IMG_3103

Untuk pertama kalinya, dua wakil anak Tuli Indonesia mengikuti ajang children camp sedunia. Keduanya adalah Yusi Aprilia (10 tahun) asal Pontianak dan Udana Maajid Pratista (13 tahun) asal Magelang yang berangkat ke Buenos Aires, Argentina Kamis siang (5/4). Mereka adalah anak-anak yang berbahasa isyarat.

Kedua anak itu didampingi oleh Laura Lesmana Wijaya (23 tahun), ketua Pusbisindo (Pusat Bahasa Isyarat Indonesia) yang juga penasehat kepemudaan tuli di Gerkatin (Gerakan Untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia).

Acara perkemahan internasional ini rutin diadakan per 4 tahunan oleh World Federation of the Deaf Youth Section (WFDYS) yang ada di bawah World Federation of the Deaf, lembaga yang mendapat status konsultatif oleh Perserikatan Bangsa Bangsa. Namun baru kali ini ada peserta Indonesia yang berangkat ke sana.

Menurut Phieter Angdika, ketua Gerkatin  kepemudaan, keikutsertaan delegasi Indonesia penting sekali karena Indonesia mengalami krisis kepemudaan Tuli.

“Masih banyak Tuli yang kurang percaya diri, kurang berani, belum sadar tentang identitas Tuli,” tulis Phieter dalam pesan whatsappnya.

Aktivis Tuli yang masih kuliah di Sanata Dharma Yogyakarta jurusan Sastra Indonesia itu juga miris dengan situasi masih banyak orang Tuli yang hanya di rumah saja. “Banyak juga yang tidak diperbolehkan untuk keluar karena keluarga khawatir mengenai ketuliannya,” tambah Phieter. Padahal Tuli bisa mandiri, berkarya, dan berprestasi asal ada kesempatan dan dukungan.

IMG_3108
Yusi, Udana dan Laura saat berada di bandara Soekarno Hatta, Jakarta akan terbang menuju Argentina Kamis (5/4).

Di acara children camp ini, Udana dan Yusi akan menimba ilmu dari pembicara yang berasal dari berbagai negara, mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan komunitas Tuli, sharing dengan sesama peserta dari negara lain dan tentu akan mempresentasikan budaya, situasi dan organisasi Tuli Indonesia.

“Mereka akan belajar memperjuangkan hak-hak masyarakat Tuli,” tulis Phieter.

Pemilihan Udana dan Yussi sebagai wakil Indonesia juga melalui proses seleksi melihat keaktifan, dukungan orang tua dan juga wawancara. Jadi pemilihannya bukan asal tunjuk. Beberapa pertanyaan yang diajukan misalkan berhubungan dengan pemahaman tentang ketulian dan kemampuan seperti kesiapan mental, kemampuan berinteraksi kepada siapapun, dan sanggup menerima tantangan.

Udana saat ini sekolah di SLB B Karnnamanohara Yogyakarta. Dia aktif berkegiatan diantaranya di Deaf Art community. Sedangkan Yusi masih kelas 3 SD yang berasal dari Pontianak. Pendamping mereka adalah Laura yang sudah menamatkan kuliahnya di Chinese University of Hongkong dengan beasiswa dari the Nippon Foundation.

IMG_3109
Yusi, Udana dan Laura foto bersama beberapa teman yang sudah mendukung. Ada Tyo kopi Tuku, Bayu Oktara, Aulion Youtuber Aulion dan timnya, Surya Sahetapy, mbak Fania dari kitabisa.com, Tim Gerkatin Pusat dan Tim Gerkatin Kepemudaan.

“Kami berharap wakil dari Indonesia nantinya menjadi role model, regenerasi kepemimpinan dengan mengajar, dan memberdayakan orang Tuli,” papar Phieter. Rencananya Gerkatin juga akan mengadakan acara camp serupa untuk orang Tuli di Indonesia di tahun 2019

Pembiayaan

Biaya untuk mengikuti perkemahan di Argentina ini tidaklah sedikit. Total yang dikeluarkan sekitar 150 juta untuk membiayai pendaftaran, visa, pasport, tiket pesawat, transportasi lokal. Untuk mewujudkannya, mereka menggunakan banyak cara dibantu begitu banyak pihak selama beberapa bulan.

Mereka menggunakan crowd funding (pembiayaan publik) melalui Kitabisa.com, mengajukan proposal pendanaan ke donatur perorangan atau perusahaan, dan juga berjualan souvenir. Mereka juga berkolaborasi dengan organisasi atau artis dan membuat acara yang hasil penjualan tiketnya disumbangkan.

Beberapa pihak yang menyumbang misalnya Bupati Magelang Zaenal Arifin dan juga pengelola Taman wisata Borobudur, Prambanan dan Candi Boko.

