IMG_6003

Banyak kisah dan curhatan pada saya tentang bullying atau intimidasi yang dialami beberapa ortu implan. Ironisnya, biasanya dilakukan oleh sesama ortu anak tuli/ tuna rungu atau oleh orang yang memang tuna rungu.

Saya kumpulkan cerita-cerita tersebut agar orang tua yang mau implan maupun yang sudah implan bersiap kalau suatu saat mengalami bullying tersebut. Biar tidak kaget.. Saya tuliskan juga agar yang berbeda pilihan tidak memusuhi kami yang implan. Buat apa sih menjelekkan pilihan orang lain dan menyakiti yang implan? Apa untungnya sih?

Berikut kisah-kisah yang dapat saya tuliskan:

 

1. Ada teman baik, sesama ibu anak implan dapat direct messageΒ (DM) begini:

IMG_6004

Narasi ortu implan tak terima takdir itu terus didengungkan. Bisa-bisanya pelaku menuding ortu implan sangat kejam. Bahkan ibu anak implan dipertanyakan apa masih pantas dibilang ibu. Whatttt?? Setelah kirim pesan keji, pengirim langsung memblokir. Sungguh sebuah tindakan pengecut bukan? 😊 😊

Pengirim DM tak tahu, kami para orang tua anak implan sangat sayang anak dan mau memberikan akses mendengar buat anak dan bisa komunikasi verbal. BUKAN MENORMALKAN. Tapi memberi kesempatan mendengar. Perlu digaris bawahi tak semua anak tuna rungu juga dapat terbantu optimal dengan alat bantu dengar / ABD. Misal yang gangguan ketuliannya sangat berat atau ada masalah lain.

Kenapa pengirim DM tak bisa menghargai pilihan orang lain? Kenapa pilihan mendengar dan bicara verbal disalahkan?

Kami ikhlas dan tak menyangkal realita bahwa anak kami tuli/ tuna rungu. Sama halnya ada orang tua yang anaknya sakit jantung, tentu ikhlas menerima dan ikhtiar anak dioperasi jantungnya agar bisa beraktifitas seperti anak lain. Ada anak lahir dengan bibir sumbing atau tak punya langit-langit ya dioperasi agar membantu bicara dan menjadi lebih baik. Ada yang bayi terlahir katarak tebal ya dioperasi, tidak dibiarkan, lantas anak diberi kacamata agar bisa melihat. Itu ikhtiar, bukannya tidak legowo dengan takdir Tuhan.

Sungguh pengirim DM adalah pengecut yang tak mau berdialog dan langsung main tuding. Pesan ini dikirim pada satu orang tua implan. Tapi isinya untuk semua ortu implan. Jelas pengirim antipati pada implan dan tega berkata menyakitkan.

Saya sendiri tergelitik dengan pesan yang dikirim pada orang tua anak yang memang sudah implan dan terbuka soal itu. Apa tujuannya? Wong sudah dipasang implannya. Biar mempengaruhi ortu implan trus alatnya dicabut gitu?  😬

2. Ada teman baik, cuma posting video anaknya berdoa di fbnya. Tentu seneng dong ya anak bisa hafal meski lafalnya belum jelas. Untuk informasi aja butuh proses berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk mencapai tahap itu. Teman Ini posting di fb sendiri. Trus dapat pesan SMS kira-kira begini “tolong jangan paksa kami-kami yang pakai alat bantu dengar (ABD) untuk implan” 😩.

Sang teman tak lama kemudian menjawab, tapi pesan tak sampai.Β Ternyata nomor gak bisa dihubungi. (Niat pake no baru hanya untuk kirim pesan gitu mungkin ).

Pesannya adalah ortu implan jangan memaksa yang pakai ABD untuk implan. Duh. Siapa yang maksaaa? Ini posting kebahagiaan pribadi tentang progress anak. Sekecil apapun tentu seneng ya 😒😭. Mau pakai ABD atau mau implan, ketika orang tua berharap anak bisa bicara tentu senang denger suara anak. Meskipun cuma sebuah huruf rasanya senang, apalagi bisa menghafal doa dan mengucapkannya 😒.

3. Ada temen baik , anaknya baru pakai implan hitungan minggu. Sang teman ketemu ortu anak tuna rungu lain face to face dan diceramahin bahwa implan melawan takdir Tuhan. Dikatakan bahwa implan tidak sesuai agama karena semua orang kalau meninggal harusnya tak ada bawa apapun ditubuhnya. Sedangkan Kalau implan, ada alat di kepalanya. Karena itu disuruh copot saja 😒.

