Semua pahit getir perjuangan ayah ibu Azelia tidaklah sia-sia. Gadis yang biasa dipanggil Azel ini membuktikan bahwa tuli tak harus selalu menjadi bisu. Dengan derajat tuli sedang-berat 70-90db, dia mampu dan lancar berbicara, bahkan pidato dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda, atau bercerita dalam Bahasa Arab dan Inggris.
Barraz di Jogjakarta dan Aziza di Jakarta pakai kaos kembaran..
Salah satu sahabat cilik Aziza (3,5 tahun) adalah Barraz Tabrizio Liddien Zubula (4,3 tahun) yang sama-sama tuli sangat berat. Orang tuanya yang sangat sederhana tak menyerah, dan menjual apa saja isi rumah demi beli Alat Bantu Dengar (ABD). Setelah dua tahun pemakaian, kini Barraz makin banyak kemajuan dalam berbicara. Ini sepenggal kisah mereka.
Kami tak pernah menyangka dikarunai anak tuli. Syok. Begitulah saat awal kami tahu. Kami tak pernah punya pengalaman berinteraksi dengan anak tuli ataupun orang tua yang anaknya tuli. Kami pun terus belajar, berusaha memberi akses pendengaran dan juga mencari tahu penyebabnya. Akhirnya kami tahu, penyebab gangguan pendengaran berat di sel-sel rambut koklea yang dialami anak ketiga kami, Aziza Sakhia Supriyadi (2,7 th) adalah virus CMV (Cytomegalovirus)
Aziza hanya bisa mendengar diatas level 110 db atau setara suara deru pesawat terbang dari dekat. Menurut dokter dan hasil laboratorium, penyebabnya adalah infeksi CMV yang diklasifikasikan dalam keluarga virus Herpes. Aziza diduga kuat tertular aku saat dia masih di dalam kandungan.