IMG_3115
Beberapa macam usaha penggalangan dana publik yang dilakukan.

Keberangkatan wakil Indonesia sangat melegakan banyak pihak. Salah satunya adalah ibunda Udana yaitu Iis Arum Wardhani. “Senang banget akhirnya bisa berangkat,” kata IIs.

Ibu tiga anak itu menceritakan betapa perjalanan persiapannya panjang, berbulan-bulan. Awalnya mereka bekerja keras untuk mengumpulkan uang. “Sedikit demi sedikit kami kumpulkan melalui bermacam cara,” katanya.

Setelah uang didapat, urusan pendaftaran, tiket pesawat dan lainnya beres, pengurusan visanya ternyata sempat tak mulus dan mendebarkan. Sekitar satu bulanan Visa belum kepegang. Padahal tim sudah mondar-mandir ke Kedutaan.

“Makin mendekati hari H kami sempat dag dig dug soal keberangkatan ini karena Visa tak kunjung selesai,” kata Iies. Dia juga sempat bingung karena kedatangan Udana, Yusi dan laura di Buenos Aires sehari sebelum acara.  Iis khawatir , saat tiba anak-anak harus kemana. Dia takut anak-anak itu terlantar di sana.

Saat itu tanggal 25 Februari Iies menghubungi saya untuk menghubungkan dengan pihak Kedubes Indonesia di Argentina. Saya kemudian share di grup Whatsapp teman-teman dekat saya dan mendapat bantuan dari Inggita Notosusanto. Dia adalah seorang aktivis kebhinekaan dan antikorupsi yang juga putri mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, almarhum Nugroho Notosusanto.

Inggita saat itu juga langsung mengontak temannya, seorang diplomat di Buenos Aires dan menghubungkan dengan tim Gerkatin.

Akhirnya pihak Kedutaan Indonesia untuk Argentina bersedia membantu dari penjemputan di bandara, penginapan transit sebelum masuk camp.  Ibu Duta Besar Indonesia juga bersedia menemui saat wakil Indonesia ini tiba di sana.

Pihak Kedubes Indonesia di Argentina juga membantu pengurusan visa dengan mengeluarkan surat untuk Kedutaan Argentina di jakarta. Berikutnya proses lancar. Bahkan wakil anak Tuli dan keluarganya ini disambut baik saat wawancara di kedubes Argentina.

“Saat di Kedubes Argentina, kami dijamu kayak tamu penting banget, ” kata Iis terdengar senang. Dia bercerita ditawarin minum apa saja. Padahal pengurusan visa pada umumnya tidak seperti itu. “Saya sampai nanya ke teman-teman memangnya kalau bikin visa ditawarin minum pilih sendiri ya,” katanya lugu sambil tertawa.

Pertanyaan wawancara pun tidak sulit seperti yang dibayangkan. “Waktu wawancara, salah satu pertanyaannya bagaimana kok bisa kenal dengan ibu kedubes,”  tambahnya.

Yusi, Udana, Laura bersama keluarga bersama diplomat Argentina saat pengurusan visa di Jakarta.

Ibunda Udana menceritakan bahwa anaknya sangat antusias mengikuti perkemahan ini. “Udana mengungkapkan seneng banget mau ketemu teman-teman baru,” kata Iis yang bekerja sebagai perawat ini.

Perempuan asal Magelang ini sangat terharu dan bangga akhirnya Udana bisa berangkat.
Dia berharap semoga ketika kembali nanti mereka menjadi pribadi yang lebih menghargai orang lain karena mereka berangkat bukan karena usaha mereka sendiri.

“Saya berterima kasih pada begitu banyak orang yang tak bisa disebut satu-satu yang tidak pernah berhenti mendukung dalam doa untuk mereka,” pungkasnya

 

Jakarta, 6 April 2018

Illian Deta Arta Sari (081282032922). Ibu dari Aziza (4 tahun), profound hearing loss dan memakai implan koklea sejak 9 Desember 2016.

————–

Berikut ini ungkapan kesan, pesan, harapan dan dukungan dari berbagai pihak atas keberangkatan Udana, Yusi dan Laura:

Tyo Kopi Tuku
Tyo pertama kali kenal dengan teman-teman tuli karena dipertemukan dalam sebuah workshop membuat kopi untuk anak tuli. Dari sanalah silaturahmi terjalin hingga teman-teman tuli mengajak teman lainnya berkunjung ke toko dan menjadi pelanggan Tuku.

Tyo mengatakan tidak perlu alasan khusus untuk mendukung keberangkatan Yusi dan Udana. “Saya sekedar ingin membantu teman dan tetangga kami yang ingin menimba ilmu dan memberikan manfaat untuk orang yang lebih banyak dalam hal ini dikhususkan untuk pengembangan tuli di Indonesia,” katanya.

