“Pa.. Ini mimpi apa bukan ya pa? Ini beneran? Bukan mimpi?” tanya Wulan Anggraeni berulangkali pada Lucky, suaminya saat boncengan di atas motor dari Jakarta ke Cibinong. Dia kaget campur senang saat dikabari mendapat donasi implan koklea senilai Rp 340 juta buat anaknya Aufa Saladin Endey yang tuna rungu/ tuli.

Wulan masih tak percaya tiba-tiba mendapat kabar baik yang memang berbulan-bulan diimpikannya. Sebelumnya dia dan suami berharap membelikan alat pendengaran itu buat anaknya. Di atas motor, dia mencubit diri sendiri, memastikan tak sedang bermimpi.

Rupanya hal itu memang kenyataan. Anaknya yang lahir 12 November 2013 dipilih untuk mendapat implan koklea oleh pihak Kasoem Hearing Center, Cochlear dan pemberi donasi. Ada beberapa alasan mereka memilih Aufa, diantaranya semangat dan dedikasi orang tuanya.

IMG_1893

Implan koklea adalah alat untuk membantu mendengar yang harus ditanam di dalam kepala hingga ke dalam rumah siput melalui operasi bedah. Alat itulah yang diberikan pada Aufa.

Awal Perjalanan Mendengar Aufa

Wulan Anggraeni dan Lucky tak menyangka anaknya tuna rungu. Kehamilannya lancar dan saat lahir Aufa pada 12 November 2013 semua terlihat sehat, tak ada keanehan apapun.

IMG_1894
Aufa tak lama setelah lahir..

Dalam perkembangannya, Aufa memang agak telat berjalan. Dia baru bisa berjalan umur 1,5 tahun dan pilih-pilih makanan. Saat itu Aufa belum juga bisa bicara namun kedua orang tuanya awalnya hanya berpikir telat bicara biasa.

“Memang kami bertanya-tanya kok Aufa belum bisa ngomong sederhana dan dipanggil nggak nengok. Padahal anak tetangga yang umur setahun sudah bisa bicara sedikit,” kata Wulan.

Tapi semua pertanyaan itu seolah tertepis saat mereka melihat Aufa yang sehat, ceria, ikut joget kalau ada yang bernyanyi dan seperti paham kalau diajak bicara. Mereka tak mempunyai dugaan sedikitpun Aufa ternyata tak bisa mendengar karena tak pernah ada saudara yang pernah mengalaminya.

Aufa umur 1,5 tahun dan belum diketahui ada gangguan dengar.

Semua berubah saat suatu hari Aufa yang berumur 1,8 tahun hadir di acara ulang tahun temannya. Dia duduk di depan dan ada balon besar yang meletus.

“Saat itu balonnya meletus dan suaranya keras sekali. Saking kerasnya, sampai ada bayi yang menangis dan kami semua kaget. Tapi Aufa anteng diam saja. Kami langsung tersentak dan was-was,” kata perempuan yang dulu kuliah di bidang akutansi itu.

Karena pengalaman itu, malam harinya wulan dan Lucky mencari info soal pemeriksaan telinga di dokter THT. Mereka mencari klinik khusus anak yang punya peralatan lengkap melakukan tes pendengaran. Pilihan pun jatuh ke klinik di Kelapa Gading, Jakarta utara. Keesokan harinya Aufa dibawa naik bis dari Cibinong ke sana.

Saat itu Aufa diperiksa dokter Semiramis Zizlavsky dan dilakukan pemeriksaan lengkap. Ternyata Aufa ada gangguan pendengaran sangat berat di atas 110 desibel atau hanya bisa mendengar suara deru mesin pesawat dari jarak dekat. Wulan bersyukur bertemu dokter Semiramis yang menjelaskan diagnosanya dengan sabar dan juga berusaha menguatkan setelah membacakan diagnosa itu.

Aufa saat tes pendengaran pertama kalinya.

“Semua adalah ketentuan Tuhan Yang Maha Esa. Tapi masih ada solusinya, bisa dengan ABD atau implan kalau tak terbantu ABD,” kata Wulan menirukan ucapan dokter Mira, panggilan akrab Semiramis. Ucapan dokter itu cukup membekas di kepala Wulan.

