image

Tulisan Nurvita Indarini di Detik.com, Kamis, 22/09/2016

Selama ini Illian Deta Arta Sari tidak pernah menyangka keterlambatan bicara si kecil terkait dengan gangguan pendengaran. Dia hanya menyangka anak ketiganya yang belum juga bisa bicara itu seperti anak keduanya yang juga terlambat bicara. Hanya saja si anak kedua ketika mulai bisa bicara, langsung berbicara dengan kata yang panjang-panjang.

Perempuan yang akrab disapa Illin ini sempat membawa anaknya ke terapis wicara. Namun katanya harus mendapat rekomendasi dari dokter tumbuh kembang terlebih dahulu.

Illin kemudian merasa aneh karena si kecil yang bernama Aziza itu tidak pernah menengok saat dipanggil. Bahkan saat dikejutkan dengan teriakan, Aziza juga tidak kaget.

Rasa penasaran itu membuat Illin menelusuri dunia maya, mencari tahu apa yang terjadi pada anaknya. Hingga muncul dugaan yang membuatnya sedih. Sepertinya Aziza hidup dalam hening alias tidak bisa mendengar.

Akhirnya Illin dan suaminya membawa Aziza ke dokter spesialis telinga hidung dan tenggorokan (THT).Sejumlah tes pun dijalani Aziza. Tes tympanometry, BERA/ ABR, ECochg, AASR dijalani. Hasil tes menunjukkan Aziza memiliki gangguan pendengaran berat atau profound hearing loss.

Ternyata Aziza hanya bisa mendengar di level lebih dari 110 desibel. Itu setara dengan suara pesawat terbang, mesin pengebor jalan ataupun petir.

“Mendengar itu rasanya seperti tersambar petir. Saya nggak pernah punya pengalaman begini, tidak punya teman begini. Jadi ini benar-benar hal baru buat saya,” tutur mantan aktivis di Indonesia Corruption Watch (ICW) ini.

“Sebagai ibu yang ninggalin cukup lama dan baru ketemu dua mingguan rasanya shock, campur aduk,” imbuhnya.

Ya, Illin terpaksa meninggalkan si kecil karena harus menempuh S2 di University of Melbourne lantaran mendapat beasiswa Australia Award dari Pemerintah Australia. Berat rasanya kala itu meninggalkan Aziza yang baru 9 bulan. Tapi mengingat Illin tinggal sendiri, tidak memungkinkan mengajak ketiga anaknya.

Ketika akhirnya Illin sudah menguasai medan di Australia dan memutuskan bisa membawa anak-anaknya, sang suami menyarankan agar Illin membawa 2 anak tertuanya saja. Karenanya ketika pendidikannya selesai lebih cepat, Illin buru-buru kembali ke Indonesia.

Tapi baru dua minggu berkumpul bersama Aziza, ada hal berat yang harus dilewati. “Di usia 2 tahun lebih baru diketahui anak saya ada masalah pendengaran. Selama ini kalau saya nyanyi Nina Bobo rupanya dia nggak pernah dengar,” imbuh Illin dengan suara tercekat.

Agar Aziza bisa mendengar seperti anak-anak lain, dokter menyarankan untuk dilakukan cochlear implant surgery. Tapi itu pun tidak semudah membalik telapak tangan. Karena butuh biaya yang tidak sedikit, setidaknya Rp 240-600 jutaan. Tentu ini bukan angka yang kecil bagi Illin yang kini tidak bekerja dan suaminya yang pegawai negeri sipil (PNS).

“Di saat saya down, ketemu dengan beberapa orang. Ada Pak James yang anaknya juga nggak bisa mendengar, malah nggak dengar sama sekali. Anaknya menggunakan implan koklea di tahun 2000 saat masih bayi. Sekarang anaknya sedang summer school di Harvard University,” tutur Illin.

Illin juga mendapat suntikan semangat dari Gouri Mirpuri, istri mantan Duta Besar untuk Indonesia yang anaknya juga menggunakan implan koklea. “Keduanya memberikan support yang sangat berarti di saat aku down banget saat awal tahu kondisi Aziza. Mereka membuat aku optimistis bahwa ini bukan akhir dari segalanya,” sambung Illin.

Kata Illin dia memiliki sedikit simpanan uang yang didapat dari pesangon, juga sisa uang kontrakan dan asuransi saat tinggal di Australia. Namun simpanan itu tidak cukup untuk membeli perlengkapan implan koklea. Alhasil dia pun berupaya menjual mobilnya, sayang selama ini yang menyatakan keseriusan membeli menawarkan harga yang sangat rendah alias tidak wajar.

“Saya tadinya juga mau pinjam bank. Cuma teman-teman bilang nanti bayarnya gimana kan saya nggak kerja, cuma suami saja. Akhirnya mereka ada yang saweran dan Selasa lalu teman saya minta nomor rekening dan menyebarkan pesan donasi,” tutur Illin sembari mengucap terimakasih.

“Saya sebagai orang tua hanya ingin memberi kesempatan buat Aziza untuk bisa mendengar dan menjadi seperti apa yang dia mau. Dengan implan koklea, saya berharap dia bisa mendengar suara-suara yang selama ini kita anggap biasa,” tambahnya.