img_4014
Detik-detik Menjelang Operasi

Pernah naik roller coaster? Gimana kalau naiknya 7 jam? 😬Buatku, rasanya seperti naik roller coaster selama 7 jam tanpa henti saat aku menunggu operasi koklea implan Aziza, anak ketigaku. Antara senang banget, cemas, takut, gak sabar pengen cepat selesai, berdebar-debar, dan kadang nafas terasa hilang. Air mata pun deras mengalir..

Sebenarnya operasi di kedua telinga Aziza hanya berlangsung sekitar 4 jam. Namun, sesudah itu ada proses menunggu Aziza bangun dari bius total dan dipantau reaksinya karena justru efek bius yang harus diwaspadai.

Aziza menjalani operasi tanggal 9 Desember 2016, tepat pada Hari Anti Korupsi Sedunia. Di tahun-tahun sebelumnya, emaknya ini selalu merayakan hari anti korupsi dengan terlibat di berbagai kegiatan seperti  aksi membentangkan giant banner di KPK, karnaval, konser musik, jalan sehat, atau konferensi press. Kali ini, tahun 2016, emak tiga anak ini duduk dengan derai air mata di luar ruang operasi dari jam 7.30 pagi hingga jam 14.30.

Rasa hati sebenarnya sudah nggak karu-karuan sejak dokter menentukan jadwal operasi. Hari Senin, 5 Desember kami dapat jadwal kepastian jadwal operasi pada Sabtu 10 Desember. Namun hari Rabu sekitar maghrib, Direktur Medis RSCM yang juga menangani Aziza menelpon saat beliau sedang dinas di Bali.

“Bu, hari Sabtu (10/12) ruangan operasinya ternyata tidak bisa dipakai ada general cleaning. Gimana kalau operasinya dimajukan hari Jumat (9/12)?”, tanyanya. “Kalau iya, besok malam saya balik ke Jakarta dari Bali,” lanjutnya. Saya pun mengiyakan. Deg… langsung tarik nafas panjang.

Tak lama kemudian, dokter bedah Aziza, Dr Harim juga menelpon setelah beliau dikontak Dr Ratna. Akupun curhat kalau sudah dag dig dug nggak karuan.  “Nggak usah khawatir Bu. Ditenangkan hatinya. Bismillah,” kata Dr Harim ngademin hati.

Telpon kutrima hari Rabu petang, artinya untuk operasi Jumat, Aziza harus sudah mulai opname hari Kamis, keesokan harinya. Semua baju-baju sudah kami persiapkan seminggu sebelumnya jadi malam itu kami tak melakukan persiapan lagj. Yang terberat adalah mengatasi perasaan. Darah ini pun rasanya berdesir-desir.. serius, itu yang kurasakan.. 😢

H-1 Operasi

Kamis pagi, sejak subuh kami bersiap-siap dan ngecek semuanya lagi. Semua mengantar Aziza ke RSCM kecuali yang ngemong Aziza, simbah Ndiyah yang sudah berumur 75 tahun. Mamahku ikut juga ke rumah sakit dan kakak-kakaknya, Kumara serta Nararya pun ijin tak masuk sekolah demi mengantarkan Aziza.

Sebelum ke RSCM, kami mampir dulu ke Kasoem Hearing Center di Cikini. Kami ke sana untuk memperbaiki kontrak karena sebelumnya kami tandatangan kontrak beli 1 alat implan. Seminggu sebelum operasi, kami berubah pikiran dan memutuskan operasi di dua telinga Aziza.

Urusan administrasi di RSCM cukup cepat tanpa antri dan Aziza bisa masuk kamar sekitar jam 12 siang. Untungnya anak ini tidak pernah rewel dan meringankan gundah orang tuanya. Setiap kali diajak ke RSCM dia selalu ceria. Dia biasanya kadang nangis sebentar saat diperiksa dokter atau suster. Tapi itu wajar, tidak sampai ada drama meronta-ronta nggak karuan..

Aziza adalah pasien BPJS dengan fasilitas Kelas I. Tapi untuk operasi implant ini, Aziza dapat kamar kelas III jalur fast track atau operasi cepat. Meski fasilitas kelas III, ruangannya nyaman, bersih, ber AC dan kasurnya yang bisa naik turun pakai hidrolik.

