exif_temp_image
Nanda (kiri) dan ibunya, Rahma, saat main ke Ecopark, Ancol .

Bisakah kita membayangkan tiba-tiba kehilangan pendengaran di satu atau dua telinga kita? Semua bisa saja terjadi. Itulah yang dialami Nanda, pelajar berumur 15 tahun. Ibu Nanda yaitu Rahma tak menyangka putrinya yang sudah bersekolah bakal kehilangan pendengaran di salah satu telinganya. Kini Rahma dan Nanda sedang berusaha memulihkan di Jakarta.

Sekitar tiga minggu yang lalu handphone saya berdering. Rupanya telpon dari mbak Rahma jauh di sebuah kabupaten Bau-bau, Sulawesi Tenggara. Perempuan bernama lengkap Siti Rahmawati ini mendapat telponku dari blog Aziza.

Rahma bercerita tentang anaknya yg bernama lengkap Waode Fitrah Ananda Nahmuddin yang kehilangan pendengarannya. Saya dengarkan curhatan mbak Rahma yang penuh rasa sedih dan penuh harapan anaknya pulih. Kami pun bicara panjang lebar ditelpon hingga tak terasa lebih dari satu jam. 😊

Diujung pembicaraan, mbak Rahma bilang akan memeriksakan Nanda ke Jakarta saja biar lega hatinya, karena sebelumnya pernah periksa di RS di Makassar. Akhirnya tanggal 15 Oktober, Rahma dan Nanda sampai di Jakarta.

Saya sendiri tidak menyangka mereka bakal secepat itu dan sekuat itu tekadnya berangkat ke Jakarta. Rahma pun berjuang mendampingi Nanda dan terpaksa meninggalkan 4 anak lainnya termasuk yang masih berumur 20 bulan.

Saat mengutarakan niatnya periksa ke Jakarta, ada saudaranya yang bertanya kenapa dia tidak periksa ke Surabaya saja yang lebih dekat. “Di Jakarta ada teman yang membantu,” katanya. Sebenarnya saya juga sempat menganjurkan ke Surabaya yang lebih dekat. Tapi mbak Rahma milih ke Jakarta.

Rasanya terharu ada yang begitu percaya sama saya sampai datang dari Bau-bau ke Jakarta. Padahal kami baru kenal di telpon. Maknyes pas bertemu keduanya mampir ke rumah di hari pertamanya di Jakarta.

Rahma bercerita, awalnya Nanda kena cacar air di kelas 3 SD di tahun 2010. Sesudahnya ada penurunan daya dengar. Hingga akhirnya tahun 2014 , Nanda menjalani tes Audiometry di Makassar karena di Bau-bau tidak ada. “Saat itu dokter menyimpulkan ada kerusakan di rumah siput dan solusinya pakai ABD,” kata istri dari Laode Yuris Mahmuddin ini.

Memang, ketulian mendadak bisa dialami siapa saja. Faktornya pun bermacam-macam, Β misalnya trauma fisik, trauma bising, sakit (misalnya cacar air , gondongan, meningitis) , perbedaan tekanan atmosfir terlalu drastis dan lainnya.

Berbekal uang dari kampung, tahun 2014 itu dia akan membeli alat bantu dengar (ABD) yang diperkirakan belasan juta di Makassar. Namun saat proses pencarian itu ada masukan bahwa harga ABD sebenarnya murah atau hanya dibawah satu juta. Karena ketidaktahuan soal ABD dan pertimbangan lainnya, dia akhirnya membeli yang Rp 350 ribu di toko alat kesehatan. Namun alat itu tak memadai dan tak bisa dipakai Nanda.

Tahun lalu Nanda mengeluh lagi soal daya dengarnya yang berkurang. Rahma dan Nanda pun periksa ke dokter dan beli alat lagi. Kali ini yang seharga Rp 2,5 juta. Yang cukup mengherankan, pihak optik tidak menjelaskan apapun soal ABD. “Ya kayak beli di warung gitu. Saya bayar, dia kasih barangnya. Gak dijelaskan. Saya nanya pun gak banyak dijawab,” kata Rahma.

Mungkin diberbagai tempat, praktek jual beli ABD masih seperti itu. Begitu bayar ya dapat barang, seperti membeli handphone. Padahal beli ABD itu tak sesederhana beli handphone. Belayar trus dapat barangnya. Tidaaak.

Beli ABD itu harus sesuai kebutuhan derajad gangguan pendengarannya. Kalau gangguan sangat berat tentu percuma pakai ABD untuk gangguan ringan. Begitu juga sebaliknya, kalau cuma gangguan ringan dan diberi alat untuk tingkat yang sangat parah ya akan sakit dipakainya. Ada juga pilihan analog atau digital, plus ada berbagai pilihan channelnya. Yang harus diketahui juga saat beli ABD Β adalah soal paska pembelian yaitu cek alat rutin, servis, garansinya.

