Hari Jumat ketemu pejuang kecil lagi, Vika Rivana. Anak kecil berumur 3,8 tahun ini mengalami hydrocephalus, cerebal palsy, epilepsi, bibir sumbing dan langit-langit terbelah. Aku ketemu di RSCM saat Vika sedang tidur di gendongan ibunya Komariah.

Vika tadi tidur tapi matanya setengah terbuka tak bergerak-gerak. Saat bangun, mata Vika terbuka lebar dan bergerak-gerak meski tidak fokus pada sesuatu. Dia juga ngoceh-ngoceh pelan suara huruf “a”. Kupegang tangannya lalu dia genggam jari tanganku. Saat kucium pipinya, kudengar suara tawa kecil dan bibirnya terlihat tersenyum. Maknyes.. ❤️😍

Kepala Riva terlihat sangat berbeda dengan anak lain. Saat lahir diameternya 32 cm, namun sekarang menjadi 56 cm karena cairan di kepalanya. Di umur 3 bulan, kepalanya pernah ditanam selang shunt untuk pembuangan cairan kepala yang disalurkan ke perut. Tapi rupanya tubuh kecil Vika menolak dan terjadi infeksi. Selang itu hanya bertahan 2 minggu saja. 😢

Bibir Vika sumbing sehingga tak bisa menutup rapat. Dari luar, terlihat jelas lidah dan sebagian bagian dalam hidung Vika. Dokter pernah mau melakukan operasi bibirnya, tapi batal karena Vika masih kejang dan dikhawatirkan berakibat fatal di meja operasi. 😢

Vika dan keluarganya tinggal di Rangkas Bitung. Aku sendiri tak pernah sekalipun menginjakkan kaki ke sana. Sungguh butuh perjuangan naik angkutan umum dari sana ke RSCM Jakarta. Dari stasiun Tanah Abang butuh waktu dua jam hingga ke stasiun Rangkas Bitung yang berada di ujung. Setiap seminggu sekali Vika kontrol kesehatan ke dokter Neurologi dan juga ke poli gizi. Vika rutin mendapat obat kejang dari RSCM yang susah di dapat di Serang serta harganya mahal sekali. Obat itu sangat penting karena setiap hari dia kejang tak terhitung jumlahnya. 😭.

Dengan kondisi anak butuh perhatian khusus, tentu ibu tak bisa bekerja. Sang ayah kerja serabutan jualan barang bekas, mengumpulkan plastik bekas dan ngamen. 😢Sungguh perjuangan yang tak mudah. Tapi mereka tetap semangat karena hidup harus terus diperjuangkan dan tak boleh menyerah. ❤️.

Dari RSCM, tadi kuantar mereka ke Baznas. Alhamdulillah Vika dapat bantuan untuk operasional mengurus kesehatannya. Lalu kami balik lagi ke RSCM untuk mengambil obat. Berikutnya kuantar mereka ke stasiun Manggarai karena mereka naik kereta ke Tanah Abang dan ke Rangkas Bitung.

Mama Vika cerita kadang ada perlakuan orang tak baik pada mereka, mengucap hal yang menyakitkan atau memandang takut seolah sakit Vika menular. Tidak.. sama sekali tidak menular.. Vika korban virus jahat Toxoplasma saat di kandungan. Semua juga bisa kena. Kali ini Vika korbannya. Semoga mama Vika sabar selalu

Rasanya senang bisa melakukan sesuatu yang sederhana buat Vika. Anak surga.. ❤️ Buat yang lain, buka mata dan buka hati ya.. 😊

Buat yang mau berbagi sayang pada Vika, japri aku ya.. 😊🙏. Makasih