IMG_2714

Usianya masih 12 tahun, tetapi anak lelaki ini mantab memilih bahasa isyarat sebagai sarana komunikasinya. Udana Maajid Pratista namanya. Dia bangga berbahasa isyarat dan pilihannya itu tak menghalanginya tetap aktif dalam berbagai kegiatan.

Demam Tinggi

Kedua orang tua Udana yaitu Agung Prasetyana dan Iies Arum Wardhani mengetahui Udana tak mendengar di umur 2 tahun. “Awalnya kami curiga karena perkembangan bahasa Udana sangat terlambat,” kata Iies yang bekerja sebagai perawat di RSUP Dr sardjito ini. Dia bercerita, Udana sebenarnya terlahir sehat dengan berat 3200 gram dan panjang 48 cm.

IMG_2690
Iies dan Agung saat naik gunung.

Udana yang lahir 30 Oktober 2005 adalah cucu pertama di keluarga ibunya. Sedangkan di keluarga bapaknya, dia adalah cucu yang paling kecil. Karena itulah, Udana jadi cucu yang paling dapat banyak kasih sayang dari dua keluarga besar.

Meski lahir sehat, perjalanannya tumbuh kembangnya tak mulus. Di umur 1,8 tahun, Udana sudah 2 kali masuk rumah sakit karena kejang demam (febris convulsion). “Pulang dari rumah sakit semua kosa kata yang sudah bisa diucapkan menghilang,” cerita perempuan asal lereng Andong Magelang ini. Padahal sebelumnya Udana sudah mulai berkata-kata. Bahkan ketika dipanggil namanya, Udana sudah tidak pernah menengok lagi.

Sebelum sakit, putra sulungnya itu sebenarnya juga sudah berjalan. Namun setelah pulang dari RS dia tidak bisa jalan lagi. Udana kembali merangkak. Tak hanya itu, pola tidurnya menjadi terbalik. Anak itu tidur mulai jam 4 pagi sampai jam 2 siang. Sedangkan kalau malam pasti begadang di saat orang lain pada umumnya tidur. Ritme itu berlangsung bertahun-tahun, sampai adiknya nomor 2 lahir tahun 2011.

IMG_2715
Udana saat mempunyai adik satu, Lintang.

Karena kosakatanya menghilang, dan dipanggil tidak menengok lagi, maka Iies dan Agung berusaha mencari penyebabnya. Mereka minta pendapat ke beberapa dokter anak di Magelang. “Saat itu tidak ada yang menyarankan untuk BERA,” kata Iies. Udana disarankan mengikuti tes psikologi anak.

Setelah berkali kali okupasi terapi di RSJS Magelang, terapisnya mengusulkan tes BERA di Yogyakarta. Barulah mereka tes pendengaran. Hasilnya saat itu menyebutkan Udana tuli sangat berat (profound hearing loss). Anak ini hanya bisa mendengar di ambang 110 dB untuk telinga kanan dan telinga kiri 115 dB.

“Rasanya remuk, marah, dan hilang segalanya,” kenang perempuan yang suka naik gunung ini. “Saat itu saya cuma bisa nangis. Selama perjalanan pulang mengambil hasil, saya dan bapaknya tidak bicara sama sekali. Bingung dengan pikiran masing masing,” imbuhnya.

Iies pun melakukan tes darah untuk tahu apa yang dialami Udana. Dia akhirnya tahu bahwa dia terinfeksi virus Rubella dan parasit Toxoplasma. Memang saat hamil, dia pernah mengalami sakit campak. Ada kemungkian Udana tuli karena terinveksi saat dia di kandungan. Namun diduga derajad tulinya ringan karena saat kecil masih bisa imitasi mesti belum utuh. “Dulu dia bisa bilang pissss untuk mengatakan pipis, atau mam untuk makan,” kata Iies. Namun sesudah demam, kosakatanya jadi hilang.

Iies sadar bahwa mengetahui penyebab tuli Udana takkan mengubah keadaan. “Tapi itu adalah poin penting buat saya untuk mempersiapkan kehamilan kedua dan kebobolan anak ketiga,” imbuh alumni Akademi Perawat Karya Bhakti Magelang itu.

