Banyak teman yang kaget saat tahu biaya mengurus gigi Aziza total mencapai sekitar 16 juta, seharga motor baru. Mungkin banyak yang menganggap gigi gigis bagi anak-anak adalah hal biasa, otomatis lepas sendiri jadi tak perlu sampai segitunya ngeluarin duit. Baiklah, kuceritakan saja. Ini bukan soal gigi semata. Tapi juga soal kesehatan dan kepercayaan diri Aziza yang kami bangun susah payah tapi tergerus karena gigi.

Aziza dalam kondisi terbius.

Dulu sebelum Aziza menjalani operasi implan koklea pada Desember 2016 sehingga bisa mendengar, dia adalah sosok yang pemalu, tak percaya diri, dan sangat penakut. Bahkan dia tak bisa salaman dengan orang baru. Biasanya dia akan sembunyi dibalik kaki emak bapaknya. Dia pun tak bisa masuk ke tempat baru yang dia tak familiar. Berkali-kali kuajak berkunjung ke rumah teman, dia selalu menangis dan bisa tahan berjam-jam nangis terus sambil berusaha menjauh dari rumah yang kami datangi.

Aziza kecil sungguh seperti katak dalam tempurung.

Setelah mendengar dengan implan koklea dan rutin terapi, semakin besar dia semakin tumbuh jadi anak ceria, dan penuh percaya diri. Dia jadi terbiasa bertemu dengan orang lain, cerewet, tak malu menyapa dan bertanya ini itu. Kalau melihat panggung, dia tak segan naik panggung, ngoceh di depan mic atau foto-fotoan. Dia tak peduli dilihat orang saking pedenya. hehe.. Sungguh perubahan sikap 180 derajad dari Aziza yang dulu.

Begitulah, Aziza seperti berubah dari kepompong menjadi kupu-kupu yang terbang bebas.

Tapi di awal tahun 2020, saya melihat ada keanehan. Saat mandi, dia sering mengaca dan melihat 4 gigi atasnya yang keropos menghitam. Sejak itu, setiap kali ada yang berbicara menyebut kata “gigi” dia sensitif dan mimik mukanya berubah murung. Bibirnya pun jadi mingkem rapat.

Saya tak habis pikir kenapa giginya hancur. Kami sangat jarang beli pemen atau coklat. Minumpun dia suka teh tawar. Dia sikat gigi juga rajin tidak terlewat. Putus ngedot sejak bayi karena kami biasakan pakai sendok lalu gelas. Entahlah..

Pada bulan Januari, terlihat ada benjolan putih di gusi atas, dekat giginya yang keropos. Saya pikir itu sariawan biasa. Tapi kok tak kunjung hilang. Lalu kami bawa dia ke dokter gigi. Aziza sungguh tak nyaman masuk ruangan dokter gigi dengan berbagai peralatannya itu. Dengan penuh perjuangan, dia saya peluk, dipegangi dan dokte pun bisa melihat kondisinya.

Rupanya ada nanah karena infeksi gigi atasnya yang rusak. Infeksi karena gigi keropos mencari jalan dan jebol di gusi. Kira-kira gitu deh penjelasan sederhananya. Karena infeksi itu, gigi tak bisa dicabut. Harus menunggu pecah dulu dan diminta datang dua minggu kemudian. Kami pun diminta rontgen gigi.

Ternyataaa, setelah dua minggu benjolan nanah itu tak hilang. Eeeeeh malah muncul benjolan nanah satu lagi. Jadi dua. Duh Gustiiiii..

Lagi-lagi dengan penuh perjuangan kami bawa ke dokter gigi dekat rumah. Aziza masih berontak dan nangis. Tenaganya kuat sekali dan dia mingkem semingkem-mingkemnya tak mau buka mulut untuk diperiksa. Dokter pun memberi alternatif penanganan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Yarsi yang ada pembiusan sedasi untuk kasus anak yang susah seperti Aziza agar rileks, painless dan tidak menimbulkan trauma.

