Pertama Bicara Mengucap “Allah” SWT..

Barraz di Jogjakarta dan Aziza di Jakarta pakai kaos kembaran..

Salah satu sahabat cilik Aziza (3,5 tahun) adalah Barraz Tabrizio Liddien Zubula (4,3 tahun) yang sama-sama tuli sangat berat. Orang tuanya yang sangat sederhana tak menyerah, dan menjual apa saja isi rumah demi beli Alat Bantu Dengar (ABD). Setelah dua tahun pemakaian, kini Barraz makin banyak kemajuan dalam berbicara. Ini sepenggal kisah mereka.

“Mau minum,” kata Barraz pada ibunya, Siti Ngafifa yang biasa dipanggil Iva, saat saya berkunjung ke rumah mungil mereka di Plosokuning, Jogjakarta. “Pipis,” katanya lagi dengan menyebut jelas huruf “S”. Untuk info saja, Aziza sampai hari ini belum bisa keluar hufuf “S” 😬. Barraz terlihat mengerti banyak kosakata, dan diajak bicara pun nyambung.

Ada beberapa kata yang bisa diucap Barraz dengan sempurna, tapi ada banyak kata lain yang belum jelas pengucapannya. Ibu dan bapaknya dengan sabar mengoreksi kalau ada yang salah seperti saat Barraz minta susu. “UU,” kata Barraz. “Barraz mau Susu? Ini Susu,” Ibunya membenahi. Untuk ukuran anak tuli sangat berat dengan memakai ABD, perkembangan Barraz termasuk luar biasa. Tentu berkat kegigihan orang tuanya juga sejak mendengar anaknya divonis ada gangguan dengar.

Awal Mengetahui Anak Tuli
Wiji Anta yang biasa dipanggil Wiji dan Iva adalah sama-sama pekerja keras. Pasangan muda ini menikah tahun 2012. Saat itu Wiji masih bekerja sebagai kepala staf di sebuah koperasi simpan pinjam dan Iva bekerja sebagai penjaga counter HP.

IMG_0756
Bersatu..

Tak menanti lama, mereka dikaruniai anak laki-laki yang sehat pada 17 Mei 2013. Guru ngaji mereka yang juga pengasuh pondok pesantren Nailul Ula Plosokuning yaitu alm KH Aly As’at yang memberi nama anak lelaki itu Barraz Tabrizio Liddien Subula. Artinya adalah orang yang membuka tabir kemuliaan di jalan agama. Nama yang bagus sekali artinya. Sejak Barraz lahir, Wiji meninggalkan pekerjaannya di koperasi karena bertentangan dengan hatinya dan memilih jualan angkringan.

Sebulan sebelum kelahiran Barraz, ibunya Iva (atau neneknya Barraz) juga melahirkan anak lelaki pada 21 April 2013 yang diberi nama Nabhan Radinka dipanggil Dinka. Kelahiran Dinka berarti Barraz mempunyai om yang umurnya sama. Mereka juga tinggal serumah karena Iva adalah satu-satunya anak perempuan dikeluarganya dan diharapkan kumpul di rumah bersama bapak ibunya.

IMG_0751
Barraz saat masih bayi..

Saat Ada booming bisnis batu mulia dan Barraz agak besar, bapaknya Barraz ini pun ikutan jual beli bahkan sering memburu batu atau jualan hingga keluar kota dari ujung timur Jawa hingga ujung Jawa Barat. Meski sering keluar kota, Wiji terus memantau perkembangan anaknya.

Barraz dan omnya, Dinka, pun tumbuh bersama. Karena ada dua anak yang tumbuh bareng, tentu semua perkembangan terlihat jelas meski tak bermaksud membandingkan. Secara fisik, perkembangan omnya lebih cepat namun segera disusul Barraz. Tapi ada satu hal yang mengganjal karena di saat 20 bulan omnya sudah bicara, Barraz belum keluar kosakata hanya bubbling (berceloteh tidak jelas). Akhirnya suatu hari mereka bawa Barraz periksa ke dokter spesialis anak.

Saat periksa ke dokter anak, ternyata dokter itu menyarankan terapi wicara (TW), tanpa tes pendengaran dulu. Sungguh mengherankan memang. Wiji dan Iva pun mengikuti saran dokter.