Iies saat berdinas dengan rekan-rekan sejawat.

Hijrah ke Jogja
Akhirnya saat umur Udana 3 tahun tepat, mereka memutuskan boyongan pindah ke Yogyakarta agar bisa terapi lebih dekat ke RSUP Sardjito. Mereka juga ingin memasukkan Udana di SLB B di Jogja karena berbagai pertimbangan. “Saya memutuskan keluar dari tempat kerja di Magelang dan hijrah ke Jogja untuk masa depan Udana,” kata Iies.

Setelah ASSR di Surabaya, akhirnya umur 3,4 tahun Udana mulai memakai ABD. Bukan hal mudah buat pasangan Agung dan Iies untuk memakaikan ABD pada Udana. Butuh perjuangan keras baik secara finansial juga mental. “Setiap kali dipasang, dia selalu minta dilepas, nangis dan semacamnya,” cerita Iies yang suka makan apa saja ini.

Setelah memakai ABD, Udana juga rutin ikut terapi wicara. Di rumah, Iies terus mengajarkan artikulasi karena sekolah Udana adalah sekolah yang menggunakan metode oral untuk mengajar. “Sama seperti orang tua yang lain. Saat itu saya masih berharap anak saya bisa bicara,” katanya.

IMG_2664
Udana saat ikut Deaf Camp tahun 2016

Memutuskan Berbahasa Isyarat

Udana kecil terus berkembang dan belajar bahasa. Dia pun mampu komunikasi dan bisa membaca. Dari hobbynya membaca itulah, Udana mulai tahu bahasa isyarat. Suatu hari saat Udana di kelas IV, Udana membaca buku “Why Disabilitas?”. Dia juga pernah ngobrol dengan seorang Tuna Netra dan menggunakan metode taktil atau jari Udana menulis di telapak tangan orang Tuna Netra itu.

Udana pun kemudian bertanya kepada Iies yang membuatnya terhenyak. “Kenapa Tuna Netra boleh memakai huruf Braille, tapi Tuna Rungu tidak boleh memakai isyarat?” tanya Udana pada Iies.

Berawal dari pertanyaan itu, Iies mencoba membuka diri dengan komunitas lain. Dia tak lagi mengutamakan komunikasi verbal atau oral untuk berkomunikasi dengan buah hatinya itu. Selain komunitas di sekolah, Iies juga mencari jawaban dengan mencari komunitas komunitas tuli yang menggunakan isyarat.

Akhirnya di penghujung Desember 2015 ada kajian Tuli yang diikuti Iies. Di situ dipaparkan bagaimana bahasa isyarat sangat penting untuk Tuli. “Bahasa isyarat adalah bahasa ibu bagi Tuli. Bahasa isyarat adalah jatidiri dan budaya bagi Tuli,” kata Ibu tiga anak itu.

IMG_2666
Iies dan udana pentas pantomim di Festival Kesenian Yogya. Judulnya “Tuli bisa” sekaligus sosialisasi vaksinasi MR

Menurut Iies, bahasa isyarat penting untuk anak tuli sebab dengan isyarat, anak Tuli lebih mudah mendapatkan asupan pengetahuan. “Selama ini saya fokus pada berujar. Lupa bahwa anak Tuli bukan hanya sekedar bisa bicara. Mereka juga harus mendapatkan pengetahuan yang sama dengan orang Dengar,” kata Iies. “Kalau anak Tuli kesulitan memahami lips reading, bagaimana dia paham akan pengetahuan yang oleh orang Dengar disampaikan dengan ujaran,” imbuhnya .

Berkali-kali ngobrol dengan teman-teman yang sudah berkesadaran Tuli, akhirnya Iies memutuskan belajar isyarat Indonesia (Bisindo). Udana belum dia ajak saat itu.

Iies berusaha melihat perbandingan bagaimana pemahaman Udana ketika sebelumnya dia lips reading dan kemudian dia menggunakan isyarat. “Saya kagum. Ternyata benar apa yang teman teman Tuli sampaikan. Udana lebih cepat paham ketika saya menyampaikan dengan isyarat,” katanya.

