Bullying bisa terjadi di mana saja pada siapa saja misalnya terhadap yang lemah atau berbeda. Banyak cerita anak tuli atau tuna rungu pun menjadi korban bullying entah di sekolah, di lingkungan rumah atau di mana saja. Berikut ini saya tuliskan pengalaman beberapa anak tuna rungu jadi korban bullying di sekolah dan cerita orang tua menyiapkan anaknya menghadapinya.

Kayla Angelene yang masih berumur 12 tahun bercerita pengalamannya dibully di sekolahnya. Dia mengalami gangguan pendengaran sangat berat di kedua telinganya dan mendapatkan implan koklea di tahun 2008.

Meski sudah berbicara sangat lancar, dan natural seperti orang lainnya, dia tetap mendapat perlakuan tak enak. Menurut Kayla, dia menerima bullying psikis dengan ucapan buruk dan juga ada bullying fisik seperti ditabrak saat berjalan.

“Dulu aku sering dikatain kenapa sih harus pakai alat gitu. Dikatain congek juga,” kata Kayla. Dia pun dikasarin oleh kakak kelas yang tidak suka. “Aku pernah ditabrak pas jalan. Aku tanya sama dia kenapa sih gitu sama aku?” katanya.

Kayla tak segan mempertanyakan tindakan tak enak yang dia terima sebagai bentuk ungkapan ketidaknyamanan. Namun yang jelas, ejekan atau sikap buruk tak pernah membuatnya terpuruk sedih. Dia tetap semangat sekolah dan menjalani aktifitasnya.

Saat ini Kayla bahkan pernah membintangi atau menjadi foto model untuk iklan beberapa produk terkenal. Dia pun berbagi tips agar move on dari hal-hal menyebalkan. “Nggak usah dipikirin aja omongan buruk orang. I don’t care,” katanya sambil senyum.

Siswi lain, Azelia Salsabila umur 13 tahun juga sempat mengalami bullying saat memasuki sekolah baru di bangku SMP. Di sekolah SD semua tau Azel tuna rungu pemakai ABD dan bisa bicara lancar. Tapi saat masuk SMP baru, kondisinya tidak dibuka langsung pada semua temannya.

Awalnya semua teman bersikap manis. Hingga suatu hari ada kegiatan sholat bersama dan Azelia membuka jilbabnya untuk berwudlu. Saat itulah beberapa teman mengetahui bahwa Azel anak tuna rungu yang memakai sepasang alat ABD dan sound processor.

Setelah mengetahui Azelia tuna rungu, teman-teman yang tadinya bersikap manis ada yang berubah total. “Aku pernah dikatai bodoh dan tidak diajak bicara,” kata Azel. Dia sempat sedih, dan bercerita kepada ibunya Anita Fatmawati.

Sebagai seorang ibu, tentu trenyuh melihat anaknya dibully. Bahkan teman sekolah Azel pun mampu berkata sinis kepada Anita. Dia pun berusaha menjelaskan kondisi pendengaran Azel pada teman Azel yang bertanya padanya.

Ibu tiga anak ini pun sempat menawarkan pindah sekolah pada Azel kalau memang tidak betah. Anita dia nggak tega melihat anaknya diperlakukan tidak baik. Tetapi Azel menolak dan tetap bertahan.

“Aku tidak apa-apa kalaupun satu kelas mendiamkan aku semua. Aku bisa mencari teman bicara kakak kelas atau adik kelas,” kata Azel yang membuat kedua orang tuanya terharu pada kegigihannya bertahan.

Anita dan suaminya Verry Iskandar terus mendorong Azel agar maju dan tak usah risau dengan omongan buruk temannya.

Azel tetap semangat sekolah hingga akhirya dia selalu mendapatkan nilai-nilai tertinggi di kelas. Bahkan dia mendapat ranking dan juara taekwondo. Azel membuktikan bahwa cacian padanya dan keterbatasannya tak menghalanginya berprestasi. Bahkan yang dicapainya melebihi teman-teman yang pendengarannya baik-baik saja. Akhirnya teman-temannya berubah menjadi baik.

