image
Aziza tertidur saat membuat kartu BPJS

Sebelum aku mengurus operasi implan koklea buat Aziza, aku nggak pernah menggunakan kartu BPJS atau Askes. Cerita suram dan stigma miring terhadap jaminan kesehatan nasional ini membuatku dulu tidak pernah memakai kartu yang kami punya sebagai keluarga PNS. Sekarang aku menggunakannya dan melihat serta merasakan sendiri bahwa nggak semua stigma buruk itu benar. Justru aku sangat terbantu. Makasih be pe je eeeeees.. Hehe

Di media online atau media sosial, yang lebih sering kubaca karena ter-blow up media atau menjadi viral adalah kisah sedih pasien atau hujatan terhadap BPJS. Aku tidak menampik fakta bahwa di lapangan, masih banyak permasalahan dalam penggunaan jaminan kesehatan nasional ini. Misalnya saja kasus layanan rumah sakit yang buruk terhadap pasien BPJS sehingga pasien terlantar atau meninggal, sulitnya pasien mendapat kamar, masalah prosedur, biaya pelayanan kesehatan yang tidak ditanggung atau relasi rumah sakit dengan BPJS soal pencairan dana. Kadang agak rancu, masalahnya di rumah sakit atau di BPJSnya? Memang, semua itu harus dibenahi paralel agar semua orang di Indonesia mendapat pelayanan yang baik nantinya.

Kalau diamati, nilai positif jaminan kesehatan ini jarang muncul entah di media atau di medsos, sehingga banyak yang memandang miring. Ya contohnya aku ini dulu. “Ke Puskesmas? Duh males antrinya. Obatnya meyakinkan nggak sih? Bukannya obat murahan? Pake BPJS? Wah takut diperlakukan seenaknya, nggak dilayani dengan baik seperti orang lain,” pikirku dulu. hehe..

Banyak juga komen bernada sama yang kujumpai di fb atau di media termasuk yang gengsi “Ke Puskesmas? duh enggak banget. Please deh.. ” hehe.. Memang stigma bahwa pakai BPJS seperti orang susah masih banyak kutemui dikalangan teman-teman sendiri. hehe.. Padahal entah kaya atau pas-pasan, semua bisa pakai BPJS. Ya tho? Yang membedakan adalah kelas kamarnya saja kalau dirawat sesuai kartu yang dimiliki.

Ya mungkin saja banyak yang mikir negatif seperti aku karena nggak banyak yang menuliskan cerita positif menggunakan BPJS. Buat para pasien yang sudah merasakan manfaatnya, mungkin mereka tidak bisa atau tidak ada waktu menulis. Tapi rasanya miris  kalau baca ada orang yang menyuruh orang lain untuk berhenti BPJS karena ada cerita kasus buruk yang lagi ramai. Faktanya, jaminan kesehatan ini telah membantu ribuan atau jutaan masyarakat. Karena itulah, aku nulis pengalamanku sendiri pakai BPJS untuk yang pertama kalinya.

Selama mondar-mandir mengurus persiapan operasi Aziza, aku bertemu banyak orang yang menggunakan BPJS. Di RSCM, aku melihat wajah-wajah orang yang tak putus asa berobat sendiri, mengantar teman atau mengobati anak maupun keluarganya . Untuk membunuh waktu antri, biasanya para pasien saling mengobrol, saling sharing dan mendukung. Sudah tidak terhitung berapa keluarga pasien yang mengobrol denganku karena aku ke RSCM sangat sering sekali untuk mengurus persiapan operasi Aziza.

Saat antri registrasi, aku bertemu bapak tua pensiunan yang humoris bercerita rutinitas bulanannya ke RSCM karena sakit gula. Ada juga yang operasi pasang ring jantung hingga Rp 300 juta yang dicover BPJS. Di klinik anak, banyak sekali keluarga yang kutemu. Semua tetap semangat meski kondisi anak-anak mereka jauh lebih parah dari Aziza.

