Dalam hidup, kita takkan bisa mengontrol sikap orang lain kepada kita atau pada anak spesial kita. Kadang orang bisa bersikap tak enak atau berucap pedas entah disengaja maupun tak disengaja. Yang bisa kita lakukan adalah harus siap menghadapi dan kita persiapkan anak agar kelak mampu menghadapinya dengan tegar dan tidak emosi.

Sebagai orang tua anak difabel (different ability), yang paling penting adalah menerima seutuhnya keadaan anaknya yang berkebutuhan khusus (ABK). Hal ini memang bukan sesuatu yang mudah.

Menerima seutuhnya dalam artian sudah selesai dengan pertanyaan “Kenapa Tuhan memberi saya anak seperti ini?”, “Apa salah saya?”. Move on itu penting. Kita perlu mengisi hidup dengan sesuatu yang berarti. Bukan mengisi dengan ratapan tak berujung.

Kita tak tahu kenapa Tuhan memilih anak kita yang harus mengalaminya. Kita juga tak tahu alasan pasti Tuhan memberikan anak spesial pada kita. Kita jelas tak tahu apa rencana Tuhan di masa depan. Tapi yang pasti, Tuhan memilih kita dengan sebuah alasan. Tentu karena Tuhan sayang. Percaya saja, Tuhan menunjukkan rasa sayang pada umatnya dengan caraNya. Kadang memang susah dimengerti manusia. 😊

Tak perlu terus-terusan menyesali nasib. Sungguh masa depan tak ada yang tahu. Banyak anak yang terlahir tak ada masalah kesehatan apapun, sehat wal afiat tapi gedhenya blangsak, brengsek, begajulan. Anak yang tak ada masalah apapun belum tentu memberi kebahagiaan, penyejuk hati orang tua di masa tua, atau penerang orang tua di alam kubur .

Sungguh, tak ada jaminan anak yang semuanya organ dan indranya berfungsi baik, ketika besar bisa tumbuh jadi manusia baik. Kalau lihat penjara, mayoritas isinya malah orang yang tak ada masalah kesehatan atau indra apapun loh… Iya kan? Hooh kan? Bener kan? Banyak juga penjahat berwajah tampan rupawan dan cantik jelita. πŸ™ˆΒ Hehe

Punya anak Tuli ya diterima seutuhnya. Tak perlu bersedih-sedih terus menerus. Justru kita perlu senyum di dekat anak, agar anak juga merasakan kebahagiaan dan tak merasa jadi beban. Poloknya jangan lupa bahagia deh ya.. Ada 1001 alasan untuk bersyukur kok.

Tak perlu malu dan menganggap aib. Tuli bukanlah kutukan, bukanlah karma, bukan juga hukuman Tuhan. Nggak adil banget kan anak yang lahir suci kok dah diberi hukuman? πŸ™„. Justru ketika kita ikhlas, anak spesial kita memberi kesempatan lebih bagi orang tua untuk mengumpulkan lebih banyak amal ibadah.

Penerimaan sepenuhnya sangat berpengaruh dalam perkembangan anak. Yang terpenting adalah menyiapkan ilmu buat bekal masa depannya.

Kalau sudah legowo, tentu takkan baperan atau sensian kalau mendengar penyebutan pada anak kita entah tuli, tuna rungu, gangguan pendengaran atau budeg sekalipun.

Mungkin ada yang berpendapat anak harus disebut Tuli sebagai identitas anak yang terlahir tak mendengar. Di sisi lain ada yang tak mau anaknya disebut Tuli karena merasa direndahkan. Saya hormati semua pilihan. Kalau buat saya, disebut apapun ya kondisi anak saya keadaannya tak bisa mendengar tanpa alat. Saya tak mau berdebat panjang soal istilah penyebutan.

Bagi orang Jawa, kata ‘Tuli’, ‘Tuna Rungu’ atau ‘Gangguan Pendengaran’ tidak ada dalam bahasa Jawa. Orang Jawa menyebutnya ‘budeg‘ atau ‘raiso krungu‘. Dalam konteks bicara yang bukan menghina, sebagai orang Jawa, saya tak apa-apa kalau ada yang menyebut anak saya Aziza begitu.

