IMG_0031

Ini tulisan tentang Aziza di Jawa Pos online 22 November 2016.

Awalnya Illian Deta Arta Sari hanya mengira anak ketiganya, Aziza Sakhia Supriyadi, mengalami keterlambatan bicara. Namun, vonis dokter berkata lain. Aziza dinyatakan mengalami profound hearing loss atau gangguan pendengaran sangat berat. Illian dan keluarga tidak menyerah.

Balita ceria berusia 2 tahun 7 bulan itu memang tidak bisa berkomunikasi seperti anak seusianya. Illian dan suami merasa Aziza seperti anak kedua mereka, Nararya, yang baru lancar berbicara pada usia 3,5 tahun.

Ketika kembali ke Indonesia setelah menuntaskan studi S-2 public policy and management dari The University of Melbourne, Australia, pada 1 Agustus lalu, Illian membawa Aziza ke terapis wicara. Dia disarankan menemui dokter tumbuh kembang.

Illian juga mulai browsing untuk mengenali kondisi yang dialami anaknya. Salah satu informasi menyebutkan bila di usia 2 tahun anak belum bisa mengucapkan satu patah kata pun, perlu diwaspadai ada masalah dengan pendengarannya.

Pada 13 Agustus, Illian dan Supriyadi, sang suami, membawa Aziza ke RS SS Medika, Salemba. Sepekan kemudian, Aziza diperiksa lagi untuk tes lanjutan. Yaitu, tes brain evoked response auditory (BERA) dan auditory steady state response (ASSR).

Hasilnya, dokter menyatakan bahwa Aziza mengalami profound hearing loss atau gangguan pendengaran sangat berat. Telinga kanannya hanya bisa mendengar suara di atas 90 desibel dan telinga kirinya tidak merespons sama sekali.

Dia hanya bisa mendengar suara setara deru pesawat terbang dari dekat. Artinya, selama ini Aziza tidak pernah bisa mendengar suara orang-orang di sekitarnya. Agar Aziza bisa mendengar, dokter menyarankan pemasangan implan koklea.

Mendengar penjelasan dokter, Illian lemas. ”Di keluarga, sama sekali tidak ada yang punya gangguan pendengaran. Begitu pula teman atau orang yang saya kenal. Saya benar-benar nol pengetahuan tentang hal ini,” ucap Illian saat ditemui di kediamannya, kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur, Sabtu (19/11).

Ketika berangkat ke Australia untuk menempuh studi pada Januari 2015, Aziza yang baru berusia 9 bulan terpaksa ditinggal bersama suami. ”Baru dua minggu berkumpul, mendapati kenyataan seperti itu, rasanya sedih membayangkan masa depan Aziza,” ujarnya.

Di tengah obrolan, Aziza baru datang dari bermain dengan anak tetangga. Dia langsung memeluk sang bunda dan menurut ketika diminta salim. ”Aziza kalau ditunjukkan video di YouTube, dia suka joget-joget,” cerita Illian, lantas menyebut gadis kecilnya itu ceria dalam keseharian dan interaksi dengan teman-teman sebaya juga lancar.

Sepulang dari RS, sambil menangis, Illian mencari informasi tentang implan koklea. ”Dalam hati masih berharap hasil tes pertama salah. Nggak mungkin Aziza tuli, masih tahap denial,” kenang perempuan 36 tahun tersebut.

Untuk mengobati kesedihan, Illian yang mantan jurnalis itu menulis di Facebook. Banyak yang memberikan support dan informasi. Termasuk dari orang tua yang anaknya mengalami kondisi seperti Aziza. Salah satunya, Gouri Mirpuri, istri mantan duta besar Singapura untuk Indonesia.

Serta, James Kallman, WNA AS beristri perempuan Indonesia. Putri mereka terlahir seperti Aziza dan menjalani operasi implan koklea pada usia 1 tahun. Kini sang putri berusia 16 tahun, bisa berkomunikasi lancar serta sedang menjalani summer school di Harvard University.

”Saya merasa ada harapan,” ucap Illian. Namun, hambatan berikutnya datang. Biaya implan koklea mencapai ratusan juta rupiah untuk alatnya saja. Harga sepasang implan koklea dan prosesor suara berkisar Rp 240–580 juta. Sementara itu, biaya operasi, rawat inap, dan bermacam tes terbantu dengan adanya BPJS Kesehatan.

Pada 20 September, Aziza kembali menjalani tes di RSCM. Mulai BERA, ASSR, tympanometry, hingga otoacoustic emission (OAE). Hasilnya, dua telinga Aziza hanya bisa mendengar suara di atas 110 desibel. Implan koklea merupakan langkah optimal untuk Aziza. ”Mengejar usia emas, masih di bawah 3 tahun,” ujarnya.

Teman-teman Illian sesama penerima beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) berinisiatif menggalang bantuan untuk meringankan beban Illian dan keluarga. ”Bukan proses yang mudah. Saya sempat merasa tidak enak merepotkan orang lain,” ucap Illian. Namun, support yang membanjir dari banyak pihak menguatkan dirinya.

Illian yang tadinya sangat sedih hingga sering menangis tanpa sebab akhirnya bangkit. ”Saya sadar, saya tidak pantas mengeluh. Hampir setiap hari ke RS bertemu orang tua dan anak yang kondisinya lebih parah daripada Aziza,” tutur ibunda tiga anak, Kumara, 9; Nararya, 7,5; dan Aziza, tersebut. Dia menuliskan perjalanan Aziza dalam blog https://azizaku.com/ untuk berbagi dengan orang lain yang memiliki masalah sama.

Setelah tes kedua pada 20 September itu, Aziza mulai menggunakan alat bantu dengar yang dipakai setiap hari mulai bangun sampai tidur, kecuali saat mandi. ”Alhamdulillah, tidak ada penolakan. Aziza sepertinya menikmati ada suara meski dia belum bisa membedakan itu suara apa,” beber Illian. Kondisi itu wajar karena usia pendengarannya baru dua bulan, terhitung sejak memakai alat bantu dengar.

Illian dan keluarga terus memberikan stimulus untuk mengenalkan suara kepada Aziza hingga operasi pemasangan implan koklea sekitar akhir November atau awal Desember mendatang. Keputusan pemasangan implan diambil untuk memberikan kesempatan kepada Aziza mendengar dan berlatih berbicara.

”Karena mendengar juga jendela informasi. Agar dia tidak terkungkung dengan keterbatasannya,” ucapnya. Illian dan suami berharap dunia Aziza tidak lagi sunyi. ”Ingin banget Aziza bisa panggil ’Mami’,” lanjut Illian sambil mengecup sayang Aziza yang manis itu. (nor/c7/ayi)