Lulus kuliah, aku langsung kerja jadi wartawan hukum di kantor pusat Jawa Pos Surabaya di akhir 2003. Ibarat besi, dulu aku digebuki eh maksudnya ditempa ya di Surabaya. Hehe 😬Banyak banget pelajaran hidup, banyak suka plus dukanya. Hingga selanjutnya aku pindah ke Jakarta dan menginjakkan kaki di Surabaya terakhir tahun 2006.

12 tahun sudah aku nggak ke Surabaya, dan baru kali ini datang lagi bersama Aziza.. Pas turun di bandara Juanda, rasanya maknyes. Beneran mengharu biru 😍.

Dulu cinta banget sama Surabaya dan pengen nikah, hidup dan beranak pinak, tua di Surabaya. Hehe.. Tapi nasib membawaku ke Jakarta setelah redaktur nasional masImam Syafii dan mas Kurniawan Muhammad menugaskan ke Jakarta. Eh malah terus ketemu jodoh di Jakarta, nikah, beranak tiga dan tinggal di Jakarta hingga sekarang. 😬 Tapi tetep, Surabaya selalu di hati.

Kerja di Jawa Pos juga memberi tanda fisik buatku. Dulu aku pulang jam 12 malam naik motor dan jatuh karena ada lubang di jalan yang gelap. Saat itu aku pakai helm full face (helm cakil pembalap) rapet dan diklik pengamannya. Tapi saking kencang motorku dan kerasnya benturan ke aspal, helmnya lepas. Alhamdulillah gak kehantam truk karena jalan yang kulalui lintas kota. Alis kananku sobek, dan dapat 7 jahitan. Dulu wajah sebelah kananku hancur, bengkak dan bibir jontor. Untung pipi kembali mulus (hehe.. soal pipi penting banget ditulis ini πŸ™ˆ ).

Saat jadi wartawan hukum di Surabaya, rutinitas tiap hari bisanya dimulai dari mampir ke Rumah Tahanan kelas I Surabaya / Rutan Medaeng kemudian ke Mahkamah Militer, Kejaksaan Tinggi, dan Pengadilan Kelas 1 Surabaya. Kadang ke penjara militer yang ajaib gak ada pagarnya dan napi bebas saja beraktifitas di dalam pagar tanpa kekhawatiran ada yang kabur. πŸ™ˆπŸ™ˆ.

Hampir semua sipir, dokter dan kepala Rutan semua kenal baik. Bahkan beberapa tahanan atau napinya juga baik hehe. Ada satu tahanan yang istrinya hamil, dan pas lahir anaknya dikasih nama ILLIN. Masih ingat suatu hari main ke rumah istrinya dan sang nenek memanggil ILLIN kecil. “illlin sini mandi dulu,” kata nenek. Aku brasa geli dengernya. Hehe (kebayang gak sih? 😬😍😍) Pengen banget ketemu ILLIN junior yang sekarang sekitar 14 tahun. Tapi aku kehilangan kontak dan saat ini tak sempat mencari di daerah Krian Sidoarjo. Semoga suatu hari bisa ketemu ILLIN. Amiin

Dulu pernah ditawari dibantu masuk hakim oleh hakim di Pengadilan Tinggi Jawa Timur yanh sangat terkenal se Indonesia Raya 😬 (sebut saja pak XXX). Tapi aku kok nggak sanggup jadi hakim πŸ™ˆ. Pernah pula ditawari rumah oleh pejabat Kejaksaan Tinggi di sana karena aku sering nulis soal kenakalan jaksa di sana.. (Sebut saja Kumbang.. πŸ™ˆ). Pak Kumbang nanya “Jadi wartawan gajinya berapa sih? Sudah punya rumah belum? Gimana kalau saya belikan rumah?”. Hehe 😬 Aku saat itu umur 24 tahun. Rumaaaaaah 😍😬. Ya kutolak sih..

Semalam pas di Jawa Pos sayangnya gak bisa ketemu mas pemred Nur Wahid, tapi bisa ketemu mbakyuAnda Marzudinta,Kardono Ano Setyorakhmadi, Priyo Handoko, Agus Muttaqin , @suaminya Erina Melani, mas Hud, mas Oni, mas Ari, mas Dos dll 😍😍😍. Pulangnya diajak menyusuri jalanan Surabaya di malam hari sama mas Direktur JTV yang ngehits banget. Hehe.. Seneng banget, nget nget nget.

Liat videonya yaaaa