6fbaa30f-751b-4f4e-9abf-6660c0fed6a4
Tadi liat foto Aziza jalan bergandengan tangan sama Noel anak pak Amani Aaron Manik sesama pemakai implan koklea. Mereka seperti dua robot yang imut. 😊 Trus aku ingat sebuah dialogku dengan sesama ortu, sebut saja Kembang, Bunga dan Puspa di kesempatan yang beda. Narasinya biasa tersebar di dunia online dan offline di kalangan anti implan..

Kembang : “Saya menerima takdir anak saya tuli, karena itu saya memilih bahasa isyarat”.
Bunga: “Anak yang terlahir tuli tak usah dipaksa mendengar dan berbicara. Terima saja takdir Tuhan.”
Ada juga Puspa yang berbahasa verbal dengan Alat Bantu Dengar (ABD) tapi tetap menganggap implan itu salah. “Tak usah implan, ABD bisa kok. Tak usah mengubah yang diciptakan Tuhan.”

ME: “Loh, saya juga menerima takdir anak saya terlahir tuli. Semua yang kenal saya pasti tau anak saya tuli, tuna rungu, atau mengalami gangguan pendengaran. Saya tak pernah sekalipun menyembunyikan keadaan anak saya. Dari awal sudah saya buka. Saya tak malu punya anak tuli. Saya memilih implan bukan berarti saya menolak takdir. Tapi implan adalah ikhtiar saya dan suami untuk memberi kesempatan anak saya agar bisa mendengar dan belajar berbicara.” 😇🙏

Menerima takdir itu tidak hitam putih. Berbahasa isyarat atau berbahasa verbal itu sama baiknya. Begitu juga berbahasa verbal dengan ABD, Implan atau lips reading tanpa alat sama sekali. Itu pilihan. Tak perlu merendahkan pilihan lain. Hidup tidak Hitam dan Putih. Melakukan implan koklea tidak sama dengan melawan takdir.😊

Kudedikasikan status ini buat semua anak implan dan orang tuanya agar tidak galau kalau dituding menolak takdir atau melawan takdir. 😘😘😘😘😘

NB: judul gak sesuai badan tulisan gak apa-apa hihihi..