Putu Ayu Sekarini Putri , siswi SMA di Bali juga mengalami hal sama. Meski sudah berbicara lancar, kadang ada juga ucapan buruk karena dia tuli. Tapi dia nggak mau ambil pusing omongan orang. Remaja yang biasa dipanggil Sherin ini juga menunjukkan bahwa meskipun dia tuli, dia bisa berprestasi , beraktifitas biasa, menari bali dan juga mampu masuk sekolah umum di Bali. “Nggak usah dimasukkan hati,” katanya.

Dokter Putri, Ibu Sherin selalu menyemangati anaknya agar cuek pada omongan orang. “Dari dia kecil saya tidak pernah menyembunyikan kondisi anak saya,” kata dokter Putri. Dia pun mengajarkan agar anaknya siap dengan sebutan apapun misal disebut tuli, tuna rungu, gangguan dengar atau budeg sekalipun. “Saya bilang nggak usah pikirkan omongan orang lain. Kondisinya kan memang seperti itu. Yang penting Sherin sekarang sudah bisa dengar kan?” katanya saat meyakinkan anaknya.

Saat ini Sherin memasuki masa puber remaja. Putri pun juga menumbuhkan kepercayaan diri anaknya agar merasa sama dengan teman perempuan lain dan tidak minder berteman dengan lelaki. “Semua orang punya jodohnya, jadi orang tua tak perlu terlalu waswas,” katanya.

Orang tua lain yaitu Julie Umbara, ibunda dari putra kembar Bowen Bayuriadi dan Barron Brahmaputra juga bercerita tentang bagaimana menghindari bullying di sekolah. Kedua anak kembarnya sama-sama mengalami profound hearing loss.

Menurut Julie, pada dasarnya, orang yang tidak tahu tentang ABD atau implan koklea akan penasaran dan mengamati atau bertanya soal itu. Begitu pula dengan anak-anak sekolah.

Oleh karena itu setiap pindah sekolah, dia minta kepada kepala sekolah untuk memberi kesempatan bagi dia dan anak-anaknya sekitar 10-15 menit untuk menjelaskan soal kondisi pendengarannya dan alatnya di depan kelas.

“Saat diberi waktu, kami sharing, bercerita di depan kelas. Biasanya kami berikan kesempatan buat anak-anak untuk melihat secara dekat dan menyentuh alatnya,” kata Julie sambil senyum. Tujuannya agar teman-temannya tidak penasaran dan iseng ngangguin alatnya. Dia pun berpesan, memegangnya hanya boleh hari itu saja.

Tips itu berhasil, anak-anaknya tidak pernah mendapatkan bullying di sekolahnya. Kini kedua anak kembarnya Baron dan Bowen sedang kuliah di Melbourne, Australia.

Dari kiri: Ibu Rini Nurbaety, Dhonna, Anita Fatmawati, Julie Umbara, Illian DAS, Agnes Phoa, Dokter Putri dan Pak Bambang Indrawan.

Orang tua lainnya yaitu ibu Agnes Phoa, mama dari Ricky Alfred juga berbagi pengalaman. Dia mengatakan, kunci terpenting agar anak tidak malu atas kondisinya adalah orang tua harus lebih dulu tegar dan tidak malu. Dia sering menjumpai ada orang tua mengatakan ingin anaknya percaya diri, tetapi justru orang tuanya mengajarkan anak yang sebaliknya.

Misalnya ketika ada ditempat umum ada yang berusaha mengamati alat anaknya tapi anak malah ditarik menjauh oleh orang tuanya. Atau kalau ada orang yang bertanya soal alat apa yang dipakai, malah ada orang tua tersinggung. Sesungguhnya, sikap orang tua itu ditangkap oleh anak sebagai bentuk untuk mundur, menutup diri atau menunjukkan malu atas kondisinya.