Dulu aku membayangkan kamar kelas III  itu kayak kelas kambing banget: panas tanpa AC, kasur keras dan bau, terus bangsalnya los gedhe yang ramai pasien. 😅😅. Ternyata aku salah kira. Kelas III RSCM nyaman meski muat untuk 6 pasien.. 😊

img_3161
Aziza di Ruang Fast Track, Kelas III

Kamis sore, aku dan suami mencukur rambut Aziza kanan kiri selebar 5 cm dari telinga. Aziza kami ajak dalam proses nggunting rambutnya biar dia tidak ketakutan. Duh trenyuh liat dia senyum-senyum senang memotong rambutnya sendiri.

Malam itu, dia sudah mulai diinfus. Dia tidur berdua denganku di atas kasur rumah sakit sedangkan suamiku pulang. Alhamdulillah dia tidur nyenyak meski dua kali bangun minta susu trus nangis sebentar pas liat tangannya dibalut perban.

Hari Besar Itu..

Tibalah hari yang ditunggu. Sejak bangun pagi jam 4 dinihari, jantung ini terus berdetak kencang. Duh Gustiiii..tik tok tik tok tik tok.. waktu terus berjalan.. Aku hanya istighfar terus..

Aziza kumandikan jam 5 pagi karena dia sudah harus siap jam 6 pagi. Aziza terlihat cantik dengan baju mandi putih dengan gambar pink..  😭😭😭.. emaknya terus berusaha nahan airmata agar tak terlihat di depannya. Di depan Aziza, aku slalu berusaha senyum. Dia biasanya ikutan nangis kalau liat aku nangis. Bapaknya Aziza kemudian datang jam 5.30.. kami elus-elus Aziza.. kami terus ajak bicara dan main.

img_4288
Pagi hari di kamar, menunggu pindah ke ruang operasi

Operasi adalah hal yang kami tunggu dan kami perjuangkan sejak Aziza dapat second opinion tes Bera/ASSR dll tanggal 20 September 2016. Sejak itu semua proses kami jalani. Aziza mondar-mandir ke RSCM hampir tiap hari atau dua hari sekali bertemu banyak dokter seperti dr spesialis anak, dr spesialis anestesi, dr neurology, dr tumbuh kembang anak, dr jantung anak dan juga dr infeksi. Berbagai tes pun dijalani Aziza satu-satu.

Prosesnya memang panjang krn semua prosedur tes harus dilalui. Nggak semua anak tuli bisa dioperasi implan juga. Soal prosedur, kalau bukan BPJS, proses bisa lbh cepat. Tapi kan BPJS gratis. Kalau bayar sendiri antara Rp 50-80 juta total dari persiapan sampai operasi. Tak apalah panjang dikit pakai BPJS. Hehe 🙆🏻 😊

Meski operasi adalah yang kami tunggu sejak beberapa bulan, tetap saja hati nggak karuan saat hari H itu tiba. Melepas anak ke atas meja operasi itu bukan hal mudah. Rasanya seperti melepas anak ke ‘medan perang’. Iyaaaaa.. perang di atas meja bedah. 😱.

Sempat ada rasa takut saat sebelumnya mendengar ada kasus kematian paska operasi implan di Jawa Tengah. Kasus itu adalah satu-satunya kasus kematian dalam operasi implan koklea di Indonesia.

Beberapa sumber yang kubaca dan dokter yang kutemui menjelaskan bahwa operasi implan aman. Namun yang namanya bius ya tetap bius.. operasi apapun resiko bius tetap ada. Karena itulah kami tandatangan dua berkas: persetujuan tindakan operasi dan persetujuan bius total.

Dokter bedah Aziza, Dr Harim mengatakan operasi ini bisa dikatakan lebih aman daripada operasi amandel. “Whatttttt???”, batinku 😅😅. Beliau menjelaskan bahwa kemungkinan meninggal dalam operasi implan sangat keciiiiil sekali. Jauh dibanding kecelakaan di jalan. Apa lantas kita nggak naik kendaraan? 😎

Tetep saja yang namanya emak-emak, berat membayangkan operasi di kepala, kulit kepala disayat, tulang tengkorak Aziza di bor, pengeboran tembus sampai ke dalam, jalan alat koklea yang diimplan berdekatan dengan syaraf wajah, trus dimasukin alat sampai ke dalam rumah siput. 🙄 Huff..

