img_4894
Foto: Heru Haryono, Okezone.com

Sejak kuliah, aku terbiasa aktif bekerja dan mencukupi diri sendiri. Kini aku berhenti bekerja dan total mengurus Aziza. Sebuah hidup yang benar-benar baru buatku. Namun sejujurnya kadang masih terbersit keinginan untuk bekerja seperti dulu. Sebuah dilema ibu dari anak berkebutuhan khusus yang mungkin bukan hanya aku saja yang merasakan.

Pertanyaan soal aku nggak kerja juga ditanyakan beberapa orang. “Lin, kamu nggak kangen kerja lagi?” tanya seorang teman baik. “Aziza apa nggak bisa disambi?” tanya teman yang lain yang sangat sayang pada aku dan Aziza. “Rencanamu ke depan gimana,” tanya yang lain. “Tetap semangat ya. Jangan sedih-sedihan, jangan sampai stress. Aku tahu jadi ibu rumah tangga berat. Apalagi dalam posisimu,” kata teman lainnya yang terus menyemangati.

Banyak yang bertanya karena mereka tahu aku dari dulu aktif ikut kegiatan ke sana sini dan bekerja. Ada juga yang tak lelah setiap bulan menawarkan pekerjaan di sebuah lembaga menggantikan posisinya. Lembaganya memang butuh orang dan bisa melakukan open recruitment. Tapi dia Β ingin aku yang masuk. Niatnya baik agar secara finansial juga bisa buat Aziza. Semua pertanyaan teman kulihat sebagai sayang buatku dan Aziza.

Sejujurnya aku juga galau memikirkan biaya Aziza yang tidak sedikit, sementara yang bekerja hanya satu suamiku. Persoalan implan tak hanya selesai dengan beli alat dan operasinya saja yang sudah menelan biaya banyak. Perawatan alat luar, mapping implan seumur hidup dan terapi rutin juga diperlukan.

Alhamdulillah penghasilan suami cukup meski kami tak berlimpah harta. Kami tidak kekurangan, namun kami memang kami harus pintar-pintar mengaturnya. Semoga rejeki suamiku berkah, dicukupkan dan tak akan pernah korupsi. Amiiin. (Aminkan yak.. 😊). Aku terus bersyukur mengingat di luar sana ada orang tua anak-anak seperti Aziza yang keadaannya lebih dilematis.

Hanya saja, kadang aku merasa nggak enak sama suami, karena mungkin sejak jauh sebelum nikah, aku selalu bekerja. Rasanya merdeka bisa beli ini itu pakai uang hasil sendiri..  😊. Tak pernah diri ini menggantungkan semua pengeluaran rumah pada suami saja. Jadi, status baru sebagai ibu rumah tangga yang bergantung pada suami ini bukanlah hal yang mudah buatku.

Buat yang tidak begitu dekat denganku dan tak tahu banyak, mungkin juga melihatku dengan heran sebagai ‘pengangguran’ terpelajar. “Nggak sayang sudah kuliah ke luar negri tapi malah nggak kerja mbak? Ijazahnya percuma, buat apa dong?” tanya penjual warung dekat rumah yang keheranan. Tentu kubalas dengan senyum. “Nggak percumalah mbak. Saya kan terus belajar karena belum pinter,” jawabku selow sambil nyengir khas wajahku. Hehe

Soal pandangan miring orang yang tak begitu tahu itu nggak kurisaukan. Tapi justru dialog di hati ini yg kadang jadi pikiran. Sejujurnya kadang ingin bekerja lagi seperti dulu. Buatku, bekerja bukan hanya sekedar mencari uang. Bukan. Iya memang kami juga butuh uang. Siapa sih yang enggak? Tapi Ada hal lain juga yaitu kepuasan batin ketika merasa melakukan sesuatu yang kurasa berguna buat orang banyak. (Terlepas orang-orang merasa aku berguna apa tidak. Hehehe 😬).

Itulah yang slalu kupegang sejak aku mulai bekerja saat kuliah atau jadi relawan di beberapa lembaga sosial. Selepas kuliah, aku jadi wartawan hukum Jawa Pos di Surabaya dan Jakarta selama 3 tahun. Kemudian ke ICW selama sekitar 10 tahun. Aku merasa pekerjaan yang kujalani selama ini bisa memfasilitasiku untuk bisa berguna buat masyarakat.😊

Manusia memang hanya bisa berencana dan berusaha, sedangkan semua keputusan ada di tangan Tuhan. Sebelum balik ke Jakarta dari Melbourne setelah lulus kuliah S2, banyak rencana di kepala. Saat itu memang sudah ada pembicaraan dengan beberapa orang ICW kalau mungkin aku takkan lagi balik ke sana setelah balik dari Melbourne.

IMG_6958.JPG
Wisuda dari Universitas Melbourne, 27 July 2016..

Saat masih di Melbourne juga ada tawaran kerja dari tempat lain tapi memang belum kusanggupi sebelum selesai dengan ICW secara resmi. Aku pun juga tidak mencari kerja di tempat lain. Sesudah kembali di Jakarta, akhirnya tgl 11 Agustus 2016 aku resmi selesai berkiprah di ICW. Namun aku saat itu berpikir mau menikmati liburan sebulan bersama keluarga setelah lama hidup terpisah dan tidak mencari kerja dulu.

