9075BE02-0A05-4C0B-884A-F884CA289A62

“Sudah jangan cerewet.. Mama lagi sibuk,” bentak seorang perempuan kesal sambil pegang gadget. “Anak kecil cerewet amat sih. Nurut aja sama orang tua,” kata yang lain. “Kamu budeg ya? Dipanggil nggak nyahut. Diajak omong diam saja!” Kira-kira gitu diucapkan orang pada anaknya sambil kesal. Matanya melotot. (Ehem.. semoga teman fbku tak ada yang pernah keceplosan marah gini).

Hiks.. Mereka tak tahu perjuangan orang tua anak-anak tuli sepertiku agar anaknya bisa mendengar, berbicara dan cerewet. Sungguh mendengar dan kecerewetan itu berbiaya mahal.. Andai mereka tahu.. 😊

Beberapa kali aku mendengar langsung orang tua yang marah-marah, nggak sabar saat anaknya diam saja. Ya kan bisa dikasih tau baik-baik tanpa mengumpat ngatain anaknya budeg. Ada juga yang marah saat anaknya cerewet bertanya ini itu maupun ngomong terus atau protes. Duh.. aku cuma ngelus dada..

Dulu, Aziza mendengar suara saja tak bisa. Dia hanya bisa dengar deru mesin pesawat dari jarak 6 meter. Dulu meniru huruf “A” saja Aziza tak mampu. Mulutnya terbuka lebar, tapi tak ada suara. Hanya terlihat rongga mulutnya 😊

Andai orang tua yang marah-marah itu tahu, agar anak tuli bisa bicara, anak perlu diberikan akses mendengar. Ada yang bisa pakai alat bantu dengar (ABD) seharga belasan hingga puluhan juta. Namun yang tuli sangat berat ada yang memilih jalan operasi implan koklea, ratusan juta seperti anakku. Butuh kesiapan psikis juga menghadapi operasi. Kepala dibor. Tentu demi segunung harapan yang baik.

Aziza operasi gratis pakai BPJS (kalau bayar sendiri puluhan juta) dan beli alat implan termurah 245 juta. Kalau paling mahalnya 800an juta. Aku beli yang termurah, itupun dibantu begitu banyak teman yang mengulurkan tangan. ❤️ Seumur hidup Aziza bakal pakai alat implan itu. Pakai ABD atau implan tetap sama-sama perlu menyiapkan biaya ganti alat atau upgrade berkala dengan harga kurang lebih sama. Kira-kira 6-8 tahunan perlu ganti. Tagihan seumur hidup 😊.

Kalau tahu besaran biaya itu, masihkah memaki anaknya budeg pada anak yang bisa mendengar? kalau budeg beneran piye cobak? 😊

Setelah pakai alat, semua tak selesai begitu saja. Meski pakai alat, anak tuli tetap tak bisa otomatis bicara. Butuh terapi intensif dengan terapis dan di rumah. Aziza sudah 2,5 tahun menjalani Auditory Verbal Therapy (AVT). Per satu jam sesi terapi biayanya 250an ribu. Kalau bayar paket 2,8 juta per 12 sesi. Biaya ini termasuk yang murah loh. Ditempat lain ada yang 500 – 1 juta perjam. Beberapa teman terapi di Singapura per sesi satu jam jutaan 😊. Aziza awalnya ambil 8 kali sebulan lalu sekarang ambil 4 kali saja atau 1 juta sebulan. Belum biaya transportnya mondar-mandir.

Ternyata Aziza ada masalah oral motor. Kosakata dan bicaranya banyak. Tapi bibir atas agak malas bergerak, jadi butuh terapi fokus pada oral motornya. Biayanya? Per sesi sejam 250 ribu dengan terapis datang ke rumah.. Aziza ambil 2 kali seminggu atau 8 kali sebulan. 😊. Alhamdulillah Allah SWT mencukupkan.

Ada orang yang begitu ingin mengimplan anaknya tapi belum ada rejeki. Di sisi lain ada orang lain yang sayang mengeluarkan uang untuk implan dan prosesnya. Ada yang pernah komentar daripada buat implan mending buat umroh atau haji, beli rumah atau buat modal usaha. Pernah ucapan itu terucap langsung di depanku. Aku cuma senyum.. Semua orang bisa beda pemikiran. Buat aku dan suami, semua diusahakan buat anak..

Kami berusaha sekuat-kuatnya, sekeras-kerasnya.

Aku pun berhenti kerja buat Aziza. Kadang suka pengen kerja lagi kalau liat teman-teman berkarir dan melesat tinggi. Tapi ah kutepiskan itu. Project hidupku saat ini adalah mendampingi Aziza agar bisa fokus mendengar dan bicara dengan baik. Harapanku buat masa depannya. Tentu juga ngurus anak yang lain juga. 😊

Sudah kebayang tho betapa mahalnya sebuah kecerewetan? Belum lagi soal menata emosi dan menjaga semangat karena kadang lelah mendera. Aziza sekarang sudah cerewet. Tapi ada kata-kata yang tak jelas. Aku sangat menikmati setiap ocehannya. Dia pun banyak bertanya dan sering mengulang-ulang pertanyaan karena ingin tau. Ya terus kujawab. 😁. Kami masih terus mendampingi terapi agar dia bisa mengucap kalimat spontan lebih panjang lagi, lebih terstruktur dan jelas semua.

Saat ada orang tua punya anak bisa mendengar lalu ngatain budeg, aku teringat anakku yang memang budeg atau tuna rungu dan kuupayakan  mendengar. 

Saat ada orang tua sebel anaknya cerewet, justru itulah yang kami nanti-nantikan.. 😊

Semoga semua lebih baik..

Kalau anak tak merespon, jangan memaki budeg.
Kalau anak cerewet, jangan dikata-katain.

Ingat saja ceritaku dan Aziza serta ribuan orang tua serta anak tuli lainnya. Tak perlu mengalaminya untuk bisa menghagai itu. Harusnya bisa bersyukur 😊. Anak cuek diam saja ya dievaluasi, apakah anak lagi sibuk kebanyakan gadget, tv, ngelamun, ada masalah syaraf, konsentrasi atau ada masalah kedekatan dengan ortu. Kalau anak bertanya ini itu ya dijawab. Anak cerewet ya dinikmati saja tanpa harus mengeluarkan uang ratusan juta.. 😊

NB: Ditulis setelah mendengar ada ortu memaki anaknya begitu.. 😥

Selamat Hari Anak Nasional ❤️❤️