Tes pendengaran dan konsultasi dokter baru selesai jam 9 malam. Sebelumnya Aufa susah tidur meski diberi obat tidur sehingga tes baru bisa dilakukan jam 7 malam. Untuk kembali ke Cibinong sudah tak ada bis lagi. Mereka pun naik taksi dan di sepanjang jalan Wulan dan suami menangis. Banyak pertanyaan berkecamuk di kepala mereka.

“Bagaimana bisa? Kenapa saya harus punya anak tuna rungu? Kenapa Aufa harus  mengalaminya? Bagaimana masa depan Aufa? Apa dia bisa? Apa kami bisa?”

Hari itu Wulan merasa hancur. “Rasanya hari itu adalah hari terkelam sepanjang perjalanan hidup saya. Rasanya sedih banget. Pedih,” kata Wulan mengenang sambil menarik nafas panjang.

Mereka pun terus mencari informasi soal hearing loss, termasuk soal alat bantu dengar (ABD) atau implan koklea. Meski demikian mereka pun mengalami tahap denial atau mencoba terus menyangkal kenyataan.

“Di saat saya merasa sedih dan hancur, tumbuh juga harapan kesembuhan melalui pengobatan alternatif,” papar Wulan. Mereka kemudian mengejar klinik-klinik alternatif hingga berbulan-bulan. Diantaranya pijat di Bogor, pijat di Citereup dan rutin pijat Shiatsu mingguan di Puncak. Hingga akhirnya mereka tersadar ketika hampir terjerumus pada klenik.

Wulan cerita ada info penyembuhan alternatif yang kabarnya sukses membuat anak yang tak mampu bicara menjadi bisa. Pengobatannya dilakukan malam hari. “Saat itu ada ritual penyembuhan jam 11 malam di tempat terbuka dan orang-orang duduk melingkar. Saya kaget waktu melihat ada yang lidahnya ditarik,” kata Wulan dengan ekpresi heran.

Karena sudah terlanjur di sana, pas gilirannya dia dan suami tetap maju. Saat itu sang penyembuh meminta pusar Aufa yang dipotong pas bayi. Karena tak ada pusar maka pengobatan tak dilakukan. Saat pulang ke rumah hampir jam 12 malam, mereka tersadar dan memutuskan tak akan melanjutkan ke alternatif dan fokus pada rekomendasi dokter yaitu memakai ABD atau Implan.

Setelah melepas usaha ke jalur alternatif, Wulan dan suami terus mencari info soal ketulian. Mereka pun berusaha tes ulang pendengaran Aufa agar yakin. “Kami masih berharap alatnya tak benar atau ada perubahan setelah kami ikut pengobatan ke sana kemari,” tutur Wulan. Tapi ternyata hasilnya sama saja. Aufa tetap dinyatakan mengalami profound hearing loss atau gangguan dengar dengan derajad sangat berat.

Mereka pun berusaha mengumpulkan uang membeli ABD yang harganya juga puluhan juta. Namun uang pun tidak cepat terkumpul sehingga berbulan-bulan Aufa tak memakai alat apapun.

Hingga suatu hari ada acara di Cochlear Training and experience Centre/ CTEC yang menghadirkan pakar Auditory Verbal Therapy (AVT) dari luar negeri dan juga launching produk baru dari merek Cochlear di akhir tahun 2015 yaitu N6. Aufa yang belum memakai alat apapun diajak ke sana.

Saat itu Wulan melihat pemakai implan koklea dewasa bernama Ricky Alfred putra ibu Agnes Phoa yang berbicara sangat lancar. Wulan pun bertemu banyak orang tua lain yang senasib. Dia pun baru tahu bahwa memakai alat ABD atau alat implan tak langsung membuat anak bisa mendengar dengan baik dan bicara. Semua butuh terapi dan latihan.

Setelah mendapat penjelasan soal alat implan terbaru itu, Wulan pun membatin ingin memberi alat terbaru itu untuk anaknya meski hanya satu. “Ya Allah.. ya Allah aku ingin Aufa bisa mendengar dengan baik. Aku ingin Aufa memakai alat itu,” doa Wulan saat di acara itu sambil membayangkan Aufa memakai alat tersebut.