Aku pernah duduk bersebelahan dengan orang tua dari bayi yang lahir tak punya langit-langit mulut dan dioperasi pembuatan langit-langit sampai yang ke 3 kali gratis, ada anak kecil yang dioperasi kepalanya karena ada tumor, ada bayi hydrochepalus atau anak yang mau cangkok mata. Pada intinya, mereka bilang “Untung bisa gratis pakai BPJS mbak. Kalau harus bayar, kami nggak tau bayar pakai apa.”

Seorang ibu dari anak dengan down syndrom yang klep jantungnya bocor dan gangguan organ dalam juga mengatakan selama BPJS tak pernah ada masalah. Justru suster RSCM lah yang menyuruhnya membuat kartu karena perjalanan akan panjang dan uangnya akan banyak sekali kalau biaya sendiri. “Anak saya sudah dioperasi by pass jantungnya dan rutin kontrol serta terapi medik mingguan. Kalau dirupiahkan sudah ratusan juta mbak,” kata ibu itu dengan mata berbinar.

Antrian Demi Antrian..

Sebelum aku pakai BPJS, aku dulu memeriksakan Aziza pertama kali di RS swasta SS Medika Salemba. Tentunya gak pakai antri panjang seperti di RSCM. Untuk dua kali bertemu dokter dengan tes pendengaran Aziza, bayarnya ya lumayan. Sesudah itulah aku baru buat Kartu Indonesia Sehat karena mikir biaya operasi dan beli implan koklea cukup mahal.

Untuk periksa, memang prosedur BPJS harus berjenjang dari pukesmas dulu. (Coba bayangkan kalau tidak berjenjang, tentu banyak pasien akan menumpuk di satu Rs favorit misalnya). Tentu lah di puskesmas pakai antri.. hehe.. Kalau darurat baru bisa langsung ke rumah sakit. Dari puskesmas, dapat surat pengantar ke RSUD. Saat itu, Aziza di rujuk ke RSUD Budi Asih di Cawang. Esoknya, kami baru ke RS tersebut karena Aziza capek antri panjang. Nah, di Budhi Asih ketemu antrian lagi. Pendaftarannya antri dulu, terus antri lagi menunggu giliran pemeriksaan. Sesudah itu, dapat surat rujukan dan antri lagi untuk dapat cap eligibilitas peserta BPJS. (Catatan: bawa bekal buat menemani dari antrian ke antrian plus jangan lupa bawa stok sabar juga hehe..)

Setelah mendapat rujukan, kami nggak langsung ke RSCM karena kami sudah lelah. Jadinya kami ke RSCM keesokan harinya. Kami datang jam 7 pagi karena di sarankan teman. Kami salah ikut antrian di pengguna BPJS umum. Saat suami, aku dan Aziza sampai, antrian sudah mengular. “Whaaaaaaat.. apa iniiiiiiih”, kataku dalam hati sambil nyengir saat datang pertama kali ke RSCM jam 7 pagi dan lihat antrian 200an orang. Bukan orang ding yang antri, tapi dokumen dalam map-map. hehehe.. Untunglah diberi tahu kalau untuk pasien anak dan lansia, ada jalur khususnya sehingga kami tidak harus antri panjang.

image
Salah ikut antri ‘dokumen’ pasien BPJS jam 7 pagi. Hehehe.. Syukurlah untuk anak kecil dan lansia, antriannya dibedakan.

Sebagai pasien BPJS yang sering mondar-mandir ke RSCM, aku makin terbiasa dengan antrian. Tentu semua itu untuk tertib administrasi. Dari pendaftaran hingga pemeriksaan ataupun persetujuan petugas BPJS untuk dilakukan pemeriksan penunjang (pemeriksaan laboratorium, MRI, CT Scan dll) atau rawat inap semua harus antri dari klinik ke klinik, dari loket ke loket lain. Menurut aturan RS, setiap kali ke rumah sakit, pasien harus selalu daftar agar terdata. Pendaftaran hari H hanya berlaku untuk hari itu saja. Jadi ya setiap datang harus siap stamina.