IMG_2679
Udana mengajarkan bahasa isyarat pada teman-temannya.

Mulai bulan Maret 2016 Iies dan Udana belajar isyarat di Sekolah Semangat Tuli Yogyakarta Selain pemahamannya bertambah. Percaya diri Udana juga meningkat. “I AM DEAF AND I AM PROUD,” begitu yang disampaikan Udana.

Iies menuturkan bahwa hambatan di keluarga yang belum menerima isyarat tentu ada. Misalnya kekhawatiran bagaimana kalau orang lain tidak paham dengan isyarat Udana. Tapi Udana bisa meyakinkan dengan berkata, “Kalau orang tidak paham aku bisa menulis,” kata Iies.

Adik-adik Udana pun semangat belajar bahasa isyarat dengan kakaknya. Sehari-hari mereka menggunakan bahasa isyarat dan tak ada kendala berarti dalam berkomunikasi. Mereka adalah Gina Lintang Andini umur 6 tahun dan Mafaza Ardania Ayundyani, hampir 4 tahun.

IMG_2692
Dua adik Udana

Menurut Iies, Udana nyaman berbahasa Isyarat. Bahkan tingkat bagaimana cara dia mengatasi masalah juga sudah membaik. Menurutnya, hal itu karena pengaruh dari kepercayaan dan kesadaran diri terhadap kondisinya. Melihat perkembangan Udana yang positif. Keluarga besar pun mendukung apa yang menjadi pilihan Udana untuk berisyarat. “Yang terpenting adalah anak bahagia dengan pilihannya,” kata Iies.

Udana juga mengajar isyarat untuk teman Dengar disekitar rumah. Ada kejadian unik ketika saudara datang ke rumah melihat Udana berkomunikasi dengan teman teman Dengarnya. Mereka heran bagaimana bisa lingkungan sekitar bisa berisyarat. Kemudian saudaranya itu jadi tertarik ingin belajar juga. Tak hanya itu, ketika Udana dan keluarganya ngedate alias jalan keluar rumah, kadang ada saja orang yang datang tertarik melihat mereka ngobrol dengan gerakan tangan.

Sebagai orangtua, Iies mendukung apapun pilihan anak. “Saya mungkin sudah di tahap the show must go on. Ini jalan yang Udana pilih. Sebagai orang tua hanya bisa mendukung.Β Karena apa? Karena yang akan menjalani adalah Udana,” jelasnya.

Dia berharap bisa mendampingi Udana hingga mandiri nantinya. Tak lupa dia menitipkan doa di setiap langkahnya agar jalan yang dipilih Udana akan lebih mendatangkan banyak manfaat untuknya.

IMG_2669
Udana dan teman-teman komunitasnya mengajarkan bahasa isyarat pada anak-anak pasien kanker di kepompong poli tulip di RSUP Dr Sardjito

Iies juga mempunyai pesan buat Udana agar terus percaya diri. “Tidak perlu takut apa yang orang lain pikirkan tentang kamu.Β Tapi takutlah ketika kamu tidak bisa memikirkan siapa dirimu” kata Iies.

Satu hal yang membuat Iies bahagia dengan pilihan bahasa isyarat adalah ketika udana bisa memahami yang dia sampaikan dengan cepat tanpa miskomunikasi. Begitu juga sebaliknya, dia bisa mengerti yang disampaikan anaknya. “Senang banget saat komunikasi dia arah kami bisa berjalan lancar,” katanya.

Banyak pertanyaan pada orang Tuli, bagaimana kalau bertemu dengan orang Dengar yang tidak paham isyarat? Iies menjelaskan bahwa Udana senang memakai baju yang menjelaskan identitasnya sehingga orang bisa tahu.

Tak hanya dari kaosnya, dari ABD yang dia pakai, orang sudah bisa mengetahui bahwa Udana Tuli. “Kalau bertemu orang yang tak bisa isyarat, komunikasi bisa dilakukan dengan menulis atau berisyarat alami saja,” kata Iies. Udana memang tetap memakai ABD untuk membantu mendengar suara. Sedangkan cara yang dipilih untuk komunikasi adalah isyarat.