Dengan kondisi Aziza seperti itu, tentu tak mudah pakai BPJS yang harus mulai di Puskesmas/ faskes pertama. Perlu diketahui, BPJS hanya bisa menangani 1 gigi per kedatangan/ per hari. Jadi bisa kebayang dengan banyaknya problem gigi Aziza, tentu bakal mondar mandir belasan kali. Belum soal dia tak kooperatif karena ketakutan pada yang berbau-bau dokter gigi. So, pilihan ke RS swasta bukan karena gengsi atau punya buanyak duit. Tapi melihat kondisi Aziza.

Akhir bulan Maret, saya bawa Aziza ke RSGM Yarsi sambi membawa hasil rontgen. Dokter gigi pun menyiapkan jadwal penanganan semua gigi Aziza. Ternyata sudah keburu ada pengumuman PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan rumah sakit pun tutup. Kami pun legowo menunda pencabutan gigi-gigi Aziza dan tertib berdiam di rumah.

Kami kira PSBB berjalan cepat. Ternyata PSBB berjalan bulan April, Mei, dan Juni.. Selama masa PSBB itu, gigi permanen Aziza terus bermunculan. Rasanya berpacu dengan waktu.

Gigi susunya sangat kuat tak mau tanggal, sementara gigi baru sudah waktunya tumbuh dan terhalang. Akhirnya beberapa muncul nembus gusi, miring. Gigi-giginya balapan. Saya dan suami nggak habis pikir, di keluarga kami tak ada yang giginya berantakan seperti itu. Tak ada yang (maaf) giginya miring tonggos juga. Kok Aziza begitu.. Aku kebayang Aziza giginya miring-miring ke depan dan gak beraturan gituuuuuu. hiks.

Duh.. sungguh menyedihkan melihat dua gigi gedhe muncul nembus gusi atas. Melihatnya saja sudah teriris-iris.

Ternyata Aziza pun menyadari keanehan giginya. Saat di kamar mandi, kuperhatikan dia suka mengaca sambil melihat giginya. Gigi permanennya tumbuh di gusi atas dan 4 gigi atasnya hitam. Sedangkan gigi bawah ada dobel muncul gigi-gigi baru dan gigi susu masih ada. Gigi bawah terlihat jejer-jejer dobel.

Efeknya adalah, saat bicara dengan orang lain dan tiba-tiba mata lawan bicara melihat ke arena mulutnya, Aziza langsung saja sadar lalu berhenti bicara, mingkem. Kadang dia masih mau bicara sambil bibirnya berusaha nutupin gigi sehingga ngomongnya aneh. Bahasa tubuhnya pun terlihat tak nyaman, mimik mukanya terlihat sedih.

Aziza memang mulai terlihat girly. Dia suka ngaca sambi menyisir rambut atau meminta rambut dikuncir, dikepang atau pakai jepit. Lagi fase suka ayu-ayuan dia. hehe

Yak dia minder.

Tak hanya sensi apabila dilihatin, apabila dia mendengar ada orang lain bicara dan menyebut kata “gigi” dia jadi sangat sensitif lalu bisa nangis. Pernah saat terapi, terapisnya menyebut kata gigi, dia pun terlihat sedih dan mogok. Sungguh terlihat nyata banget perubahan sikapnya.

Sungguh, rasa percaya dirinya tergerus karena gigi.

Karena masalah itu, dan tak mau ada masalah kesehatan atau sakit pada area mulutnya kami pun memutuskan segera mengurus gigi-gigi Aziza. Alhamdulillah RSGM Yarsi sudah buka di akhir Juni dan kami bisa dapat Jadwal tanggal 2 Juli. Sebelumnya Aziza menjalani tes darafm tes swab dan photo thorax pada hari Jumat 26 Juni.

Hari “H” Tiba

Hari operasi gigi itu pun tiba tanggal 2 Juli 2020. Di pagi hari kami tak mengatakan pada Aziza. Saya, suami, kakak-kakak Aziza yaitu Kumara dan Nararya bersiap lebih dulu dan terakhir baru membangunkan Aziza. Dia tak boleh berlama-lama di rumah sejak bangun agar tak minta makan karena harus puasa 6 jam sebelum operasi gigi.

“Mau pergi kemana mami? Ini masih pagi?” tanyanya.