Saat itu juga, mereka langsung mencari tempat TW dan selang seminggu kemudian dapat tempat terapi. Barraz mengikuti 3 macam terapi yaitu TW, okupasi terapi (OT) dan Fisioterapis (FT). Segala daya pun dikerahkan agar Barraz bisa bicara. All out istilahnya. Saat itu mereka mengambil 2 kali sesi terapi per pertemuan selama 4 kali seminggu. Totalnya sekitar 600 ribu per minggu atau Rp 2,4 juta per bulan. Sungguh jumlah yang luar biasa bagi mereka.

Setelah dapat tempat terapi, bapak Barraz kerja jual beli batu lagi dan sering ke luar kota untuk bisa membiayai hidup dan terapi yang banyak itu. Waktu berjalan sekitar 6 bulan, tapi perkembangan kosakata Barraz tak ada perubahan. Dia tetap bubbling saja, sedangkan omnya yang umurnya nyaris sama sudah bicara lancar.

Ibunya Barraz juga bercerita ada kejadian yang membuat mereka terheran-heran. Saat itu ada acara yang meriah di rumah mereka. “Saya kaget banget, kok Barraz berdiri tepat di depan sound system yang sangat keras, bahkan mau menempelkan telinganya,” kata Iva. Padahal orang biasa tentu merasa sakit terlalu bising berdiri jarak dekat dengan sound system. Setelah itu ada tekat kuat membawa ke dokter THT.

Saat itu telinga Barraz juga ada kotoran yang mengeras atau membatu. Mereka pun akhirnya membawa Barraz ke dokter THT untuk membersihkannya. Mereka konsultasi ke dokter kenapa anaknya belum ada kosa kata. Dokter lantas bertanya apakah sudah tes pendengaran. Keduanya bilang mau tes tapi oleh dokter anak disuruh TW dulu.

“Waduh.. njenengan (Anda) salah pak, harusnya tes dengar dulu baru terapi wicara,” kata dokter THT itu. Mereka pun kaget sekaget-kagetnya. Iya, waktu setengah tahun sudah berjalan dan uang yang keluar sangat banyak untuk terapi tetapi ternyata salah langkah.

IMG_0741
Main layang-layang di Alun-alun.

Akhirnya setelah membuat kartu BPJS, Barraz dites ASSR pada 28 Agustus 2015.
Hasilnya, kedua telinga Barraz mengalami gangguan pendengaran dengan derajad sangat berat atau profound hearing loss yaitu 110 db kiri kanan.

Rasanya tak percaya apa yang dijelaskan dokter tentang hasil tes itu. Tapi Wiji tetap tenang. Iva pun tenang tapi ternyata tenangnya karena nggak begitu menyadari apa itu gangguan dengar. Wiji sudah tau hal-hal menyangkut gangguan dengar dan akibatnya khususnya pada kemampuan bicara. Sepanjang jalan sepulang dari rumah sakit, dia sudah perang batin dengan diri sendiri. “Saya diluar terlihat tegar dan tenang tapi hati saya menangis sedih tak terkira. Saya sembunyikan karena ndak mau istri saya tahu saya sedih,” kata Wiji. Mulai hari itu juga, dia memutuskan tidak keluar kota lagi

Perjuangan Beli ABD, Jual Apa Saja

Sepulang dari rumah sakit, mereka mampir ke hearing center yang direkomendaaikan dokter untuk mencari ABD. Saat itu sempat kaget melihat harga ABD yang mencapai puluhan juta untuk barang sekecil itu. Akhirnya ada yang harga ekonomis, sepasang Rp 16,5 juta. Mereka tidak membeli, baru tanya-tanya saja seputar type, spesifikasi serta garansinya.

IMG_0752
ABD milik Barraz

“Pulang dari hearing center, saya cuma diam saja. Saya mikir gimana bisa dapat uang sebanyak itu sedangkan saya nggak pegang uang,” kata Wiji menerawang membayangkan situasi dua tahun lalu

Sesampai di rumah, mereka cerita hasil tes dengar Barraz dan biaya yg harus di keluarkan buat beli ABD. Keluarga mereka sangat terpukul sedih menghadapi cucu cicit yang dinantikan ternyata ada gangguan dengar. Orang tua Wiji dan Iva pun bukan dari keluarga dengan harta melimpah ruah yang langsung bisa beli ABD.

Wiji dan istri pun berunding untuk pinjam bank dan membeli alat sebelah dulu. Mereka sudah habis-habisan saat terapi wicara per bulan 2,4 juta selama 6 bulan itu dan tak punya tabungan sama sekali. “Kami berencana hutang dulu untuk beli ABD satu. Terus kalau sudah lunas, ambil hutang lagi buat beli ABD yang sebelahnya,” kata pria asal Klaten itu.

