Begitu banyak yang bertanya pada saya bagaimana tips dan caranya memilih implan koklea yang terbaik buat putra-putrinya. Hal ini sungguh bukanlah hal mudah. Berikut ini saya tuliskan beberapa tipsnya tanpa bermaksud mengiklankan salah satu brand.

Memilih alat implan rasanya seperti memilihkan ‘jodoh’ buat anak kita karena alatnya akan dipakai di sepanjang usia anak. Ibaratnya kita bakal kontrak mati sama provider karena kita akan terus berhubungan misal menyangkut mapping alat, servis, up grade atau garansi. 😊

Sungguh berat beban untuk memilihkannya. Gak boleh ada kata menyesal karena sekali ditanam ya akan berjalan terus harinya. Gak mau juga kan kalau sudah ditanam dicabut lagi trus tanam lagi ganti merk lain? 🙈 Itu menurut saya looh 😊.

Saat awal tahu anak kami tak bisa mendengar kami harus mengatasi campur aduknya perasaan. Memutuskan implan pun juga campur aduk. Nah ternyata memilih alat pun juga begitu, saya dan suami pun galau. Hehe

Pertama, kami sempat bingung memilih mau beli brand apa. Kedua, setelah mantab dengan satu brand, kami galau lagi mau beli produk type yang mana. Hehe. Harapannya sih yang terbaik, terlengkap. Karena duit tak cukup, itu bikin kami bingung dan harus mikir, mikir dan mikir 😬. Berikut ini saya uraikan satu-persatu tahapan dan tipsnya:

1. Cari Info langsung pada penyedia implan koklea.
Di Indonesia ada 3 brand penyedia implan koklea yang terbesar di dunia dan mendapatkan sertifikasi internasional. Ketiganya adalah Cochlear dari Australia yang didistribusikan oleh Kasoem, MED-EL dari Austria yang dipasarkan MED-EL sendiri dan Advanced Bionic dari Amerika yang dipasarkan oleh PT ABDI.

Untuk merk yang lain silahkan cari sendiri, tapi yang jelas bukan terbesar di dunia dan tentu pemakainya tak sebanyak ketiga brand ini. Kadang saya dengar ada merk lain dijual di indonesia tapi tidak ada kantornya. Duh.. atau malah tidak dapat pengakuan standar kesehatan internasional. Malah saya pernah dengar beberapa kasus merek di luar 3 itu yang harus dicabut lagi implannya. 😔😔.

Ketiga merk tadi mempunyai keunggulannya masing-masing yang tidak perlu saya tuliskan. Karena semuanya punya keunggulan, memutuskan mau beli yang mana itu tak semudah membalik telapak tangan.

Kebayang kan misalnya kita masih single, trus ada 3 orang yang sama baiknya, sama cakepnya, sama mapannya, yang pengen nikah sama kita? Hehe.  Bingung milih tho? 😊

Nah, kalau sudah berkomunikasi dengan pihak implan, tanyakan informasi soal produknya, harganya, garansinya, pelayanan paska beli dan lainnya.

2. Cari info tambahan dari internet, website perusahaan, testimoni/ pengalaman dari pengguna atau orang tua lain pemakai alat-alat tersebut.

Kebetulan saat saya gundah dan gulana di awal tahu anak saya tuna rungu, saya  bertemunya dengan para orang tua pemakai merk Cochlear. Mereka yang menguatkan saya dan hasil pada anak-anaknya membuat  semangat saya menyala untuk berjuang demi Aziza.

Contoh keberhasilan merk MED-EL dan Advanced Bionic tentu banyak juga. Di semua merek,  ada contoh para pengguna implan yang berhasil berkomunikasi verbal lancar, bahkan cas cis cus dalam bahasa asing. Hanya saja, saat saya down memang saya bertemunya dengan para pemakai merek Cochlear.. Lagi-lagi ini juga soal jodoh-jodohan.. 😬

3. Tentukan Type Alat

Kalau sudah mantab memilih salah satu merk, baru pilih type yang mana. Awalnya kami berniat membeli sepasang yang termurah merk Cochlear yaitu CP 802 dan dalamnya CI 24 RE yang saat itu di tahun 2016 harganya sekitar 245 juta. Saya pun tandatangan kontrak pembelian dan membayarkan DP.

