Alhamdulillah sudah setahun umur blog Azizaku.com. Blog ini saya buat pada tanggal 11 Oktober 2016. Hingga Saat ini, ada sekitar 35.158 kali orang membuka blog selama hampir 13 bulan. Artinya ada sekitar 2704 klik per bulannya untuk membaca tulisan saya yang sederhana.

Senang sekali rasanya saat pertama kali Aziza mengucap kata. Saat itu adalah hari ke-14 paska alat implan kokleanya diaktifkan. Aziza yang awalnya tak bisa mengucap sepatah katapun, akhirnya bisa mengucap ‘mama’. Seiring waktu, kata demi kata pun bisa dia ucapkan. Namun penantian panjang menunggu dia mengucapkan suara huruf ‘i’ cukup mendebarkan dan terasa lama. 😊

Nasib membertemukan kami sebagai sesama ibu dari anak-anak pemakai implan koklea. Dari kiri ada mbak Dwi Yanti, mbak Anita fatmawati dan paling kanan mbak Nia Utami. Selalu seneng rasanya setiap ngumpul, bisa saling dukung, berbagi cerita, plus mengembangkan ide-ide baru.. Pada pertemuan kali ini, nggak berasa kami duduk di tempat ini hingga sekitar 4 jam hehe..

Bisakah kita membayangkan tiba-tiba kehilangan pendengaran di satu atau dua telinga kita? Semua bisa saja terjadi. Itulah yang dialami Nanda, pelajar berumur 15 tahun. Ibu Nanda yaitu Rahma tak menyangka putrinya yang sudah bersekolah bakal kehilangan pendengaran di salah satu telinganya. Kini Rahma dan Nanda sedang berusaha memulihkan di Jakarta.
Lanjutkan membaca “Nanda, Mendadak Kehilangan Satu Pendengaran”
Sedih.. Itulah yang saya rasakan suatu hari saat ngobrol dengan orang tua yang mau pasang implan koklea pada anaknya. Bagaimana saya tidak sedih, ortu tersebut mengatakan masih makan beras jatah raskin dan gajinya sebagai buruh tak tentu. Duh, implan itu tak hanya selesai beli alat ratusan juta sekali saja. Tapi ada biaya lain seumur hidup. 😢 Saya pun menganjurkan jangan lakukan itu.


Perkenalkan ini boneka baru Aziza, namanya Welas & Asih. Welas ada gangguan pendengaran jadi pakai sound processor implan koklea seperti Aziza. Kalau Asih ada gangguan penglihatan sehingga nggak bisa melihat jelas jadi pakai kacamata. Alat implan & kacamata sama-sama berfungsi membantu mereka menggunakan inderanya. Welas Asih rukun selalu dan akan menemani Aziza 😍 🙆🏻 hehe..
Note: biasanya kalau ada anak kecil bertanya tentang alat di kepala Aziza (dulu ABD, sekarang implan), saya akan menjelaskan dengan model penjelasan sederhana itu. Alat implan membantu mendengar, sama halnya kacamata membantu melihat. Tujuannya agar yang tidak tahu tidak menganggap anak kita orang aneh dan dapat penjelasan yang mudah dicerna. Kemudian saya baru jelaskan yang lainnya. 😊 Kalau ada yang orang dewasa yang tidak tahu, penasaran bertanya atau penasaran melotot atau melihat tanpa kedip ya dijelaskan saja. Tidak usah sensi atau marah.. Santai saja.. 😊
Hari ini Aziza sudah sekitar 9 bulan memakai alat implan koklea dan prosesor suaranya. Ini video dia berhitung satu sampai lima di sekolah. Alhamdulillah, sekecil apapun kemajuannya terus disyukuri..

Setelah Aziza, anak ketigaku menjalani operasi implan, banyak yang bertanya soal implan koklea dan biayanya. Satu hal yang ingin kutekankan adalah masalah pendengaran tidak lantas selesai begitu saja setelah operasi. Implan hanyalah babak baru untuk mendengar, dan perjalanan masih panjang begitu juga pengeluarannya.

Anak bungsuku, Aziza, tuli karena kena virus Cytomegalovirus/ CMV saat aku hamil. Virus lain yg cukup banyak menyebabkan tuli congenital atau bawaan di Indonesia adalah Rubella. Sebagai lanjutan tulisanku soal CMV, kali ini kutulis soal Rubella. Virus ini ada di sekitar kita dan sudah ribuan bahkan tak terhitung korbannya. A real silent killer bersama virus dan parasit TORCH lainnya.
Saat awal mengetahui Aziza (2,5 th) tuli parah 20 Agustus 2016, bagiku dunia serasa runtuh. Semua terasa begitu berat karena aku tak pernah berinteraksi dengan orang yang memiliki pengalaman sama. Satu hal yg membuatku merasa berat adalah ingatanku tentang seorang gadis muda tetangga desa selisih 5 rumah yang bisu tuli yang terkungkung di dalam rumahnya. Sebut saja namanya mbak Melati.
When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.. (by Paulo Coelho)

Sejak kuliah, aku terbiasa aktif bekerja dan mencukupi diri sendiri. Kini aku berhenti bekerja dan total mengurus Aziza. Sebuah hidup yang benar-benar baru buatku. Namun sejujurnya kadang masih terbersit keinginan untuk bekerja seperti dulu. Sebuah dilema ibu dari anak berkebutuhan khusus yang mungkin bukan hanya aku saja yang merasakan.
Lanjutkan membaca “Bekerja atau Tidak Bekerja, Dilema Bagi Ibu dari Anak Difabel..”