Semua hal bisa terjadi, dan kami percaya pada dokter-dokter RSCM akan melakukan yang terbaik. Ini sebuah ikhtiar, tentu semua atas ijin Allah SWT. Bismillah.. Yang bisa kulakukan bersama suami saat nunggu di luar ruang operasi adalah berdoa, berdoa dan berdoa agar semua lancar. Daaaan air mata ini terus bercucuran.

Di depan audiologist Kasoem dari Filipina, Ruth, aku terus mewek. “I know that she will be okay. But i can’t stop crying,” kataku sambil dleweran air mata.. huhuhuuuuu 😭😭..

Sekitar jam 12.00, Dr Ratna didampingi beberapa dokter dan suster keluar dr ruang operasi. “Alhamdulillah operasinya sudah selesai. Sekarang lagi dijahit lukanya,” kata dokter Ratna. “Alatnya tadi juga sudah dicoba dan bekerja dengan baik”, tambahnya..

Pukul 13.00, suamiku diminta masuk ke ruang pemulihan. Tinggal aku sendiri menunggu. Untung ada bu Lisa, yang menunggui Shalom, anaknya yang juga sedang dioperasi. Shalom ada masalah cairan di kepalanya. Anak cantik dan pintar yang berumur 5 tahun ini sedang menjalani operasi untuk yang ke 12. Anaknya tegar dan ibunya juga sangat tegar. Senang ada teman curhat..

Meski dah lega Aziza sudah sadar, tapi tetap saja aku dag dig dug karena aku belum ketemu dia langsung.

Jam 14.30, Aziza keluar ruang pemulihan operasi dengan didorong diatas tempat tidur. Aziza tampak tenang.. Nggak ada mewek-meweknya sama sekali.. Bahkan sampai di kamar, dia berusaha duduk sendiri. Mungkin dia sedikit teler karena efek biusnya sama sekali belum hilang..

img_3311

Setelah sejam masuk kamar, dokter syaraf datang mengecek apakah wajah Aziza perot alias mencong apa tidak. Alhamdulillah semua oke.. Mata Aziza masih kedip bersamaan, dan senyumnya simetris.. Lega.. 🙆🏻🙆🏻

Jam 15.00an Aziz minta makan. Dia pasti kelaparan karena sudah puasa. Dia makan terakhir hari Kamis jam 7 malam sebelum tidur. Artinya sudah 20 jam dia puasa.. Makannya lumayan banyak plus minum susu kaleng kesukaannya.

Seneng liat dia lahap makan. Tapiiiiii tak lama kemudian sekitar jam 17 dan 18 sore dia muntahkan apa yang dia makan. Tak hanya makanan dan susu yang keluar. Tapi darah kental jugaaaaaaaaa… dag dig dug lagi emak ini.. Langsung lapor suster dan dokter datang.

Esok harinya jam 6 pagi, Aziza masih muntah bercampur darah lagi.. Kami pun panik. Selanjutnya dokter jaga menghubungi dokter Ratna yang kemudian pagi harinya datang. Karena ada muntah bercampur darah, Aziza tidak boleh pulang Sabtu agar bisa terus diobservasi. Jadwal kepulangan pun mundur menjadi Minggu. Dokter menjelaskan bahwa itu darah sisa operasi saja bukan pendarahan di kepala.

Secara fisik, Aziza memang langsung segar bugar paska operasi. Bahkan sudah langsung minta jalan-jalan keluar kamar pada hari sesudah operasi. Akhirnya Aziza tidak muntah lagi dan Minggu pagi dia bisa pulang dari rumah sakit. Senangnyaaaa.. Alhamdulillaaaaah..

Baca juga:

Pro Kontra Koklea Implan dan Kenapa Kami Memilihnya

Bersyukur

Anakku Aziza Tuli Karena Virus CMV.. (Waspadai TORCH di Sekitar Kita)

Bangkit dari Kesedihan..

Kasih Bapak Sepanjang Masa..

img_4287
Minggu Pagi (11/12). Pulaaaaaaaaang