exif_temp_image
Aziza dan buku-bukunya serta mainan yang dipakai untuk terapi di rumah..

Senang sekali rasanya saat pertama kali Aziza mengucap kata. Saat itu adalah hari ke-14 paska alat implan kokleanya diaktifkan. Aziza yang awalnya tak bisa mengucap sepatah katapun, akhirnya bisa mengucap ‘mama’. Seiring waktu, kata demi kata pun bisa dia ucapkan. Namun penantian panjang menunggu dia mengucapkan suara huruf ‘i’ cukup mendebarkan dan terasa lama. 😊

Sungguh sebuah kebahagiaan yang mengharu biru saat mendengar Aziza mengucap “mama”. Ada sebuah kerinduan luar biasa mendengar panggilan itu dari bibir Aziza. Terlebih karena anak ini pernah kutinggalkan untuk sekolah 1,5 tahun di Melbourne.

Sejak kami tahu Aziza mengalami gangguan sangat berat di kedua telinganya, kami mengikutkan dia terapi. Sejak Agustus 2016 hingga Oktober 2017 kami hanya mengambil satu sesi auditory verbal therapi (AVT) per minggu dan per sesi cuma 1 jam. Jadi, total ketemu terapis cuma 4 jam dalam sebulan. Sisanya tentu belajar sendiri di rumah.

Kami di rumah juga melakukan AVT seperti yang dilakukan bersama terapisnya dengan semua yang ada di rumah. Pada dasarnya semua mainan bisa dijadikan alat peraga atau penunjang terapi di rumah. Begitu juga aktifitas sehari-hari sejak bangun tidur hingga merem lagi di malam hari. Kuncinya adalah kreatifitas dan keterlibatan seluruh anggota keluarga untuk terus cerewet dan mengajak bicara dengan pola berulang.

Alhamdulillah Aziza terus berproses. Awalnya dia tidak bisa mengucap sepatah katapun. Awalnya dia tak mengerti satu arti kata apapun. Benar-benar nol. Kami memulai dari mengenalkan suara karena dia tidak tahu konsep suara yang tak pernah didengarnya. Aziza sangat ketakutan mendengar saat awal mendengar suara.

Ketakutan Aziza mungkin seperti kalau kita jalan di tempat sepi atau di kuburan, trus ada suara memanggil. Tentu kita takut tho? Hehe. Tentu yang kebayang ya semacam di film Pengabdi Setan itu atau suara Suketi di film lama Malam Satu Suro hehe.. Padahal bisa jadi ada orang yang memang memanggil.

Kira-kira begitu yang dirasa Aziza awalnya. Dulu Aziza sembunyi di kamar ketakutan mendengar suara pada hari pertama alat implannya diaktifkan. Dia mendekam diri seharian di kamar, tak mau keluar sama sekali karena takut pakai alatnya dan mendengar suara. πŸ™†πŸ»

Berikutnya, kami terus mengajarkan kosakata sambil mengajarkan dia meniru atau melakukan imitasi pengucapan.

Untuk mengajarkan kata bukanlah hal mudah juga. Aziza baru sadar bahwa namanya Aziza setelah memakai alat implan sekitar 6 bulan. Sekarang dia langsung menyahut “apa”, “ya”, kalau ada yang memanggil namanya.. Sebuah capaian yang tak mudah setelah ribuan kali kami memberi tahu bahwa namanya adaah Aziza. Alhamdulillah..

Selama berbulan-bulan kami ngoceh dan dia menyerap, menyerap dan terus menyerap. Ya, usia pendengarannya dimulai sejak alat dinyalakan. Dia start awal seperti saat bayi baru lahir dan baru mendengar suara di dunia. Bayi saat lahir juga dengar suara kan? Tapi ya tidak langsung bisa bicara hehe.. Begitulah Aziza.

Puji syukur kemampuan Aziza terus dan terus bertambah. Selama berbulan-bulan Aziza bisa mengimitasi kata-kata dengan vokal a, u, e, o. Namun kami tak mendengar huruf ‘i’ . Kami pun berdebar-debar. “Kapaaaaan Aziza bisa mengucap huruf i,” begitulah pikiran saya dan suami.

Kami juga bertanya pada terapis Aziza yaitu kak Sharent Carolita Angelina Ellen. Dia menjelaskan bahwa huruf ‘i’ ada difrekuensi tinggi dan seringkali yang belakangan bisa diucapkan anak dengan gangguan dengar. Tips agar cepat memancing huruf i keluar adalah dengan memperbanyak suara ‘i’.

Kami pun membombardir Aziza dengan suara ‘i’. Salah satunya menggunakan boneka main prosotan, dan kami minta dia mengikuti ucapan ‘wiiiiiiiii ‘ saat mainan meluncur. Kami pun ajak dia main prosotan beneran atau ayunan dan teriak ‘wiiiiiii’. Aziza tak mudah menirukan. Suara yang keluar adalah ‘weeeee’ hehehe.. Kalau ada sesuatu yang kotor, kami bilang “iiiiiiii kotor”. Dia pun menirunya “eeeeeee.” 😬😬

Sebagai orang yang tak punya masalah pendengaran tentu saya gemes banget kok ngomong ‘i’ saja nggak bisa sih. Masalahnya di lidah, atau di mananya? Hehe. Saya dan suami pun selalu berharap-harap mendengar suara ‘i’ muncul..

Akhirnyaaaaaa setelah 8 bulan memakai alat implan koklea, Aziza bisa mengucap huruf ‘i’ hehehe. Sekarang dia rajin mengucap ‘i’ dalam berbagai kata. Sungguh kebahagiaan luar biasa. Bagi orang lain itu hal sepele. Bagi kami, itu seperti dapat doorprise gitu πŸ’ƒ. Berkah luar biasa. Sungguh berkah itu tak selalu berwujud materi atau capaian hal-hal besar lainnya.

Setiap ada kata yang baru, rasanya senang dan senang. Ya kayak dapat kejutan gak henti-henti. Bisa mbayangin kan senengnya? hehe.. Saya saja dapat doorprise panci di acara tujuh belasan di kampung aja dah seneng banget loh 😬.

Pernah juga Aziza suatu hari dia pulang dari rumah tetangga. Dia marah-marah sama kakaknya dan membanting mainannya. Sambil marah, dia teriak-teriak “Bapak! Bapak! Bapak!” katanya berulang-ulang dengar artikulasi yang sangat jelas. Di rumah dia tidak diajari kata ‘Bapak’. Saya pun takjub dan ketawa-tawa nggak jadi memarahi dia karena membanting mainan.

Dulu, Aziza tak mengerti satu katapun. Tak bisa mengucap sepatah katapun. Akhirnya sekarang dia bisa spontan mengucap beberapa kata meski belum sempurna pengucapannya.

Meski perjalanan masih jauh, tapi semua sudah sangat kami syukuri. Setiap melihat kemajuan sekecil apapun, selangkah demi selangkah, rasanya seperti mendapat surprise terus menerus dari Gusti Allah SWT.

Implan koklea bukanlah sesuatu yang memberikan hasil instan. Selama ini ada yang masih salah mengira soal implan yang dianggap anak akan otomatis bisa bicara karena sudah mendengar. Tentu butuh terapi, latihan mendengar dan laihan berbicara yang bukan sehari dua hari.

Kami percaya hasil takkan jauh dari usaha. Tentu semua akan indah pada waktunya. Amiiiiin..

 

30 Oktober 2017

Illian Deta Arta Sari

081282032922