“Dari kecil saya ajari Ricky untuk bisa menjelaskan apa yang dia pakai dan kenapa dia pakai,” kata Agnes. Kalau ada yang bertanya dan anaknya diam, dia akan berusaha membuat anaknya yang berbicara, bukan dia yang menjawab. “Ricky, itu ada tante bertanya Ricky pakai alat apa? Dijawab dong,” katanya sambil mendampingi anaknya.

Dengan dorongan itu, kepercayaan diri anak tumbuh. Saat ini Ricky sudah mahasiswa dan mengembangkan bisnis sendiri. Dia tak pernah risau dengan pandangan orang dan dengan senang hati akan menjawab kalau ada yang bertanya.

Yulita Patricia Semet, seorang psikolog mengatakan ada banyak penelitian yang menyebutkan anak tuli atau tuna rungu seringkali diisolasi atau tidak dilibatkan dalam aktifitas sebuah kelompok. “Seringkali anak-anak tuna rubgu meski bicara lancar dan memakai alat tetap dianggap tidak bisa melakukan seperti yang lainnya,” kata Yulita. Biasanya ini terjadi di sekolah umum yang mayoritas muridnya tidak ada gangguan dengar.

“Hal-hal tak mengenakkan bisa membuat perasaan anak merasa terisolasi. Kok aku nggak bisa ikut ya. Aku berbeda,” jelasnya. Untuk menghadapi hal ini, anak harus disiapkan agar tidak mudah down ketika menjumpai hal tidak mengenakkan.

Menurut Yulita, kunci semua pengembangan anak tuli atau tuna rungu ada pada orang tua. Hal ini dimulai dari upaya membuat kelekatan dengan anak sehingga anak merasa percaya, aman, disayang dan mau terbuka pada orang terdekatnya. Seiring dengan hal tersebut, bagaimana orang tua menumbuhkan self confidence dan self esteem anak.

Self esteem di sini bermakna lebih dalam tentang konsep dirinya bahwa dia adalah anak yang berharga, sama dengan orang lain yang tak ada gangguan pendengaran.

“Orang tua berperan penting agar jangan sampai harga diri anak jatuh karena kondisinya,” katanya.

Menurutnya, ucapan dan gesture tubuh orang tua akan dipelajari anak. “Kalau orang tua menunjukkan sikap malu atau gampang marah pada yang bertanya kondisi anaknya, bagaimana bisa anak akan percaya diri dan menghargai dirinya,” tanyanya.

Hal yang terkait dengan self confidence dan self esteem adalah social skill yang juga harus ditumbuhkan. Jangan sampai orang tua terlalu fokus mengajarkan anaknya untuk bicara tapi lupa menumbuhkan rasa percaya diri dan mengajarkan kemampuan bergaul secara sosial. Bagaimanapun juga orang tua tidak bisa selalu mendampingi anak 24 jam nantinya.

Dengan adanya rasa percaya diri, menghargai diri dan juga kemampuan  bersosialisasi, maka anak tuli atau tuna rungu makin berkembang. “Anak akan belajar dari keberhasilan atau kegagalannya. Misalkan bagaimana orang bisa bicara di depan publik, butuh pengalaman dulu. Ketika maju bicara dan berhasil maka akan ada perasaan puas dan makin berkembang. Kalaupun belum maksimal, anak akan belajar memperbaikinya.

Yulita menegaskan peran orang tua sangat penting membentuk self confidence, self esteem dan social skill  “Kalau anak merasa disayang, bukan menjadi beban keluarga, sudah percaya diri, merasa dirinya berharga, maka anak tidak akan jadi minder atau penakut. Anak akan berusaha mengeksplorasi dunia sekelilingnya dan makin luas nantinya,”  pungkasnya.

Semua sharing disampaikan dalam acara ultah CTEC ke-3 dan launching Kanso pada 24 February 2018. Acara disertai sharing bertema “Membangun Kepercayaan Diri Anak”.

Dari kiri: Azelia, Kayla dan Sherin. Ketiganya mengalami profound hearing loss