Sepulang dari acara itu, Wulan sampai di rumah selepas maghrib dan menangis. Di hadapan ayah, ibu dan adiknya dia bercerita bahwa ada harapan untuk Aufa bisa mendengar dan bicara dengan baik dengan implan koklea. Namun harganya ratusan juta, sungguh angka yang ada di luar jangkauan mereka.

“Orang tua saya waktu itu bilang mau jual rumah satu-satunya demi Aufa,” kata Wulan. Namun niat tersebut diurungkan.

IMG_1804
Aufa anak yang ceria dan aktif.

Pertemuan dengan beberapa orang tua di acara itu juga sangat membekas. Wulan bercerita percakapannya dengan Nia Utami, orang tua dari Hilmi pemakai implan. Nia bercerita perjuangannya mendapatkan implan yang tak lepas dari kuasa Allah SWT.

“Ummi Nia saat itu bilang berpesan agar optimalkan pakai ABD kalau baru bisa beli ABD. Anak harus terus dilatih. Kalau memang ABD tak cukup membantu dan ingin implan sepenuh hati, tentu Allah SWT akan mencukupkan,” kata Wulan.

Selepas acara pertemuan dengan para orang tua anak tuna rungu, Wulan dan Lucky berkomitmen beli ABD dulu. Untuk membeli alat itu, seluruh keluarga membantu. Sang adik menguras uang tabungannya, ibunda Wulan juga mengeluarkan tabungan umroh dan juga pinjam sana-sini hingga bisa dapat Rp 26 juta.

Memperoleh uang sejumlah itu pun tidak mudah tapi berbulan-bulan. Bahkan mereka juga semoat kesulitan mendapat pinjaman. Akhirnya Aufa memakai ABD pada Maret 2016. Tak lama kemudian, Wulan mengetahui dirinya hamil anak keduanya.

Saat Aufa sudah memakai ABD, mereka terus rutin terapi. Namun progressnya tak cukup terlihat dan keduanya tetap menyimpan harapan memberi implan untuk Aufa mengingat derajad gangguan dengar Aufa yang sangat berat.

Perbedaan bentuk dan sistem kerja Alat Bantu Dengar (atas) dan implan koklea (bawah)

 

Wulan dan suaminya berdiskusi dan menghitung kemampuannya untuk membeli alat itu. “Dengan gaji kami berdua, kami hitung-hitung kalau nabung mungkin baru bisa dapat 15 tahun,” kata Wulan.

Tapi mereka tak putus semangat. Keduanya percaya pada law attraction bahwa kalau seseorang menginginkan sesuatu segenap jiwa raga maka alam semesta akan membantu mewujudkannya dengan ridho Tuhan tentunya.

Meminta Doa dan Keajaiban Sedekah

Wulan dan suaminya teringat ceramah bahwa kalau punya sebuah harapan, maka ada percepatan yang bisa dilakukan. Caranya yaitu dengan sedekah dan meminta doa pada banyak orang untuk berdoa pada Allah SWT agar hajatnya terwujud.

“Kami meminta doa dari banyak orang karena kami tidak tahu dari bibir yang mana doanya akan dikabulkan,” kata Wulan.

Karena itu mereka terus berusaha dengan bekerja keras, berdoa, bersedekah dan juga minta doa banyak orang untuk mewujudkan implan buat Aufa. Sambil terus melakukan terapi pada Aufa.

Mereka pun bersedekah, bahkan rela melepas  sesuatu yang sangat berharga. Wulan dan Lucky meminta doa pada anak-anak yatim dan menyedekahkan apa yang mereka punya. Mereka terus dan terus bersedekah bahkan sampai tak lagi berfokus pada hasil tapi terus belajar keikhlasan sedekah di jalan Allah.

Wulan cerita, implan yang diinginkan harganya sekitar Rp 340 juta. Untuk percepatan setidaknya perlu sedekah 10% atau 34 juta. Tapi uang segitu juga tak ada. Mereka pun akhirnya mengikhlaskan motor satu-satunya yang biasa dipakai bekerja untuk disumbangkan pada yayasan yatim piatu.

Mereka tak sedih kalaupun tak langsung dapat yang diinginkan karena semua tergantung Allah SWT. Tapi bagi mereka, berbuat baikpun tentu mendapat pahala.

Wulan pun berusaha bersedekah dengan apa yang bisa dilakukan yaitu dengan memasak dan membagikannya tiap Jumat.