Pihak optik juga tidak menjelaskan pada Rahma bagaimana proses perawatannya. Misalnya petunjuk seperti membuka baterai ABD kalau tak dipakai, ditaruh di dry box agar tak lembab, dipakai terus kecuali mandi dan tidur atau perlunya servis serta FFT aided test rutin.

Lagi-lagi karena ketidaktahuan dan juga tak ada penjelasan apapun dari optik, maka dibelilah ABD itu. Ternyata, alat itupun tak berguna. “Saat saya pakai, rasanya sakit sampai ke otak,” kata Nanda. Akhirnya alat itu tak dipakai lagi meski sempat dipakai sesekali selama 1 bulan.

Meski tak memakai alat dan mengandalkan satu telinga yang berfungsi baik untuk mendengar, Nanda selalu bagus prestasinya. Selama sekolah di MTSN 1 Bau-bau, Nanda selalu juara umum sejak kelas 1-3. Dia juga beberapa kali menjadi utusan sekolah untuk lomba cerdas cermat dan juga beberapa kali lomba pra Olimpiade Sains Nasional dibidang matematika. Nanda memang sering ikut lomba, tapi memang belum ada yang juara sampai tembus Nasional. Tapi dia jelas berprestasi hingga menjadi wakil sekolah dalam banyak kesempatan.

Karena nilai sekolahnya selalu bagus, dia pun melanjutkan sekolah ke kota lain yaitu di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia di Kendari. Di sekolah ini, Nanda tinggal di asrama. Sekolah Insan Cendekia dulunya dirintis oleh bapak BJ Habibie dan seleksinya ketat untuk masuk, baik lewat jalur reguler atau Hafidz Al Quran.

Namun di awal sekolahnya ini, Nanda mengeluhkan pendengarannya yang terus berkurang. Hingga akhirnya Rahma syok suatu hari mendapat kabar nilai matematika anaknya dapat nilai 2. Tentu kabar itu mengagetkan karena selama ini nilai Matematika Nanda selalu bagus.

“Saya nggak menyangka nilai Nanda bisa separah itu akibat pendengarannya,” kata Rahma terisak saat curhat ditelpon. Saat mendapat kabar nilainya jeblok, Rahma pun bertanya apa penyebabnya. Nanda menjelaskan bahwa dirinya sulit mendengar penjelasan guru. “Saya tak bisa mendengar jelas apalagi kalau saya duduk di belakang, suara di kelas ramai atau hujan,” cerita Nanda.

Dari situlah Rahma dan suaminya bertekad memulihkan pendengaran anaknya. Rahma kemudian mencari informasi sebanyak-banyaknya dari internet tentang hearing loss.

Sebelum Rahma dan Nanda ke Jakarta, saya jelaskan soal kemungkinan terburuk profound hearing loss. Saya sampaikan juga biaya beli ABD super power puluhan juta atau implan hingga ratusan juta agar tidak kaget. Mereka pun menggunakan BPJS agar bisa terbantu untuk proses periksa medisnya dan uang sangu untuk persiapan beli ABD.

Perjalanan dimulai dari puskesmas di Kendari ke RS Kendari kemudian Rumah sakit di sana merujuk ke RS PGI Cikini. Hari kedua di Jakarta mereka langsung ke RS PGI Cikini. Namun BPJS di suruh minta rujukan ulang dari puskesmas Pasar Senen. Mereka jalani ke puskesmas, Kemudian di rujuk ke RS St Carolus. Pindah rujuk ke RS MH Thamrin dan dilakukan tes Audiometry di sana. RS itu merujuk lagi ke RS Gatot Soebroto. Selama proses itu Nanda juga tes Audiometry dan Tympanometri di Kasoem serta periksa ke RSCM kencana dengan biaya sendiri agar ada pembanding.

Hasilnya, telinga kanan memang tidak merespon suara sama sekali. Ada perbedaan pendapat kesimpulan dan rekomendasi dokter. Ada dokter yang menganalisa kerusakan ada di sel rambut koklea. Karena penurunan daya dengar berlangsung sekitar 7 tahun, agak terlambat bagi sel rambut koklea yang tak dapat rangsangan suara. Yang optimal implan koklea meski hasilnya tidak bisa memuaskan 100% karena faktor keterlambatan tadi. Dokter hanya bisa memberi harapan 50% dengan implan koklea.

Dokter lain berpendapat kerusakan ada di tulang pendengaran. Kerusakan ini pada umumnya bisa terjadi karena pergeseran, atau kaku. Bisa saja ini terjadi karena trauma/ benturan atau sakit. Rekomendasinya memakai implan baha.

Kini Nanda menunggu pemeriksaan CT Scan dan MRI yang dijadwalkan November. Semoga masalahnya bisa segera ditangani dengan baik agar bisa sekolah lagi dan berprestasi seperti sebelumnya. Mohon doanya. Amiiin