Karena prosedur birokrasi harus dijalani ya mau nggak mau kujalani. Daripada stress aku mencoba menyesuaikan dengan ngobrol ke kanan dan kiri tempat duduk antrian. Kami para pasien biasa saling ngobrol, atau bercanda disetiap antrian. Ada yang bercanda “di sini, yang menunggu orang sakit bisa jadi ikutan sakit lho mbak kalau  sabar ngantri,” katanya sambil mringis. Iya juga siiih..

Kalau mau berobat di RSCM ya memang harus antri karena pasiennya banyak. Maklum tho zaaaaaa, rumah sakit ini paling lengkap dan perharinya menerima ribuan pasien dengan berbagai keluhan dari berbagai daerah juga. Sebagai pengguna BPSJ, sabar harus disiapkan dan siapkan fisik untuk ngurus prosedur ini itu sejak awal.  Kalau nggak sabar ya bisa edyan sendiri.. Hehe.. Beberapa kali kulihat ada orang ngomel-ngomel terus sambil nunggu antrian. Ada juga ibu-ibu yang marah-marah kasar banget sama pasangan karena capek antri. Duh.. sabar buuuk… sabaaaar..

Buatku, aku maklum harus menunggu antrian karena pasien RSCM sangat banyak. Semua juga sakit, semua juga ingin ditangani cepat. Tentu yang datang belakangan harus menghormati mana yang datang duluan. Paling sebel kalau ada yang nerobos antrian atau nyelipin formulir ditumpukan. Satu yang ku lihat, pelayanan RSCM baik, serta tak ada diskriminasi buat pengguna BPJS. Selain itu fasilitasnya juga bagus dan alat-alatnya relatif banyak yang baru atau selalu di update.

Aku sendiri merasa banyak hikmah dari proses antri mengantri ini. Aku banyak bertemu orang, dan belajar makin bersyukur.  Aku melihat banyak orang tua dengan beban lebih berat dari Aziza tapi tetap sabar dan penuh semangat. Melihat perjuangan mereka, rasanya tak pantas aku mengeluh tentang kondisi Aziza yang ‘hanya tuna rungu saja’ dan masih bisa diupayakan.

Terlepas dari semua masalah pelaksanaan jaminan kesehatan nasional ini, yang jelas aku sangat terbantu dengan BPJS. Dari awal periksa di RSCM tanggal 12 September 2016 hingga hari ini, aku nggak mengeluarkan uang sepeserpun.  Yang sudah dijalani Aziza adalah tes tympanometry, Berra, ASSR, OAE, CT scan, MRI, tes darah, termasuk tes TORCH lengkap (Igg serta Igm). Aziza sudah bertemu dokter-dokter THT, dr spesialis anak, dr spesialis tumbuh kembang anak, dr jantung anak, dr anestesi. Perlu dicatat, semuanya gratis-tis, dan dilayani dengan baik. Semoga yang masih skeptis atau tidak percaya BPJS hanya karena membaca brita miring bisa mempertimbangkan untuk segera membuat BPJS, atau memakainya kalau perlu. Makasih RSCM. Makasih BPJS.. (Aku bukan iklan BPJS loh ya.. hehe).

illian deta arta sari (081282032922)

Baca Juga:

Akhirnya Saat Operasi Itu Tiba

Aziza, Telinga Robotnya dan Pandangan Mata Orang..

Pro Kontra Koklea Implan dan Kenapa Kami Memilihnya

Bersyukur

Anakku Aziza Tuli Karena Virus CMV.. (Waspadai TORCH di Sekitar Kita)

Kasih Bapak Sepanjang Masa..

Bangkit dari Kesedihan..