Di dunia ini, ada saja suami-suami yang tak mendukung istrinya berjuang demi anaknya yang berkebutuhan khusus. Bahkan, ada juga suami-suami yang tega tak memberi nafkah atau bahkan menceraikannya. Duh Gusti.. 😭

Menghadapi kenyataan mempunyai anak difabel tidaklah mudah. Butuh dukungan kuat khususnya dari keluarga terdekat untuk bangkit dari sedih. Butuh juga kekompakan suami istri untuk melangkah bersama karena perjalanan akan panjang, menguras tenaga, waktu, pikiran dan finansial.

Baik ayah maupun ibu tentu sama-sama beratnya menghadapi fakta anaknya mempunyai masalah bawaan lahir. Semua awalnya pasti sedih. Tentu semua orang ingin anaknya tak punya kekurangan apapun dan bisa sama dengan anak lain.

Fase denial atau susah menerima kenyataan sangat manusiawi dirasakan. Pertanyaan yang muncul biasanya mempertanyakan “kenapa?”. Namun yang terpenting adalah mengatasi perasaan itu dan move on.

Ada juga yang tetap tak terima kenyataan dan merasa malu. Kalau orang tuanya malu, bagaimana dengan anaknya yang mengalaminya? (Mungkin ini juga yang membuat ada saja orang tua menitipkan anak difabelnya ke keluarganya yang jauh atau ke panti asuhan anak berkebutuhan khusus. Entahlah..)

Tanpa mengecilkan peran suami, perasaan sebagai ibu yang mengandung 9 bulan 9 hari dan melahirkan, tentu lebih campur aduk tak karuan. Ada banyak perempuan yang bisa bangkit dan melangkah karena ada suami di sisinya. Alhamdulillah saya mempunyai suami yang sangat mendukung dan menjadi partner yang baik dalam menentukan apa saja buat anak spesial kami Aziza.

Tapi ada juga cerita-cerita perempuan lain yang tak cukup dapat dukungan suami. Bahkan suaminya malah menambah masalah lagi atau malah tega melakukan kekerasan fisik atau psikis 😭. Ada juga perempuan yang akhirnya mengalami gangguan jiwa karena tak kuat menghadapi kenyataan.

Beberapa perempuan dituding membawa bibit yang jelek entah oleh suami atau keluarga suami. Stigma miring tak jarang ditujukan pada perempuan 😭. Padahal, siapapun takkan tahu akan mendapat anak seperti apa. Semua adalah mutlak di tangan Tuhan.

Tak sedikit kisah mertua yang galak pada mantu perempuan yang keturunannya berkebutuhan khusus. Kadang, perlakuan pada sang mantu perempuan dan cucu difabelnya berbeda dengan perlakuan pada mantu dan cucu yang lain. 😓.

Bahkan ada juga mertua yang tega menyuruh anak lelakinya menceraikan istrinya yang tengah berjuang demi sang anak.. (Duh gusti.. 😭).

Bagi lelaki, mungkin ada yang mudah tutup mata, cerai, meninggalkan istri dan anaknya lantas menikah lagi. Tapi buat ibu yang mengandung, merasakan tendangan diperut, melahirkan bertaruh nyawa? Kalau bukan ibunya, siapa lagi yang akan menyayangi tanpa syarat?

Rasanya susah diterima akal sehat kalau ada seorang istri menceraikan suaminya dan begitu saja meninggalkan anaknya yang difabel dengan suaminya.

Tak sedikit kisah istri-istri yang harus mati-matian jumpalitan cari uang karena suami cuek, tak memberi uang, tak peduli kebutuhan anak spesialnya yang menggunung dan kadang butuh dana cepat 😭. Seringkali kebutuhan mendadak tak kenal waktu dan jumlahnya nggak kira-kira besarnya.

Istri yang harus mendampingi anak sering tak bisa bekerja. Ada saja cerita istri yang sibuk mengurus anak spesialnya karena harus terapi ini itu, harus mondar-mandir ke dokter dan tak bisa kerja dianggap tak cukup membanggakan. Ada juga yang dianggap membebani, melakukan pemborosan dan tak produktif. Istri yang berjuang justru disalahkan.😭 Bukankah harusnya bersyukur sang istri bisa tegar dan tak lelah mengupayakan hal baik buat anaknya?

Anak spesial kebutuhannya memang seringkali diatas rata-rata anak biasa. Tergantung kondisinya. Namun tak jarang, ada pula suami yang masih tega bersenang-senang di luar, di saat kebutuhan anak belum tercukupi. Artinya kebutuhan anak jadi nomor sekian sekian sekian 😭. Contoh sederhana misalnya suami enteng merokok yang hitungan sebulannya ratusan ribu namun merasa berat membayar biaya terapi anaknya atau beli obat. 😭

Kadang saya sedih kalau ingat cerita-cerita pilu ibu-ibu yang berjuang tanpa dukungan suami dan keluarga.

Doaku buat perempuan-perempuan tangguh yang suaminya tak cukup mendukung. Tetaplah tangguh setangguh karang demi anak. Semoga suami berubah. Amiin..

Kalau memang harus berpisah dengan suami semoga dikuatkan. Bisa saja hidup akan lebih bahagia karena bebas dari situasi yang menyiksa. Soal rejeki, Tuhan Maha Baik. Rejeki bisa datang dari arah tak disangka-sangka.

Buat suami-suami, mengertilah kesusahan ibu dari anak-anakmu. Mengertilah anakmu adalah darah dagingmu. Sesusah apapun, tak pantas suami tutup mata atas kebutuhan anak atau malah meninggalkan istri berjuang sendirian. Butuh sebuah team work yang kompak dan saling mengisi. Seharusnya suami-suami makin cinta pada istri yang penuh kasih merawat anak istimewanya. Ini adalah bagian dari ibadah..

Jakarta , 6 Mei 2018

Illian Deta Arta Sari