Dari hubungan pertemanan yang terjalin, mendengar cerita suka dan duka tema tuli, mendengar rencana impian mereka, Tyo ingin bisa berkontribusi lebih. Sebagai teman Dengar dia ingin menyiapkan sebuah sarana lapangan pekerjaan buat pengembangan karir teman tuli.

AulionYoutuber 
“Aku rasa teman-teman Tuli juga bisa mendapatkan apa-apa yang udah aku dapetin selama ini. Bisa mengakses pendidikan, pekerjaan, dan bisa berkarya,” kata Aulion. Oleh karena itu dia mau mendukung Yusi dan Udana untuk bisa menyebarkan pengalamannya disana kepada teman tuli lainnya, dan menginspirasi semua di Indonesia supaya hak-hak Tuli bisa diperjuangkan.

Pesan teman komunitas Tuli Yogya dan Magelang (Alit, Davie, Kiki, Wahyu, Rizky)
Kegiatan children camp WFDYS ini bukan hanya untuk Udana, Yusi dan Laura bisa pergi ke Argentina saja. Tapi bagaimana kegiatan ini bisa menyadarkan anak-anak Tuli lainnya bahwa mereka bisa mempunyai kesempatan yang sama dengan orang dengar.

Kegiatan ini diharapkan juga menyadarkan orang tua bahwa anak-anak Tuli pun bisa mandiri. Tidak ada bedanya anak Tuli dengan anak Dengar. Tuli bisa berkarya seperti orang Dengar. Tuli hanya tidak bisa mendengar.

Bima, ketua Gerkatin Solo
“Saya senang mereka bisa berangkat ke Argentina karena anak anak tuli Indonesia pede terhadap orang tuli dari luar negeri. Pulangnya nanti bisa berbagi pada teman-teman tuli di Indonesia,” tulisnya. Dia berharap ketiga wakil ini akan tetap meneruskan perjuangan generasi anak tuli muda di indonesia

Rieka, ketua Akar Tuli Malang
“Saya dukung Udana, Yusi dan Laura karena mereka membawa nama Indonesia dan akan terbuka wawasannya tentang tuli di dunia,” tulisnya. Dia berharap mereka nanti berbagi ilmu dan sharing pengalamannya sehingga bisa motivasi untuk anak-anak Tuli Indonesia

Andhika, ketua Decop (Deaf Community of Pati)
“Semoga Udana, Yusi dan Laura bisa mendapat banyak ilmu dan manfaat di sana,” tulisnya. Dia berharap mereka nanti menjadi penanggung jawab untuk Tuli Indonesia nanti kalo sudah besar.

Kurnia Khoirul Candra, ketua Tuli Temanggung Bersenyum
“Saya mendukung keberangkatan wakil Indonesia ke Argentina karena berharap ada penerus atau generasi Tuli yang bagus, mandiri, kepemimpinan dan percaya diri sehingga memberi teladan yang tepat untuk Tuli,” tulisnya.

Hafidh pilot DAC (Deaf Art Community) Yogyakarta
“Saya ingin pintu impian adek-adek Tuli makin terbuka lebar dan bisa mencapai cita-cita yang baik sekaligus menjadi penerus generasi Tuli selanjutnya Indonesia,” tulis Hafidh. Dia berharap Udana dan Yusi bisa menginspirasi teman-teman yang lain dalam mencapai hal yang diinginkan.

Ade, ketua BDC (Bali Deaf Community)
“Saya akan terus mendukung adik-adik Tuli untuk membawa harum nama Indonesia dimata dunia dan membuka jaringan dengan teman-teman baru dari negara lain,” tulisnya.

Eldo, ketua Akar Tuli Sidoarjo
“Saya berharap adik-adik yang berangkat bisa menginspirasi Tuli lainnya. Mereka dapat pengalaman baru, belajar kepemimpinn juga,” tulisnya.

Ade, teman Yusi di komunitas WBDC West Borneo Deaf Community

“Saya senang Yusi dan Udana yang masih anak-anak membawa harum indonesia. Semoga motivasi untuk orang tua dengar anak Tuli,” tulisnya

Bunga, Ketua KARTU Surabaya
“Saya dukung keberangkatan wakil Indonesia ke Argentina karena mereka anak-anak Tuli yang percaya diri. Semoga banyak belajar ilmu-ilmu yang bermanfaat di sana,” tulis Bunga

Dia berharap setelah kembali ke Indonesia anak2 bisa berbagi ilmu dan sharing-sharing pengalaman untuk anak-anak tuli muda Indonesia, mengembangkan anak2 muda2i Tuli Indonesia, tetap menerus generasi anak Tuli Muda hebat di Indonesia yang kita cintai.

Selamat belajar Yusi, Udana dan Laura.

NB: proses wawancara dengan berbagai sumber dibantu oleh Iis, ibu Udana.

IMG_3108