Suatu hari ada anak rekannya yang butuh biaya operasi tulang tengkorak sekitar 90an juta. Wulan dan suami trenyuh lantas merelakan hampir semua gajinya untuk membantu karena itu menyangkut nyawa.

“Saya tak tega ada yang anak yang butuh biaya besar. Kami ikhlaskan hampir semua gaji demi kesembuhannya. Padahal saat itu kami ya tak punya uang,” kata Wulan. Mereka selalu percaya akan dicukupkan melalui usaha yang mereka lakukan misalnya dengan jualan air galon.

Begitulah yang dilakukan pasangan muda ini, terus berusaha membantu sebanyak mungkin orang secara ikhlas. Awalnya memang agar bisa memberi implan. Selanjutnya keinginan sedekah dengan ikhlas untuk membantu orang lain terus menguat.

Hingga suatu hari di bulan Agustus 2016, Wulan dan suami mengantar Aufa terapi AVT di CTEC. Saat selesai terapi dan keluar ruangan, di depan pintu ternyata sudah ada pihak Cochlear yaitu Bambang Indrawan dan Alvin Tanuhendaru. Rupanya keduanya memberitahu ada seorang donatur berhati mulia yang ingin berdonasi implan koklea satu saja dan type keluaran terbaru dan type tertinggi saat itu N6 seharga Rp 340 juta. Aufa pun dipilih untuk menerimanya dan mereka bertanya kesediaan Wulan dan Lucky.

“Allahu Akbar. Itu sebuah keajaiban. Allah SWT menjawab doa kami dengan cara yang tidak kami sangka,” kata Wulan mengenang saat itu. “Rasanya campur aduk. Semua kayak mimpi. Sepulang dari CTEC saya boncengan motor dengan bapaknya Aufa masih bertanya-tanya itu benar atau tudak. Masih nggak percaya rasanya,” tambah Wulan sambil senyum.

Wulan terus ingat sebuah kata bijak dari Ibnu Athaillah: “Janganlah engkau putus asa karena tertundanya pemberian, padahal engkau telah mengulang-ulang do’a.
Allah SWT menjamin pengabulan do’a sesuai dengan apa yang Dia pilih untukmu, bukan menurut apa yang engkau pilih sendiri.
Dan pada saat yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau inginkan.”

Nasehat itu benar, saat sedekah terus dilakukan dan tak lagi melulu soal hasil, justru saat itulah Allah SWT mengabulkannya.

Di saat kandungannya makin besar dan mempersiapkan kelahiran, Wulan juga harus mondar-mandir mempersiapkan operasi implan koklea Aufa. Bayinya diperkirakan lahir akhir November dan jadwal operasi dilakukan pertengahan Desember. Dia persiapkan semuanya agar tak repot mengurus paska melahirkan.

Semua prosedur pemeriksaan yang panjang pada Aufa harus dilakukan sebelum Wulan melahirkan. Dengan perut besar hamil 8 bulan, dia mondar-mandir mendampingi Aufa seperti foto MRI, CT Scan, foto Thorax, ketemu dokter spesialis anak, tumbuh kembang anak, mata, jantung, syaraf, infeksi dan lainnya.

Wulan bisa mempersiapkan semuanya karena dia mengundurkan diri dari kerjanya. Mereka sudah tahu paska implan, anak butuh latihan dan pendampingan agar bisa mendengar dan berbicara. Suaminya berpesan “uang bisa dicari, tapi waktu dengan anak tak bisa kembali setelah berlalu” tiru Wulan.

Setelah semua persiapan selesai, Wulan akhirnya melahirkan adik Aufa yaitu Muhammad Ghaziran Arsenio tanggal 26 November 2017. Wulan pun ada jeda memulihkan kondisinya dan mengurus bayi Arsen.

Jadwal operasi implan Aufa ternyata mundur, tak jadi Desember 2016 karena dokter yang mengoperasi ada acara ke luar negeri. Akhirnya Aufa menjalani operasi pada 12 Januari 2017 untuk telinga sebelah kanan. Operasi dilakukan di RSCM Kencana dengan dokter bedah Harim Priyono.

