Hari ini tunai sudah tugasku menyampaikan amanah Yenni Meilina Lie. Tadi aku ke rumah Fathir. Dia berumur 4 tahun dan seharusnya riang gembira lari-larian seperti anak kecil lain. Tapi dia tak bisa dan hanya tergolek di tempat tidur. Air mataku menetes dan menetes. Kelak, surga tempatmu nak..

Namanya Muhammad Fathir. Putra kedua mbak Nur Santi. Dia lahir 30 Agustus 2014, tak begitu lama setelah ultah anakku Aziza.

Fathir tinggal bersama orang tuanya, nenek dan kakaknya di sebuah kontrakan kecil di kawasan padat penduduk di Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta. Kontrakannya cuma berupa satu kamar ukuran 4×3 meter persegi.

Ibunya bercerita, waktu dia masih di kandungan, dokter sudah mendiagnosa Fathir mengalami gangguan pertumbuhan seperti hydrochepalus. Karena ukuran kepalanya sangat besar, Fathir lahir melalui operasi caesar.

“Saat Fathir lahir, dokter menaruh dia di dada saya. Tapi saya tak boleh melihat,” kata Nur Santi. Dokter khawatir Nur Santi akan shock dan bisa pendarahan.. Setelah lahir, Fathir pun haris melewati 2 bulan di inkubator.

Rupanya fisik Fathir tak seperti anak lainnya.

Fathir lahir tanpa tangan kanan, dan tangan kirinya cuma sampai pergelangan tangan. Tangan kirinya itu tak punya bagian telapak tangan dan jari-jari. Tulang rusuk dadanya juga tak menutup sempurna seperti umumnya sehingga dari luar terlihat ada bagian yang cekung.

Kepala Fahir mengalami Hydrochepalus yaitu kondisi menumpuknya cairan di otak. Kepalanya penuh cairan mendesak syarat otak dan urat-uratnya terlihat jelas dari kulit kepalanya yang menipis. Ungu, biru, hijau dan merah. 😢😭.

Saat ini kepala Fahir sudah sebesar ukuran bola. Untuk mengangkatnya butuh kehati-hatian ekstra karena berat di area kepala. Kepalanya yang terus membesar juga makin menarik area wajahnya ke atas. Saat ini kedua bola mata Fathir sudah tak berfungsi sama sekali. 😢 Hidungnya ketarik ke atas sehingga terlihat jelas bagian dalam hidung yang basah, begitu juga mulutnya

Bocah mungil ini tak bisa menutup mulut sama sekali karena bibir tak sempurna dan rahangnya tertarik ke atas. Ke manapun ibunya menutup mulut Fathir dengan masker agar tak kemasukan debu atau barang kecil yang bisa masuk.

Dari mulutnya yang terbuka itu terlihat jelas lidah dan amandelnya. Ada juga selang Naso Gastric Tube/ NGT yang terpasang untuk minum susu. Fathir tak bisa menekan makanan dan minuman sendiri.

Anak kecil yang berkulit putih bersih ini juga mengalami cerebral palsy atau kelumpuhan otak jenis spastik atau kaku-kaku pada tubuhnya. Kakinya kaku menyilang begitu juga tangan kirinya.

“Setiap hari pasti ada kejangnya satu kali,” kata Nur Santi. Karena itu harus ada yang mendampingi Fathir setiap waktu.

Menurutnya, pihak tim dokter RSCM lintas spesialis yang diketuai seorang profesor sudah mengambil keputusan tak bisa melakukan operasi apapun untuk menangani kondisi hydrochepalusnya. Dokter tak bisa memasang shunt atau selang yang terhubung dari kepala hingga ke pembuangan perut karena Fathir tak punya tempurung kepala 😢. Ada beberapa pertimbangan dokter juga misalkan dikhawatirkan anak ini kejang atau meninggal di atas meja operasi.

Karena tak dipasangi shunt, cairan yang terus diproduksi Fathir akan bertambah dan tak bisa terbuang. Kepala Fathir akan terus membesar dan mendesak otaknya. Entah sampai kapan Fathir bisa menanggungnya. 😢

“Saya juga nanya ke dokter apakah bisa disedot?” kata ibu Fathir. Ternyata tak sesederhana itu untuk menangani Hydrochephalus yang dialami Fathir. Penyedotan tak bisa dilakukan karena ini ada di otak dan kondisinya sudah parah jadi butuh operasi besar.

Karena tak ada yang bisa dilakukan untuk kepala Fathir, saat ini Nur Santi sudah pasrah dan ikhlas menjalani hari-hari dengan Fathir. Dia tetap berdoa semoga ada keajaiban.

Fathir tidak bisa melihat dan tidak bisa bergerak seperti anak lain. Dia pun tak bisa bersuara sama sekali. Tadi kuelus-elus tangannya saat tidur. Batas antara tidur dan terjaga sangat tipis, nyaris tak terlihat. Tanda dia terjaga adalah matanya berkedip-kedip atau tangan dan kakinya bergerak-gerak.

Tak lama aku di sana, dia bangun. Lalu kucium pipinya dan kelopak mata atasnya kedip-kedip. Dia merespon ciumanku. Kulihat air matanya meleleh lalu ibunya mengusap dengan tissue.

Tadi kubisikkan doa-doa. Aku yakin Fathir mendengarku. Yakin banget. 😭 Allahu Akbar.

Melihat Fathir, sungguh yakin surga menantinya dan juga dia akan membawa orang tuanya yang ikhlas merawat.. Aku peluk ibunya dan aku bilang surga menantinya juga..

“Fathir anak kuat. Surga buatmu nak.. Ibu illin datang, nanti akan datang lagi.”

Jakarta, 23 November 2018

—— NB ——-
Buat teman-teman yang punya rejeki lebih, yuk bantu anak ini. Buat yang mau bersyukur sudah diberi keluarga yang sehat lantas mau berbagi, bagus sekali juga. Buat yang hidupnya masih banyak ngeluh, buka mata buka hati.. Lihat sekeliling.

Kebutuhan Fathir adalah susu pediasure triplesure vanila, diapers, minyak telon dan juga ongkos transport mondar-mandir ke RSCM rutin seminggu sekali. Anak yang pertama juga sudah SMP, tentu penghasilan yang tak seberapa makin mepet karena kebutuhan Fathir banyak.

Silahkan hubungi ibunya langsung di fb messenger ibunya yang kumention di atas, atau hubungi aku untuk nanya nomor hapenya. Kalau mau kuantarkan titipannya, atau transfer bareng melalui aku dengan senang hati kusampaikan amanahnya. WA ku 081282032922 🙏

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mempermudah kesulitan orang lain, maka Allah ta’ala akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat.” (HR.Muslim)