
Tadi liat foto Aziza jalan bergandengan tangan sama Noel anak pak Amani Aaron Manik sesama pemakai implan koklea. Mereka seperti dua robot yang imut. π Trus aku ingat sebuah dialogku dengan sesama ortu, sebut saja Kembang, Bunga dan Puspa di kesempatan yang beda. Narasinya biasa tersebar di dunia online dan offline di kalangan anti implan..
Dalam hidup, perbedaan itu wajar dan sepatutnya saling menghargai. Tapi tak jarang kita ketemu orang yang sok paling benar. Termasuk dalam memilih jalan buat anaknya. Ada manusia-manusia anti implan yang suka nyinyir. Ortu implan dinyinyirin, pilihan belajar bahasa verbal juga dinyinyirin. π¬Seolah pilihan mereka yang bukan kami pilih adalah mutlak yang terbaik, paling mulia derajadnya. Duh π.. Senyumin aja. π Mungkin kebahagiaannya adalah nyinyir pada orang lain meski senasib: tuna rungu atau punya anak tuna rungu. Bismillah, saya terus Mencoba maklum dan sabar. Orang yang sabar tentu disayang Tuhan. Hehe amiin. π Hempaskan omongan nyinyir. πππ π #JustSaying
(NB: Aziza saat ini terus belajar berbahasa verbal dengan metode menyenangkan. Dia masih menyusun kalimat panjang. Sama sekali tak menyiksa. Semua dilakukan dengan bermain, kapan saja di mana saja. Semua bisa dilihat dari foto, video atau tulisan di blog. Aziza anak yang ceria dan happy selalu. Saat ini kami sebagai orang tua berusaha semaksimal mungkin melakukan apa yang bisa kami lakukan. Semoga dengan kemampuan verbalnya, kelak Aziza bisa meraih semua impiannya melebihi bapak ibunya. Amiiin. Doa yang sama buat semua anak implan dan ortunya yang juga dinyinyiri.. π Amiin π)


Alhamdulillah saya dan mbak Anita Fatmawati ibu pemakai Implan Koklea bisa bersilaturahmi dengan Direktur Utama RSCM Dr. dr. Czeresna Heriawan Soejono, Direktur Medik Dr. dr Ratna, dan juga dr Angga serta dokter bedahnya Aziza yaitu dr Harim. Bismillah. Semoga sekecil apapun yang kami lakukan bisa membawa kebaikan. amin. π

Alhamdulillah senang sekali bisa berkumpul dengan keluarga implan koklea di Surabaya.. Saya bertemu bu Sinta Nursimah dan pak Gutomk pendiri Aurica serta putrinya mbak Sri Andiani yang implan sejak 3 tahun dan punya segudang prestasi termasuk juara olimpiade Biologi Nasional.

Di dunia ini, ada saja suami-suami yang tak mendukung istrinya berjuang demi anaknya yang berkebutuhan khusus. Bahkan, ada juga suami-suami yang tega tak memberi nafkah atau bahkan menceraikannya. Duh Gusti.. π
Rasanya tak lengkap kalau ke Surabaya nggak bawa Aziza ke Monkasel. Ini kapal selam PASOPATI yang dimiliki Indonesia tahun 1952.
Lulus kuliah, aku langsung kerja jadi wartawan hukum di kantor pusat Jawa Pos Surabaya di akhir 2003. Ibarat besi, dulu aku digebuki eh maksudnya ditempa ya di Surabaya. Hehe π¬Banyak banget pelajaran hidup, banyak suka plus dukanya. Hingga selanjutnya aku pindah ke Jakarta dan menginjakkan kaki di Surabaya terakhir tahun 2006.
12 tahun sudah aku nggak ke Surabaya, dan baru kali ini datang lagi bersama Aziza.. Pas turun di bandara Juanda, rasanya maknyes. Beneran mengharu biru π.
“Mukjizat itu nyata,” kata Replan Manik, ayah Christoper Tigor Noel Manik (4,4 tahun) penuh suka cita saat bercerita soal implan koklea. Replan dan istrinya Melody Siburian tak menyangka Noel mengalami gangguan dengar sangat berat. Mereka sudah berupaya memakaikan ABD, namun tak banyak perubahan. Akhirnya mereka memutuskan implan koklea.
Tuhan pun memudahkan jalan mereka. Noel akhirnya menjalani operasi implan koklea 22 November 2017. Kini Dia banyak menunjukkan kemajuan. “Semoga Tuhan selalu memberkahi kami,” doa Replan Amani Aaron Manik.
Bagi saya sendiri yang mengikuti perjuangan Noel. Saya salut dengan ayah ibunya.

Ada info salah soal implan koklea bahwa anak bisa gila, sakit menjerit-jerit, membuat bodoh, susah menghafal, sangat berbahaya dan lainnya. Karena itu implan koklea harus dilarang. Ada juga penolak implan lain mencontohkan anak pemakainya yang gagal mendengar dan bicara. Di sisi lain dunia medis internasional sudah mengakuinya dan lebih dari setengah juta orang di dunia pemakai implan sudah terbantu. Seberapa bahaya sih? Saya pun wawancara khusus dengan Dokter Harim Priyono Sp.THT-KL yang sudah mengoperasi sekitar 310 pasien implan di Indonesia .
Lanjutkan membaca “Memahami Resiko Implan Koklea dan Antisipasinya”

Semalam saya ikut Australian alumni Gala Dinner. Saat itu komisioner KPK Pak Laode Muhammad Syarif dapat penghargaan sebagai “The 2018 Alumni of The Year” yang berjasa buat masyarakat dari pemerintah Australia. Pas kusapa karena lama tak ketemu, yang ditanyakan pertama adalah “Eh apa kabar? Gimana anakmu?” … Duh maknyes.. Senang Aziza diperhatikan π.
Saya pun menjelaskan perkembangan Aziza yang saat ini sedang belajar mengombinasikan tiga kata dalam satu kalimat. “Alhamdulillah,” katanya.

Yesterday, Aziza and i took Bajaj, a kind of traditional public transport to the auditory verbal therapy clinic. Aziza brought her two lovely dolls Welas and Asih. Welas cannot hear clearly because she has profound hearing loss. That is why she wears cochlear implant just like Aziza. Meanwhile, Asih cannot see clearly, she has low vision so she wears eye glasses. In Javanese language, the words Welas and Asih mean love and care to other people. π

Ada info yang sesat bahwa implan koklea bisa membuat gila, bodoh atau membatasi aktifitas. Ketiga anak ini membuktikan, Implan koklea tak menghalangi pemakainya untuk tetap berprestasi. Baru-baru ini, Azelia Salsabila (13 tahun), Daneshvara Raja Woga (12 tahun) dan Nadia Safira Zafira (10 tahun 10 bulan) mendapatkan medali emas di bidang olahraga. Ketiganya tuna rungu yang lancar bicara.