Ternyata bukan liburan yang kudapatkan. Seminggu sesudah resign, aku mendapati kenyataan bahwa Aziza, anak bungsuku mengalami tuli berat karena virus CMV. Sesuatu yang tak pernah terlintas di benakku. Sejak awal, aku dan suami sudah memikirkan kemungkinan implan koklea karena diagnosa awal adalah telinga kiri Aziza tidak merespon suara sama sekali.

Mengatasi rasa sedih bukan hal mudah dan aku serta suami tahu perjalanan akan berat dan panjang. Kami sadar, salah satu memang harus ada yang mengalah tidak bekerja dan mendampingi Aziza yang harus mondar-mandir ke rumah sakit dan terapi. Hidup kami pun berubah..

Akhirnya, akulah yang mengalah. Demi Aziza.. Demi masa depannya. Terlalu sayang bagi kami untuk melepas kerja suami sebagai PNS yang sudah dirintisnya selama 19 tahun. Lagipula, posisiku sedang tidak terikat komitmen kerja dengan institusi manapun.

Operasi Implan koklea sudah dilakukan 9 Desember 2016. Setelah operasi, aku dan Aziza tidak ke RSCM sesering sebelum operasi. Paska operasi, aku pun sempat gundah lagi.. “Apakah sekarang aku sudah bisa bekerja lagi,” tanyaku pada diri sendiri. Iya aku ingin bekerja berbuat sesuatu yang berguna untuk orang banyak dan juga mendapat penghasilan buat aziza dan kakak-kakaknya juga. Tapi aku juga takut kerja karena mempertaruhkan masa depan Aziza.

Saat ini Aziza butuh pendampingan untuk Auditory Verbal Therapy (AVT). Tujuannya untuk melatih otaknya mendengar atau mengintepretasi sinyal-sinyal listrik dari koklea implannya ke otaknya, dan mengajarkan Aziza untuk bicara. Aziza yg sudah berumur 2 tahun 9 bulan ibarat kertas kosong yang tidak tahu satu kosakata pun. Karena itu, pendampingan terus dibutuhkan untuk mengenalkan kosakata pada dia.

Banyak pertanyaan pada diri sendiri. Kalau bukan aku yang mendampingi Aziza, siapa lagi? Bisakah kuserahkan pendampingan terapi wicara di rumah pada pengasuh Aziza yang sudah berusia 76 tahun? Bisakah kuserahkan urusan terapi AVT ke terapis, mapping alat paska operasi atau urusan ke dokter sama mamahku yang berusia 60 tahun? Jawabannya belum bisa..

Hari Jumat tanggal 6 Januari adalah mapping alat implan Aziza yang pertama. Dokter Fikri yang melakukan mapping mengatakan terapi Aziza perlu ditambah. “Aziza ini anaknya aktif, kooperatif dan pinter. Terapi sekali seminggu itu sangat kurang,” katanya. “Sebaiknya ditambah. Minimal 3 kali seminggu lah,” tambahnya.

Setelah bertemu dokter Fikri, aku teringat lagi pertanyaan-pertanyaanku pada diri sendiri soal bekerja lagi akhir-akhir ini. Mungkin ucapan dokter Fikri adalah jawaban atas kegalauanku setelah operasi hingga beberapa hari terakhir.

Mungkin memang belum saatnya sekarang bekerja lagi di luar rumah. Apalagi kerja sistem kantoran pagi sampai sore bahkan lembur malam. Mulai minggu ini, Aziza akan kuikutkan terapi AVT 3 kali seminggu dan aku akan mencari playgroup khusus anak tuna rungu atau playgroup umum agar Aziza bisa lebih banyak bermain dan bersosialisasi. Mapping alat paska operasi pun tetap rutin dilakukan dalam waktu yang cukup berdekatan yaitu per dua mingguan. Tentu aku akan terus mendampingi.

Buatku, bekerja selain untuk kepentingan publik juga penghasilannya untuk anak-anak. Tapi kalau anak lebih membutuhkan, tentu anak yang jadi prioritas. Saat ini Aziza lebih membutuhkanku. Semua rencana kulepas demi Aziza kecilku karena ini sebuah panggilan sebagai ibu.. Aziza diatas semuanya. Semoga ini juga jadi ladang amalku. Semoga aku selalu diberikan ikhlas, sabar dan terus bersyukur menjalaninya.

Ibarat sebuah perjalanan, kadang hidup itu tak lurus jalan terus. Kadang perlu belok, ketemu jalan berliku, menanjak atau harus berhenti sejenak. Jalanan yang dilalui pun tak selamanya mulus, kadang ada lubang di jalanan atau ada hambatan sehingga jalannya harus pelan.

Aku berusaha terus mempercayai rencana Tuhan. Saat ini mungkin aku harus berhenti sejenak dari duniaku slama ini. Mungkin bisa juga mulai memikirkan usaha dari rumah. Sementara cukuplah jadi aktivis fesbuk. Β Hehe.. Β πŸ™†πŸ» Semoga tulisan-tulisanku di blog berguna buat orang lain. Bismillah.. Aku percaya rencana Tuhan adalah yang terbaik meski kadang terasa berat.. Β πŸ˜‡

illian deta arta sari
081282032922
8 Januari 2017

NB: Makasih buat semua yang terus mendukungku.. 😊. Buat semua orang tua dari anak berkebutuhan khusus, semoga kita terus diberi keikhlasan, kesabaran, kekuatan dan kemudahan menjalaninya. amiin..