Laaaah.. gimana dengan pasang ring jantung? Pasang pen kalau tulang retak dan lainnya? Apakah kalau meninggal, Β semua alat yang tertanam diambil?Β πŸ™„πŸ™„πŸ™„. Islam yang kuanut tak sesempit itu.

So buat ortu implan, siapkan hati dan jawaban kalau-kalau saja suatu hari ngalamin ginian sendiri, diceramahin langsung dengan dalil agama. 😊

4. Ada teman baik posting video anaknya di facebook. Lantas dapat japri kira-kira gini “jangan riya anaknya bisa bicara begitu karena implan. Ingat kesombongan sebesar biji dzarah bisa membuat masuk neraka” 😒😒. Kebetulan saya tau siapa yang mengucapkan itu, yang notabene anaknya pakai ABD / alat bantu dengar dan suka posting anaknya bicara juga. πŸ™ˆ

Soooo apa bedanya ortu anak implan posting video dengan ortu anak pemakai ABD posting anak bicara? πŸ™ˆ Kalau pemakai ABD posting video bicara gak riya, kalau implan posting riya?

— πŸ™„ Huffffff…

Buat yang belum tau apa beda ABD dan Implan, ini foto saat Aziza memakai keduanya. Dari penampakan, ABD tidak perlu operasi dan speakernya dimasukkan ke dalam telinga. Implan harus dioperasi dan tak ada yang masuk telinga. Tapi ada coil nempel di kepala yang terhubung dengan magnet yang ditanam di kepala.

 

5. Ada teman baik yang posting di fbnya, disamperin timeline-nya sama yang kontra implan. Dikatain tidak sayang anak, jahat, merusak kepala anak, menaruh anak dimeja operasi bertaruh nyawa. Bahkan tak lupa nyumpahin pada teman saya untuk menunggu saja suatu hari anaknya anak kesakitan dan akan menyesal 😒😒. Saya masih punya screenshootnya tapi tak usah saya posting hehe. (Laaaaah, kenapa kok malah kayak doain buruk 😒. Bukankah sesama muslim harusnya saling mendoakan yang baik? 😊)

6. Ada teman baik yang mau implan saja harus sembunyi-sembunyi tidak nulis status apapun karena khawatir dibully. Kenapa takut? karena sebelumnya dia ada di lingkaran yang tak suka implan, diyakinkan untuk tak implan dan akhirnya sadar anaknya gak ada kemajuan atau tak terbantu dengan ABD. Akhirnya sang ortu memutuskan implan tapi ada dilema bagaimana menghadapi komunitasnya . Teman saya Sampai wanti-wanti saya jangan sampai nulis atau ngetag di fb tentang dia sebelum implan . Meski sebenarnya dia pengen banget posting mencurahkan hati dan minta doa 😒. Kejadian serupa juga terjadi pada beberapa ortu lain.

Masih ada cerita-cerita lain misal sindiran atau nyinyiran di medsos. Misal yang membuka donasi implan seperti pengemis. Banyak cerita yang dialami para orang tua anak implan. Kalau ditulis panjang banget 😬. Cukup tahu saja.

Banyak yang curhat ke saya dan tak berani bersuara terbuka dengan berbagai alasan. Buat saya, meski omongan miring saya anggap angin lalu, tapi rasanya tak bisa diam melihat seperti itu. Ada banyak orang tua yang tak bisa bersuara dan Aziza juga diimplan. Apa yang saya yakini paling baik untuk Aziza yaitu mengimplan tentu harus saya pertahankan. Ini soal keyakinan dan pilihan. Sama halnya kalau orang sudah yakin seseorang adalah jodoh terbaik dan pilihannya lantas pasangannya dikata-katain dengan omongan jelek oleh orang lain ya gak suka kan? 😬

Ya sudah saya tulis biar bisa dibaca dan jadi pengetahuan umum serta pelajaran 😊 Buat saya yang penting tetap fokus mengajari Aziza mendengar dan bicara. Jalan masih panjang 😊

Semoga yang tak memilih bahasa verbal alias memilih isyarat atau pun yang memilih verbal dengan ABD tak lagi membully yang implan. Kita senasib kok, cuma beda pilihan saja. Semoga saling menghargai.

Salam..

illian Deta Arta Sari, Mama Aziza (4,5 tahun).