Dalam proses menuju implan, kami tetap gundah mau operasi di dua telinga atau satu. Membayangkan kepala dibor saja rasanya masih dag dig duh gak kebayang. Karena itu kami berubah, mau operasi satu telinga saja.

Dengan operasi satu, kami berharap ada keajaiban dan telinga satunya bisa mendengar baik. Taraaaaaaaa. Hehe..

Gundahnya kami bukan hanya soal operasi satu telinga atau dua telinga saja. Kami juga gundah beli “yang termurah” nya Cochlear.  Hehe.. Nggg kadang saya sendiri gak percaya kalau ada barang yang termurah.. 🙈

Misalkan ada yang jual sepatu murah kok saya sendiri nggak yakin, trus maunya beli yang lebih mahalan hehehe.. (dasar emak-emak ya)  🙈. Padahal ini ya nggak murah loh, Rp 245 juta.. hehe.. tapi ya tetep termurahnya di brand ini.

Kami pun juga punya impian ingin memberi yang terbaik. Setelah diskusi panjang, kami bertekad bulat operasi satu telinga saja dan membelikan produk keluaran terbaru, yang termahalnya saat itu sekitar Rp 350 juta satunya.

Alhamdulillah Ada dukungan dari teman-teman tapi memang belum sampai segitu. Ya rencananya mau tambah pinjam ke koperasi kantor suami. Saya pun tandatangan perubahan kontrak dengan Kasoem. Wis, kami manteb beli satu saja dan yang tercanggih. Kami pun mengubah kontrak.  😬

Seminggu sebelum operasi, saya dan suami  bertemu dengan tim dokter untuk final meeting pra operasi. Kemudian kami bertemu dokter bedahnya yaitu Dr Harim Priyono. Saat itu pertama kali kami bertemu Dr Harim karena sebelumnya kami selalu konsultasi dengan Dr Ratna Dwi Restuti yang menangani Aziza sejak awal.

Kemudian Dokter Harim bertanya kenapa kami memilih type implan tersebut. “Kalau boleh tahu, apa alasannya membeli type itu dan kenapa cuma satu saja?” tanya pak dokter.

Saya pun menjawab soal keterbatasan biaya dan  kami ingin memberi yang terbaik, keluaran terbaru buat Aziza. Tujuannya biar 10-20 tahun lagi atau sekitar tahun 2027-2037 alatnya tidak ketinggalan jaman. “Sekarang kami mampunya beli satu. Nanti kalau ada uang operasi satu lagi,” kata saya.

Lantas apa jawaban Dokter Harim? Beliau berkomentar, ” Kalau saya menjadi Bapak dan Ibu, saya akan operasi dua sekaligus meski beli alatnya bukan yang keluaran terbaru dan tercanggih begitu.”

Dokter Harim tentu mempertimbangkan ketersediaan uang kami untuk operasi dua sekaligus. Karena uang kami cukup untuk membeli dua implan, maka disarankan dua. Kalau keuangannnya cuma cukup satu yang paling bawah, tentu dokter ya tidak akan menyarankan dua tentunya. Toh banyak juga anak yang diimplan cuma satu.

Kami pun kaget. Jedeeeeer.. 😱 Whaaaaaat? Saya dan suami mlongo. Hehe..  Lah, dokter yang sangat berpengalaman saja memilih begitu?)

Kemudian dokter menjelaskan soal keseimbangan suara ke otak, dan performa implan kalau telinga satu diimplan lebih dulu dan satunya menyusul beberapa tahun ke depan. Sebenarnya Dr Ratna juga sudah nenjelaskan semuanya, tapi saya dan suami tadinya kekeuh beli satu yang tercanggih 😬.

Dokter Harim juga menjelaskan kalau terapi yang tidak diimplan juga harus tetap pakai Alat Bantu Dengar (ABD) agar syaraf tidak melemah. Selain itu bila nanti Aziza menjalani implan susulan, terapi untuk telinga yang terakhir diimplan pun harus mulai dari awal juga. Saya  membayangkannya jadi dua kali kerja.

Dokter Harim menganalogikan dengan membeli mobil. Satu alat yang tadinya nau kami beli yaitu N6 diibaratkan mobil Mercy keluaran terbaru yang semua serba canggih, serba otomatis, serba wah. Kemudian alat sepasang termurah CP 802 yang di awalnya mau kami beli diibaratkan mobil Innova.