Dulu Iies sering berpikir, bagaimana Udana akan meneruskan pendidikan kalau komunikasinya terhambat. “Tapi setelah saya mendalami bahasa isyarat, malah saya pengen mendampingi dia sebagai juru bahasa isyaratnya sampai nanti,” katanya.

IMG_2717
Udana menggambar kaos. Dia menggambar “Aku cinta difabel”

Iies punya harapan agar anak-anak Tuli bisa setara dengan anak anak Dengar. Bukan dengan membuat anak menjadi orang lain. Bukan dengan membandingkan anak satu dengan anak yang lain. Karena setiap anak adalah pribadi itu sendiri.

“Berikan kepercayaan kepada anak dengan Tut Wuri Handayani. Sampaikan konsekuensi dari sebuah pilihan, dan biarkan anak memilih mana yang membuat dia nyaman,” katanya. Dia menambahkan, anak Tuli perlu diberi pengetahuan yang sama, jadi tidak ada lagi stigma Deaf Dumb.

Iies juga menekankan bahwa semua anak adalah pandai. Hanya saja, mereka mempunyai cara yang berbeda untuk menunjukkan kecerdasannya. “Cobalah untuk memanusiakan anak,” katanya. Dengan begitu anak akan segera menyadari siapa dirinya dan apa yang dia perlukan untuk menyambut masa depannya.

Iies juga menekankan bahwa penerimaan keluarga atas kondisi anak adalah faktor penting bagi pertumbuhan anak itu sendiri. “Apapun pilihannya, jangan korbankan anak demi ego orang tua. Tetap semangat dan segeralah berdamai dengan kondisi
Itu akan meningkatkan rasa syukur kita kepadaNya,” katanya.

Iies dan Udana di kampanye anti hoax..

Meski memilih mendukung anaknya berbahasa isyarat, Iies pun tetap menghargai pilihan orang tua yang berbeda, yang memilih ABD atau Implan koklea dan mengajarkan komunikasi verbal. “Apapun pilihannya, yang terpenting adalah keluarga menerima keadaan anak,” katanya.

Tetap Aktif

Saat ini Udana bersekolah di SLB B Karnnamanohara Yogyakarta kelas 5 A. Hobbynya menggambar, memasak dan juga membaca. Banyak asupan pengetahuan yang dia dapat dari hobbynya membaca buku. Udana pun terlihat haus pengetahuan.

Akhir-akhir ini Udana juga sedang tertarik dengan isu disabilitas karena beberapa kali menemukan perilaku diskriminasi bagi penyandang disabilitas. Itu juga yang membuatnya tertarik untuk membuat beberapa sketsa mengenai bagaimana berinteraksi dengan Tuli.

IMG_2668
Bersama teman-teman Deaf Art Community di Jambore Difabel 2016.

Sulung dari tiga bersaudara ini juga aktif di Deaf Art Community. Kegiatan di komunitas ini ada banyak seperti kelas bahasa isyarat untuk Tuli dan Dengar, kelas bahasa Indonesia untuk Tuli, dan ada juga kegiatan seni seperti pantomim, break dance serta menabuh jimbe. Mereka pun juga melakukan kegiatan sosial lainnya.

Udana menyisipkan pesan agar ditulis dalam kisah ini. “Untuk teman teman, berisyarat membuatku mudah berkomunikasi dengan orang lain baik Tuli atau Dengar. Karena bahasa isyarat itu berarti luas untuk Tuli . Tetap semangat dan rajin membaca yaaa,” kata Udana ditirukan Iies.

Dia juga juga mengungkapkan rasa senangnya karena keluarga mendukung dia berbahasa isyarat. “I Am Deaf and I Am Proud Of My Family,” tegas Udana.

Jakarta, 16 September 2017

Illian Deta Arta sari/ 081282032922

Baca Kisah inspiratif lainnya:

1. Kisah Barraz, Semua Dijual Demi ABD.

2. Kisah Azelia, Remaja Tuli Jago Pidato.

3. Shalom, Umur 6 Tahun Operasi 12 Kali.

IMG_2688