Mendongeng atau membaca buku bersama anak tuna rungu sangat penting untuk melatih pendengarannya dan meningkatkan kemampuan bahasanya. Sudahkah kita rutin membaca buku bersama anak? 😊 Atau malah jarang karena anak susah diajak baca buku? Atau malah orang tuanya yang sibuk? 😭

IMG_0771
Aziza menumpuk buku yang selesai kami baca berdua. Dengan cara ini, Aziza akan berusaha terus dan terus menambah buku yang dibaca bareng. 😊

Anak tuna rungu yang baru belajar mendengar dan belajar berbicara membutuhkan input bahasa sebanyak mungkin. Semakin banyak  dan semakin sering suara atau kata-kata jelas didengar, maka anak semakin memahami kata tersebut dan tentunya akan mendorong pengucapan spontan.

Otak bagian mendengar atau auditory brain jelas perlu dilatih setelah sebelumnya tidak pernah mendengar sama sekali atau mendengar samar-samar dan tak banyak mengenal kata-kata.

Menurut Erber (1982) level hierarkhi kemampuan auditory dalam merespon suara ada 4 yaitu: deteksi, diskriminasi, identifikasi dan komprehensi/pemahaman (detection, discrimination, identification and comprehension). Kemampuan untuk mendengar perlu terus dilatih. Begitu juga kemampuan bicaranya.

Mengajari anak tuna rungu bicara tentu butuh usaha extra ketimbang mengajari bicara pada anak tanpa gangguan pendengaran karena anak tuli harus mengejar ketinggalannya di tengah keterbatasan mendengarnya.

Salah satu cara melatih kemampuan mendengar, menyimak, mengolah kata atau memberikan bahasa pada otak yaitu dengan membaca buku. Aktifitas ini merupakan salah satu terapi bagi anak sendiri.

Membaca buku dapat merangsang phonological awareness  yaitu kemampuan berbahasa lisan dalam hal yang berhubungan dengan aspek suara, termasuk irana atau aktivitas yang berfokus pada fonem, suku kata, dan kata.

Membaca buku untuk anak tuli tak harus menunggu anak bisa imitasi. Justru sejak awal sudah didekatkan dengan buku sebagai bagian dari terapi. Kadang saya mendengar ada orang tua tidak membacakan buku atau tidak meneruskan terapi karena merasa sia-sia soalnya anak tidak ada respon 😔. Padahal kalau alat sudah sesuai kebutuhan dan tak ada gangguan kesehatan penyerta lain, bisa saja anak sudah mendengar tapi memang masih belum keluar suaranya. Sungguh tak ada usaha yang sia-sia.

Begitu banyak penelitian yang menyatakan pentingnya membaca buku untuk mendukung kemampuan bicara / berbahasa bagi anak gangguan dengar pemakai ABD atau implan koklea. Saya tidak akan menuliskan soal teori-teori akademik dan hasil penelitian tersebut. (Karena bakal panjang banget tentunya hehe). Saya share saja pengalaman membaca bersama Aziza dan tips-tipsnya.

IMG_0775
Kami rutin ke toko buku Gramedia katena dekat dengan rumah. Meski cuma beli satu buku, Aziza terlihat senang sekali dan semangat membaca buku barunya berulang-ulang di rumah. 😊. Jadi nggak harus beli buku banyak sekaligus deh 😬

Waktu Terbaik Untuk Membaca Buku

Banyak yang bertanya, sebanyak apa buku yang kami baca. Aziza dan saya minimal membaca 10 buku per hari bersama-sama. Kalau Aziza sedang semangat banget membaca buku, kadang kami bisa membaca 40 buku yang dibaca pagi, siang, sore atau malam. Semua tergantung ‘timing‘ atau waktu yang tepat untuk membaca.

Soal waktu membaca, yang terpenting adalah melihat mood anak agar saat membaca buku bisa efektif dan efisien. Saat anak mau tidur siang atau tidur malam juga dibacakan buku.

