Bolak balik terharu pada Aziza. Sebagai anak difabel, dia belajar extra untuk sampai di titik ini. Tak mudah. Tapi sesuatu yang sulit belum tentu mustahil, yang penting berusaha dan tak menyerah. Aziza senang belajar. Sesekali dia menangis kalau merasa sulit karena ingin bisa menguasai pelajaran.

Namanya bocah, kadang ya mewek. “Aku nggak bisa mami. Susah sekali,” tangisnya sambil meletakkan bukunya lalu membenamkan muka ke bantal. Nangis tersedu-sedu. Aku dan suami terus ngeyem-yemi kalau dia down. Sampai hari ini dia masih ngrasa sulit bahasa Indonesia, khususnya mengarang cerita panjang, membuat puisi, dan buat pantun. Bahasa Inggris yang dulu kutakutkan justru dia merasa senang belajarnya. ❤️

Lanjutkan membaca “Di Balik Angka-angka”