Kalau sudah kategori penghinaan atau bullying ya tentu butuh diedukasi. Saya tentu sangat siap untuk ceramah panjang hehe.. Kalau melihat kasus anak lain sampai mengalami bullying fisik ya harus ditegasi dengan menghadapi orang tuanya, lapor RT atau polisi.

Sejauh ini, saya tak pernah marah dengan penyebutan apapun pada Aziza. Kuncinya ya selow saja kalau ada yang nanya atau komen semiring apapun. Dijawab dengan kepala dingin. Anggap saja berbagi pengalaman hidup, memberi informasi agar orang lain bisa melakukan pencegahan atau agar orang lain bisa belajar berempati.

Setiap hari Aziza ngintil saya kemanapun saya pergi. Kecuali rapat serius, Aziza saya bawa kemanapun. Hampir tiap hari juga saya bertemu orang baru dan hampir tiap hari selalu saja ada yang melongo, melotot tanpa kedip, mendekat atau nanya tentang Aziza. Hehe.. Biasanya, orang yang belum pernah melihat alat sound processor pasangan implan koklea akan nanya. Apapun pertanyaannya, usahakan kepala adem, hati juga adem, plus senyum..

Saya maklum saja kalau ada pertanyaan atau komen ‘ajaib’. Biasanya sih orang yang baru ketemu dan belum pernah melihat implan seumur hidupnya. Ya mungkin saja kosakatanya terbatas. Hehe

Saya tuliskan macam-macam pertanyaan yang pernah saya hadapi:

Tentang Alat
Tanya (T): “Itu anaknya di kepalanya pakai apa?” (Biasanya bertanya tanpa kedip)
Jawab (J): “Anak saya pakai sound processor untuk membantu mendengar.”
T: “Jadi harus pakai alat gitu untuk mendengar?”
J: “Iya”
T: “Kalau nggak pakai, nggak bisa dengar?”
J: “Iya nggak bisa mendengar tanpa alat”
T: “Kok alatnya bisa nempel?”
J: “Di kepala anak saya ditanam alat sampai ke dalam rumah siput. Itu bisa nempel karena ada magnetnya.
T: (biasanya melotot, terpana, terpukau, nggak kedip atau mlongo hehe).. “Itu nempel terus?”
J: “Bisa dicopot kok. Kalau mandi dan tidur dicopot”
T: “Itu seumur hidup pakai alat?”
J: “iya seumur hidup. Sampai anak saya meninggal nanti. Kan alatnya ditanam.”
T: “Masang alat itu gimana? Disekrup?”
J: “Enggak disekrup. Itu ada magnetnya jadi bisa nempel”… (Kadang saya puaskan keingintahuan orang dengan menunjukkan melepas dan menempelkan coil yang nempel di kepala Aziza. Bocah kni tau aja kalau ada yang nanya. Dia pun santai. Biasanya yang nanya makin Takjub setelh melihat proses coil dilepas dan dipasang itu hehe)

Biasanya orang yang ngobrol panjang, berikutnya akan tanya harga. Kadang saya jawab, kadang tidak saya jawab biar tidak pingsan kalau tau harga alat kekecil itu. Hehe.. “Wah bisa buat Β naik haji 8 kali”, “Wah bisa buat beli rumah”, “Wah bisa buat beli mobil”, dan wah wah yang lainnya. Hehe 😬

 

Dikira Headset

Tanya (T): “Mah.. anaknya masih kecil kok dipakaikan headset sih. Apa nggak kasian?”

Jawab (J): “Anak saya tidak pakai headset bu. Tapi dia pakai sound processor untuk membantu mendengar. (berusaha banget menahan agar tidak nyengir hehe).

Trus biasanya akan ada banyak pertanyaan susulan dan saya jelaskan.. 😬

 

Tentang Ketulian
Tanya (T): Β “Anaknya kenapa pakai alat?”
Jawab (J): “Anak saya tidak bisa mendengar. Jadi dibantu alat untuk mendengar”
T: “Tuli ya?”
J: “iya anak saya Tuli.”
T: “Budeg gitu ya?”
J: “Iya budeg” (Rupanya butuh ditegaskan tuli, dan budeg hehe 😬😬😬😬)
T: ooooooo