Kujawab kami semua mau jalan-jalan. Tapi dia sudah merasa ada feeling beda. “Aku sehat mami. Aku sudah disuntik. Hidung dan lidah gak ada virus,” katanya yang bermaksud menceritakan tes darah dan tes swab Corona yang dia jalani beberapa hari sebelumnya.

Kami pun siap-siap masuk mobil. Saya jalan cepat sambil membawa hasil photo thorax Aziza. Rupanya dia tau dan sempat tak mau masuk mobil. “Mami, Papi.. Aku sehat. Aku kuat,” katanya dengan mata penuh tanda tanya.

Kemudian mas-masnya membujuk bahwa kami semua mau ke mall makan. Akhirnya Aziza mau masuk. Tapi dia masih bertanya “Kita ke mall? Kenapa mami bawa itu,” tanyanya sambil menunjuk hasil foto thoraz di map besar.

Duh ndhuuk…

“Ini mami mau ngasih hasil fotonya ke dokter. Sebentar,” kataku

Aziza pun mulai merengek ngak ngik.. “Aku sehat mami. Aku nggak mau ke dokter. Aku sudah disuntik. Hidung dan lidah nggak ada virus. Sudah diambil dokter. Sudah mami. Sudah papi. Aziza Nggak mau lagi,” begitu katanya terus diulang-ulang.

Mendengar ucapan-ucapannya, rasanya sungguh pilu.

Pas sampai di rumah sakit, dia berusaha membujuk lagi. “Mami papi turun aja. Aziza tunggu di mobil.”

Kami berhasil membujuk dia ikut masuk rumah sakit tanpa drama tangisan. Tapi saat jalan, tangannya mengenggam tanganku kencang.

Saat dia mau dibius, ada sedikit penolakan. “Aku mau sama mamiiii. Aku mau sama mamiiiii,” tangisnya saat dibopong paksa oleh para perawat menuju ruang bius. Matanya tak kedip, tangannya berusaha menggapai-gapai tanganku. Duh nggrantes di hati.

Setelah itu, saya dan suami masuk ruang penanganan. Kami melihat Aziza sudah tak sadar. Ditengah proses penanganan, tiba-tiba kaki tangannya berontak dalam kondisi dia terbius. Mesin pencatat denyut jantung bergerak lebih cepat, berbunyi lebih kencang dan lampu merah berkedip-kedip. Denyutnya yang tadinya antara 98-110 tiba-tiba naik drastis hingga 125-130 saat dia berontak ditengah kondisi dibius.

Duuuh.. ibu ini mewek sambil komat-kamit baca doa. Bagaimanapun juga, yang namanya anestesi bukan hal yang bisa dianggap enteng. Alhamdulillah teratasi.

Secara umum semua berjalan lancar. Prosesnya berjalan pas 2 jam. Akhirnya gigi Aziza dicabut 6, dilakukan perawatan berupa pembersihan, pengisian dan penambalan di 5 gigi, gigi yang mau muncul diberi jalan dan nanah atau luka di gusi diberesin.

Pagi tadi Aziza tak mau mandi karena takut sikat gigi. Gusinya terlihat masih sedikit merah bengkak dan bibirnya jontor seperti Tsuneo di film Doraemon. Tapi secara umum dia baik-baik saja. Kubujuk pelan dan akhirnya mau. Kusikatin pelan-pelan semua gigi-giginya plus gusi kubersihkan. Dia pun memberanikan diri mendekati kaca dan membuka mulutnya. Apa yang terjadi?

Hey.. Aziza tersenyuuuuuuuuuuum… Matanya berbinar..

“Gigi jelek diambil mi?” tanyanya sambil menghitung giginya yang hilang. “Enam?” Dia tak pakai alat jadi tak bisa mendengar apapun jawabanku, tapi berusaha bertanya. Aku pun mengangguk dan mengacungkan jempol. Ah dia terlihat happy… Nyess melihatnya. Semoga rasa percaya dirimu kembali lagi.

Maafkan mami yang tak bilang kita mau ke rumah sakit.. Semua buat kebaikanmu sayang.. I love you.. Till the moon and back.

Jakarta, 3 Juli 2020

Illian Deta Arta Sari/ 081282032922

Biaya hari H, di luar tes Swab, tes darah dan photo thorax.