Mereka pun pengajuan pinjaman ke Bank. Namun pinjaman pun tetap kurang. Mereka menambah dengan jual barang apa saja yang bisa dijual misalnya radio tape, kipas angin, speaker, anting, gelang, kalung bahkan cincin kawin pun ikut terjual. Bagi orang lain mungkin barang-barang itu tak seberapa, tapi buat pasangan Wiji dan Iva, semua sangat berarti hasil menyisihkan uang beberapa tahun.

“Semua kami jual. Habis-habisan mbak,” kata Iva. “Pokoknya semua kami usahakan demi beli ABD,” Wiji menimpali sambil tertawa kecil mengenang perjuangannya. Semua dilakukan tanpa penyesalan karena mau berusaha yang terbaik buat anak. Ironisnya, di saat kejepit butuh uang, ada saja yang masih ngambil kesempatan nipu dalam pembelian itu. Duh.. Memang sebuah ujian kesabaran.

Setelah uang pinjaman cair, dan uang penjualan barang rumah terkumpul, mereka langsung ke HC untuk bayar ABD sebelah dulu. Alhamdulillah anak saya langsung mau pakai. “Dari toko, saya tidak langsung pulang kerumah, tapi saya mampir ke rumah sanak family. Saya ingin memperlihatkan alat yang di pakai Barraz sekaligus untuk menguatkan mental saya,” kata pria yang ingin Barraz sekolah tinggi dan sukses nantinya ini.

IMG_0742
Bertiga..

Barraz pun mulai terapi lagi tapi cuma ambil seminggu sekali, karena uang hasil jual angkringan harus dibagi-bagi untuk makan, angsuran bank dan terapi.

Setelah memakai ABD sebulan, Barraz sudah mulai merespon suara. Di sisi lain ternyata ibunya, Iva, masih nggak begitu tahu dampaknya ganguan dengar. Dia masih tenang-tenang saja. “Saya pikir ya cuma ada gangguan saja. Trus kalau pakai alat bisa normal senormal-normalnya orang lain,” katanya sambil senyum teringat kepolosannya.

Setelah Iva sadar karena diberi tahu suami efek dari gangguan dengar, dia langsung drop dan nggak mau keluar rumah. “Hampir tiga minggu saya mengurung diri di kamar,” kata Iva. Dia merasa nggak ada gairah bangun dari tempat tidur dan beraktifitas apapun. “Saya membayangkan masa depan Barraz suram. Gimana nantinya. Rasanya semua harapan saya hilang. Benar-benar hilang semuanya,” katanya mengenang masa suram itu. Dia juga selalu menangis setiap melihat Barraz. “Hanya air mata yang terus ngalir,” tambahnya sambil berkaca-kaca. Dia teringat saat berada di jurang kesedihan itu.

Kondisi ibu Barraz dibiarkan beberapa saat oleh suaminya agar puas dulu menangis dalam kesedihan. “Secara perlahan saya kasih tau kalau barraz bisa bicara asal ada penanganan sesuai rekomendasi dokter,” kata Wiji. Iva pun bangkit dan melihat ada harapan cerah. Dia kembali beraktifitas, semangat mendampingi Barraz dan juga aktif berkegiatan dengan kelompok Hadroh hingga saat ini.

IMG_0758
Iva dan kaelompok Hadrohnya. Mereka aktif dalam berbagai kegiatan dan perlombaan.

Setelah memakai ABD 3 bulan, ada info sekolah bagus di wonosobo. Bapaknya Barraz pun berniat menyekolahkan disana. Tapi alhasil malah bertengkar dgn Istrinya karena nggak tega kalau anak sekecil itu tinggal jauh dari orang tua di Wonosobo. Akhirnya dihapuslah keinginan itu.

Ternyata Barraz menikmati pakai ABD. Awalnya, mereka berniat beli ABD lagi kalau hutang lunas kira-kira setahun. Tapi pada bulan ke 3 pemakaian, Barraz sudah mau nengok saat di panggil namanya dan dia sering nunjuk telinga satunya tanda minta di pasangkan ABD lagi. “Sebagai bapak, saya merasa sedih banget, terpukul karena tak bisa langsung memenuhi keinginan anak saya,” kata Wiji menerawang.