Tentang Penyebab
T: “Anaknya kok bisa tuli?
J: “Anak saya kena virus CMV saat saya hamil.”
T: “CMV apaan?”
J: “CMV itu Cytomegalovirus. Buat ibu hamil sama bahayanya dengan virus atau parasit lain yang dikenal dengan TORCH”
T: “Kok bisa kena virus?”
J: “Ya kita tak tau gimana kenanya. Virusnya bisa menular dengan bersentuhan dengan cairan tubuh orang lain yang virusnya lagi aktif menginveksi. Bisa lewat salaman. Jadi siapa saja bisa punya kemungkinan kena.”
(Biasanya trus lanjut diskusi soal TORCH.. Banyaaaaaak banget yang tidak tahu juga soal TORCH ini)

Komen Entah Kejam Entah Enggak 😬
T: “Anaknya Tuli ya?”
J: “iya, anak saya Tuli.”
T: “Amit-amit jabang bayi. Semoga anakku enggak tuli”. (Diucapkan lirih sambil ngelus perut lagi hamil)
J: “Semoga anaknya sehat ya.. ” (senyumin. Doain yang baik.. Nggak perlu nyumpahin buruk.. Wajar kan semua orang ingin punya anak yang semuanya berfungsi semuanya hehehe.. )

Pertanyaan TerasaΒ Kejam
Komen: “Anaknya cacat ya?”
Jawab: “Anak saya Tuli, tidak bisa mendengar. Anak saya tidak cacat kok. Masak Allah SWT menciptakan produk cacat? Anak saya ini berkah dari Gusti Allah. Alhamdulillah banyak hal yang harus disyukuri.”

Kalau ketemu yang gitu ya senyumin aja.. mungkin dia taunya kosakatanya difabel (different ability) itu ya ‘cacat’. Jadi ya dimaklumi sambil diluruskan yang sebaiknya hehe. Memang seolah kejam sih. Tapi kalau kosakatanya mentok segitu gimana? Ya dari dulu kan kata yang dipakai memang ‘cacat’, sampai dulu ada istilah ‘penyandang cacat’, atau ‘Rumah Yatim Piatu Cacat Ganda’. Dll.. Nggak usah marah. Kalau emak senyum, Aziza pun ikut senyum.. 😊

Komen Kejam lagi
Komen: “Anakmu tuli karena dosa orang tuanya. Kamu dosa apa kok dapat anak tuli?”
Jawab: “Semua orang tentu punya salah dan dosa. Saya juga. Apa kamu tak punya salah dan dosa sama sekali? Aziza kena virus. Siapa saja juga bisa mengalaminya.” (Senyumin lagi).

Hingga sejauh ini, saya tak pernah marah dengan berbagai pertanyaan yang disampaikan. Ya kalau longgar waktunya akan saya jelaskan dari A sampai Z hehe.. anggap saja edukasi publik alias “penyuluhan” hohoho..

Kalau ada pertanyaan yang sepertinya terdengar kejam, bisa saja memang yang di kepalanya begitu. Ya kadang kemampuan orang memilih diksi kata ya cuma segitu itu. Bisa karena faktor pendidikan, lingkungan yang mannernya kurang atau memang ceplas-ceplos tanpa rem, atau tega.. hehe.

Kalau ketemu orang yang ‘ajaib’ bisa ngomong berasa cabe rawit 20 biji ya tak usahlah marah. Karena saya gak pernah marah, justru orang yang nanya akan nanya banyaaaak banget, diskusi dan belajar hal baru. Saya pun dengan senang hati menjelaskan. Mungkin karena saya seneng ngomong juga kali ya. Hehe

Buat saya, kalau ada yang nanya, akan saya jawab. Saya memberi contoh pada Aziza agar bisa bersikap tenang, bersikap positif menghadapi kondisi apapun baik pertanyaan atau komen yang terasa gak enak. Bisa jadi semua karena ketidaktahuan yang bertanya atau yang komen.

Saya merasa, keterbukaan saya membuat orang lain segan untuk menghina Aziza. Di sisi lain, Aziza tampak sangat percaya diri kemanapun saya bawa. Justru orang-orang yang tak pernah melihat implan koklea dan bicara sama saya jadi jatuh hati pada Aziza yang lucu. Alhamdulillah sejauh ini Aziza mendapat limpahan kasih dari begitu banyak orang. 😍

Jakarta, 30 Maret 2018
Illian DAS
081282032922