rumah, tentu pernah dengar “ceramahku” soal itu hihihi..

Aku menjelaskan semua itu berulang-ulang dan semoga aku tak lelah menyampaikannya. Buatku, sharing pengalaman atau berbagi informasi soal hearing loss ini adalah bagian ibadah kecilku agar orang lain tak mengalami hal yang sama. Bukankah salah satu amal jariyah adalah ilmu yang bermanfaat? Dan pengalaman adalah guru yang terbaik. Semoga pengalamanku bisa menjadi pengetahuan dan pembelajaran buat orang lain.

Keadaan Aziza yang menjadi pusat perhatian di mana-mana cukup membuatku sadar bahwa aku setidaknya harus tampil oke saat keluar bersamanya. Orang melihat Aziza tentu juga akan melihat emaknya. Ya kan? Hihihi.. So, aku tak boleh lagi tampil kusut, kusam, awut-awutan lagi…. hehe.. piiiiiiis.. (harap maklum dengan ending tulisan ini ya.. hehehehehehe) ๐Ÿ˜œ

illian Deta Arta sari

Baca juga:

Akhirnya Saat Operasi Itu Tiba

Pro Kontra Koklea Implan dan Kenapa Kami Memilihnya

Bersyukur

Anakku Aziza Tuli Karena Virus CMV.. (Waspadai TORCH di Sekitar Kita)

Kasih Bapak Sepanjang Masa..

Bangkit dari Kesedihan..