Agar anak tidak bosan membaca, maka kesempatan baca bisa kapan saja, di mana saja, dan sedang apa saja. Tak harus duduk manis serius. Agar mudah meraih buku, maka di kamar saya dan suami ada buku, di ruang tengah ada buku, di kamar Aziza ada buku, di ruang tamu ada buku, di mobil pun saya taruh buku. Bahkan di tas saya pun juga selalu ada buku saku kecil-kecil buat Aziza. Pokoknya kemana saja Aziza akan ketemu buku hehe.. 😬.

IMG_0772
Ada beberapa buku bantal yang saya taruh di mobil. Ini salah satunya dengan beragam aktifitas biat tidak bosan di jalan.

Memilih Buku
Buku untuk dibaca anak tergantung pada umur, dan hobinya. Untuk anak usia dini, sebaiknya pakai buku yang banyak gambarnya dan sedikit tulisannya. Gambar yang besar dan berwarna-warni cerah bisa membantu anak fokus pada gambar di saat kita bercerita atau membaca. Gunakan jari untuk menunjuk agar anak fokus pada apa yang kita ceritakan.

Semakin besar, tentu bukunya makin berganti sesuai kebutuhan dan kemampuan literasinya.

Karena Aziza suka bawa-bawa buku kemana saja, kadang ditaruh di kereta dorong mainan, kadang ditaruh di bawah bantal, kadang dimainin dengan ditumpuk, maka saya memilih jenis buku hardbook dan juga buku bantal dari kain agar tak mudah lecek, basah dan robek.

IMG_0777
Aziza sangat terkesima dengan buku ajaib mewarnai dengan air. Kalau diusap dengan pensil air, warna gambarnya akan muncul. Berkat buku ini, Aziza cepat menghapal semua binatang di bukuny dan bisa mengucap spontan.

Agar Aziza tidak bosan membaca buku, saya sediakan juga variasi buku yang ada aktifitasnya. Misalkan ada bagian menarik ke atas, menarik ke samping, membuka celah di dalam buku, ada rekatan untuk tempel-tempel, ada gambar pop up (bagian 3 dimensi yang keluar dari buku saat dibuka) atau buku dengan tempelan magnet. Ada juga buku ‘ajaib’ mewarnai dengan pensil air.

Untuk mendongeng atau menjelaskan bukunya, tentu dibutuhkan mulut yang “cerewet positif” . Hehe

Membaca bukunya juga tidak harus selalu buku baru. Buku lama pun kami ulang-ulang terus. Saking hapalnya pada beberapa buku, Aziza bahkan bisa bergantian bercerita dengan imajinasinya menggunakan bahasanya yang kadang belum terucap utuh.  Dia tidak mau saya yang bercerita 😬.

Meski ucapannya banyak yang belum sempurna, tapi yang jelas Aziza mengetahui nama-nama aktifitas atau benda di dalam buku karena dia sudah memahami.

IMG_0774
Aziza senang bercerita dari buku yang sudah dikuasai kosakatanya.

Teknik Membaca
Untuk anak usia dini, tentu orang tuanyalah yang harus mengembangkan cerita dari gambar. Pinter-pinternya orang tua lah ya biar menarik dan anak betah mendengarkan. Gunakan suara berirama saat bercerita agar anak tidak bosan. Pilih kata sederhana dan membacanya mengalir tanpa harus saklek membaca yang dibuku.

Jangan lupa ekspresi wajah atau gerak tubuh saat bercerita juga penting membangun imaginasi anak. 😊

Saat membaca, usahakan senatural mungkin bicaranya, tapi jelas. Jangan terlalu keras, jangan terlalu lemah dan jangan terlalu cepat juga. Harus diingat, kita mendongeng untuk anak yang masih tahap belajar mendengar dan bicara.

Seperti halnya dengan teknik Auditory Verbal Therapy (AVT), saat membaca kita juga dorong anak mengucap spontan tentang apa yang baru saja kita bacakan. Misalkan kita membaca buku bergambar tentang binatang ternak. Kita kenalkan satu persatu namanya dan aktifitasnya. Kemudian kita minta anak mengulang.