Kemudian ada Saran dari kerabatnya untuk masuk grop Dunia Tak Lagi Sunyi (DTLS) karena ada banyak teman seperti barraz. Setelah bergabung, Wiji mengutarakan uneg-unegnya di sana,. “Syukur alhamdulillah saya di japri dermawan yg mau menghibahkan ABD nya. Sujud sukur kami bahagia tak terhingga,” kata Wiji sambil senyum.

Di bulan ke 6 , Barraz bisa memakai ABD dua. Namun Barraz jarang TW karena keterbatasan biaya. “Jualan angkringannya malah tambah sepi,” keluhnya.

Meski sudah pakai ABD, mereka pun dapat masukan dari keluarga untuk pengobatan alternatif ke karawang. Saat itu medianya air zam-zam. Iva dan Barraz sempat berdua saja di sana karena bapak Barraz harus cari uang. Tapi 6 kali pertemuan, Barraz sudah tidak mau dan tantrum (nangis terus karena marah atau frustasi yang biasa dialami anak-anak).

“Rasanya sedih banget, melihat Barraz nangis dipegangi dan diglonggong air zam-zam banyak banget,” kata Iva. Kami pun konsul sama terapis, di kasih tahu beliau yakin bahwa Barraz bisa bicara. Mereka putuskan pulang ke Jogja lagi.

Dengan menghitung hasil jualan angkringan , mereka pun harus berpikir cari tempat terapi lain yang harganya terjangkau dan cocok buat Barraz karena sebelumnya juga kurang pas. Akhirnya mereka menemukan tempat terapi di Rumah Kata. Mereka kembali semangat. Hujan pun tak menghalangi datang terapi.

IMG_0738
Hujan pun mereka tembus dengan memakai jas hujan..

Mereka pun diberi kemudahan rejeki. Iva diajak buka kantin di kampus dan pak Wiji bisa mengelola lahan parkir di warung sate kerabatnya. Iva pun juga menerima orderan makanan atau membuat snack, kue-kue jajan pasar. (Kalau mau pesan makanan, monggo boleh banget. hehe… ). “Alhamdulillah cukup buat hidup dan terapi meski tidak melimpah,” kata Wiji.

Mendidik Anak Tuli

Saat beberapa kali mulai terapi di tempat baru, Barraz awalnya tak mau ditinggal hingga sampai 6 kali pertemuan. Terapisnya kemudian bertanya pola asuhnya pada Barraz. Akhirnya diketahui bahwa Barraz memang dimanja oleh semua anggota keluarga besarnya dan sering mengandalkan tangisan.

Ternyata pola asuh itu memang salah kalau diterapkan ke ATR. Sepulang dari terapi ke 6, pola asuh Barraz diubah. Bapak ibu Barraz memberi tahu semua tetangga atau keluarga agar jangan memanjakan Barraz. “Saya bilang jangan beri apapun pada Barraz kalau dia meminta dengan menangis atau merebut sesuatu. Bila nangis biarkan saja,” kata Wiji. Barraz pun juga diberi disiplin dan tanggung jawab.

IMG_0764
Foto di depan menara Eiffel KW. Mirip aslinya kan? hehe

“Alhamdulillah, setelah semua saya praktekkan, Barraz ada kemajuan dalam pengeluaran suara dan bisa mulai mengimitasi suara,” kata Wiji.

Iva menambahkan, satu hal yang membuat dia sangat terharu adalah saat Barraz mulai bicara. “Kata pertama yang dia bisa ucapkan adalah Allah. Saya bangga, kata itu yang bisa diucapkan. Meski dia belum bisa memanggil saya sebagai ibunya, tapi dia lebih dulu menyebut Allah SWT penciptanya,” kata Iva dengan mata berbinar.

Langkah keluarga Barraz tidak menunda-nunda beli ABD dan tak menyerah dengan keadaan sungguh tepat. Saat ini kemajuan demi kemajuan terus terlihat. Barraz sudah mengerti banyak kosa kata dan kemampuan komunikasinya terus meningkat.

Jakarta, 18 Agustus 2017
illian Deta Arta Sari
081282032922

Ini beberapa tips dari bapak ibu Barraz untuk orang tua yang mencari ABD:

1. Datangi semua hearing center yang bisa dijangkau.
2. Konsultasikan ganguan dengar ke petugas, dan cari tahu ABD apa yg cocok.
3. Tanya garansi sedetail-detailnya mulai dari masa garansi ABD termasuk mesin dan casing, berapa tahun garansinya dan bagaimana cara mengklaim.
4. Tanya bagaimana pelayanan purna beli ABD seperti:
* FFT AIDED
* evaluasi pemakaian ABD