“Bapak dan ibu kebutuhannya sekarang bisa terpenuhi pakai Innova atau harus Mercy keluaran terbaru?” tanya Dokter Harim kalem. Beliau menambahkan kalau punya uang lebih ya nggak apa-apa. Kalau tidak cukup, pertimbangkan kebutuhan. “Kalau dengan kondisi Bapak Ibu, saya akan milih Innova. Sudah cukup buat sekelurga, buat kerja, buat sehari-hari. Yang penting fungsinya. Nggak harus yang serba Luxurious,” tambahnya.

Eh ini bukan iklan INNOVA  sama MERCY ya. Hehehe. Bukaaaan

Dokter Harim sabar banget menjawab pertanyaan kami. Setelah dialog panjang lebar itu kami pun berubah pikiran lagi. hehe..

Jreng jreeeeeeeng..  Pulang dari RSCM, saya dan suami diskusi lagi. Kami mantabkan hati operasi dua telinga meski bukan dengan alat terWAH. Besoknya kami langsung merubah kontrak lagi dengan Kasoem benar-benar mendekati waktu operasi 😬. (Buat Kasoem, maafkan emak ini yang bolak balik ganti kontrak hehe)

Kami kembali ke pilihan awal , yang termurah saja yaitu implan dalamnya CI 24 RE yang saat ini dipakai paling banyak di dunia (karena sudah beredar bertahun-tahun), dan luarnya CP 802 .

Keterbatasan uang membuat kami berpikir soal apa sih kebutuhan Aziza. Benar juga sih, saat ini Aziza tidak butuh alat canggih anti air yang bisa dipakai berenang. Kalau mau renang ya dicopot aja. As simple as that.

Trus Aziza belum butuh-butuh amat FM system yang bisa dipakai mendengar suara jarak jauh. Kayak difilem-filem itu bisa dengar suara bisikan dr jauh. Hehe.. 🙈 ((Eh bukan ding.)) FM system sangat membantu untuk di kelas agar suara guru langsung terdengar jernih ke telinga. Nah Aziza kan kebutuhannya masih mengenal kosakata, belajar bicara , masih tahap basic. Jadi gak pakai FM system pun ya gak popo.

Alat tercanggih yang WAH tadi bisa nyambung bluetooth, bisa nyambung ke TV kalau lagi liat TV, nyambung ke hape untuk dengar music atau nerima telpon. Nggggg.. Aziza umur 3 tahun belum butuh bluetooth kaleee.. hehehe..

Alat tercanggih juga bisa berubah otomatis di banyak environment. Misal berubah settingan otomatis di ruangan yang ada percakapan bisa, di tempat yang full musik misal kafe, atau tempat berisik seperti pasar, atau ditempat berangin seperti gunung atau pantai. Di berbagai suasana tadi, alatnya mampu meredam bising.

Iya bagus banget sih. Tapi saya bertemu banyak anak lain pemakai alat jadul keluaran lama bisa lancar bicara juga , bisa kuliah lulus cum laude juga hehehe. Artinya alat super duper canggih bukanlah yang utama. Itu membuat kami tidak jiper meski gak beli yang super. Yeay

Akhirnya, kami realistis dengan keuangan kami. Bismillah,  Aziza di umur 3 tahun gak harus pakai alat yang tercanggih. Kami beli termurah versi Cochlear. Toh nanti bisa upgrade alat luarnya kalau aziza sudah bisa bicara.

Alhamdulillah dalam setahun pemakaian, Aziza menunjukkan kemajuan yang menggembirakan. Rasanya selalu senang setiap melihat ada huruf baru atau kata baru yang bisa diucapkan baik dari pemahaman, imitasi atau ucapan spontan. Capaian Aziza tentu berkat keajaiban teknologi atas restu Gusti Sing Gawe Urip.

Pesan saya, buat siapapun yang mau beli alat implan dari merek apapun, jangan sampai ngoyo terjerat hutang (apalagi rentenir) yang membebani hidup dan mengorbankan anak lainnya. Berharap terbaik memang manusiawi, tapi tetaplah bersikap realistis.

Ada yang punya pengalaman dag dig dug lain memilih implan? 😊

Jakarta, 1 Februari 2018

Illian Deta Arta Sari, 081282032922