Saat membaca buku, kita jangan cepat-cepat beralih ke halaman berikutnya. Sekali-dua kali, tiga kali kita minta anak mengulang kata-kata baru yang diajarkan. Kemudian yang ke-empat kita tanya binatang apa itu sambil menunjuk buku. Begitu seterusnya. 😊

Tapi bagaimana kalau anak membuka buku duluan dan loncat ke halaman berikutnya atau belakang? Ya tidak apa-apa. Kita ikuti fokus anak. Saat anak ngotot ingin melihat sesuatu, kita terangkan. Kalau sudah mau nurut, kita bisa kembali ke halaman yang ditinggal tadi

Pengkondisian
Membaca pun butuh dikondisikan. Anak tuna rungu lebih dominan visualnya. Karena itu agar Aziza tidak doyan nonton TV, kami jauhkan TV. Sebenarnya kami sudah putus hubungan dengan TV sekitar 5 tahun, sejak 2012 hingga 2016. Namun sejak Agustus 2016, kami pasang TV lagi karena dapat bonus dari langganan internet. Kadang simbang yng ngasuh Aziza juga pengen lihat acara dangdut . 😬

Bagaimana caranya biar anak gak suka nonton TV? Caranya kami buat ruangan tidak nyaman buat nonton TV. Misal tak ada karpet atau sofa untuk malas-malasan nonton TV 😬. di ruangan juga kami dekatkan rak buku dan mainan agar anak lebih milih buku dan mainan.

Trik ini berhasil. Aziza dan kakak-kakaknya tidak begitu suka nonton TV. Hanya sesekali saja kalau sabtu atau Minggu sebentar, liat saluran Fox Movies Premium. Untuk sinetron no way lah 😬. Aziza pun nggak doyan nonton TV babar blas.

exif_temp_image
Ini ruang tengah lantai atas rumah kami, di dekat TV. Karena ada buku dan mainan, TV pun tidak laku 😬😬

Jaman sekarang banyak anak yang kecanduan gadget. Kadang ortu sibuk dan ingin anak diam, trus anak dijejelin hape, tab atau ipad. Karena itu saya dan suami hanya memberi hape, tab atau ipad pada Aziza pas hari Sabtu dan Minggu beberapa jam saja bareng sama kakak-kakaknya.

Bermain Dengan Buku
Kadang anak kecil ingin bermain menjejer-jejer buku, memasukkan di dalam tasnya atau menumpuk tinggi seperti membangun istana. Kalau sedang ingin main seperti itu, biasanya Aziza saya beri syarat. Boleh menumpuk atau menjejerkannya kalau sudah selesai dibaca. Akhirnya mau nggak mau dia akan berusaha membaca buku sebelum memainkannya.

Pada intinya, kami dorong Aziza dan juga kakak-kakaknya untuk baca, baca dan baca. Alhamdulillah, aktivitas ini cukup berperan penting dalam pengembangan bahasa Aziza. Kosakatanya terus dan terus bertambah.

Sungguh senang melihat Aziza dan anak tuli lainnya tak lagi harus terpaksa menjadi bisu berkat perkembangan dunia medis. Senang melihat banyak anak tuna rungu bisa jago pidato, kuliah hingga jenjang pendidikan tinggi juga. Dulu mungkin tak ada pilihan sehingga tidak bisa belajar bicara. Tapi sekarang ada jalan yang bisa dipilih.

Kalau ada tips lain agar anak tuli suka membaca, atau tips membaca efektif silahkan memberi masukan di komentar ya. Saya masih belajar juga. Semangat buat semuanya. 😊🙏

Jakarta, 21 Februari 2018
Illian Deta Arta Sari (081282032922)

Bacaan:

Literacy Skill in Children With Cochlear Implant :  The Importance of Early Oral Language and Joint Storybook Reading. 

Emergent Literacy in Kindergartners with Cochlear Implant

Reading Together: Tips for Parents of Children With Hearingloss or Deafness