Saat Aufa operasi, Wulan tak bisa mendampingi di rumah sakit. Arsen masih terlalu kecil untuk ditinggal. “Saya sedih banget tidak bisa mendampingi Aufa operasi. Saat itu Arsen masih umur 1,5 bulan. Tidak baik dan memang tidak boleh membawa bayi ke rumah sakit ,” kata Wulan membayangkan momen itu sambil berkaca-kaca.

Paska implan, Aufa menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Saat ini Aufa memakai alatnya kurang lebih satu setengah tahun. Dia pun cerewet mengajak bicara dan bercerita. Kosakatanya juga sudah banyak. Meski berbicaranya masih belum begitu panjang-panjang kalimatnya dan ada beberapa huruf yang belum jelas, tapi komunikasi dua arah sudah berjalan dengan lancar. Aufa anak yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu.

Aufa dan implan kokleanya di telinga sebelah kanan.

Hingga sekarang Wulan dan Lucky tak pernah tau siapa dermawan baik hati yang memberikan implan koklea buat Aufa. Pihak pemberi donasi memang berniat beramal tanpa publikasi. Dermawan tersebut minta namanya tidak disebutkan dan hingga kini Wulan dan suami tidak pernah mengetahui siapa orang baik yang membantu mereka.

Alat itu sangat berharga artinya buat Wulan sekeluarga khususnya Aufa. Bisa dikatakan dermawan itu telah ikut mengubah nasib Aufa. “Saya sangat bersyukur dan berterima kasih sekali atas kebaikan pemberi donasi implan. Semoga surga balasannya. Hanya Tuhan YME yang bisa membalas kebaikannya,” kata Wulan.

Satu hal yang bisa diteladani dari sang pemberi donasi adalah bersedekahlah dengan tangan kanan dan tangan kiri tak tahu. Sang donatur tak perlu menuntut puja puji atau balasan apapun dari penerima kebaikannya.

Dari sisi Wulan dan Lucky, hikmah yang bisa didapat adalah apabila kita berusaha, berdoa dan membantu meringankan orang lain, tentu beban kita juga akan diringankan Tuhan. Di tengah keterbatasan ekonomi, mereka ikhlas berbuat baik.

Satu hal yang dipercayai Wulan adalah Tuhan menitipkan Aufa dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Setiap Tuhan memberikan masalah tentu sekaligus solusinya. Tinggal bagaimana orangtua berikhtiar. Matematika manusia beda dengan matematika Tuhan. Kalau menghitung gaji Wulan dan Lucky bisa puluhan tahun mewujudkan implan. Tapi Tuhan dengan tangan-tangan tak terlihatnya menggerakkan hati orang lain.

“Alhamdulillah, ikhtiar kami dimudahkan. Kami dicukupkan. Allah SWT Maha Baik,” katanya.

Perjuangan Baru, Melawan Kanker

Perjuangan mendampingi anak tuna rungu yang memakai implan bukan semudah membalik telapak tangan, butuh kesabaran ekstra, waktu belajar yang lebih dan biaya yang yak sedikit. Namun rupanya perjuangan lain menanti mbak Wulan: Menaklukkan kanker.

Setelah Aufa implan, Wulan merasakan ada perubahan pada payudaranya sebelah kiri. Dia pikir payudaranya mengeras karena ada ASI yang tak keluar karena dia baru melahirkan Arsen. Pada Juni 2017, dia pun memeriksakan diri. Setelah di USG, ternyata dokter mengatakan ada ASI yang membeku atau terjebak dalam jaringan payudara dan disebut galactocele.

Dokter sempat menyarankan agar ASI yang beku tadi diambil melaui operasi. Tapi karena masih menyusui anak bungsunya, maka pengangkatan ASI yang beku itu ditunda, karena itu dianggap bukan hal yang membahayakan. “Kalau dioperasi kan artinya saya harus opname dan ada pemulihan operasi. Jadi Arsen nggak bisa nenen. Karena itu ditunda,” kata Wulan menjelaskan.

Setahun kemudian, pada Maret 2018 Wulan memeriksakan diri lagi. Ternyata hasil USG menunjukkan ada urat-urat merah. Seharusnya tak ada. Dokter kemudian merujuk ke bagian onkology. Selanjutnya bulan April 2018 dokter melakukan biopsi.

“Hasilnya kanker stadium 3.”

Lagi-lagi Wulan harus bertemu masalah berat lagi. Dia syok meski saat menunggu hasil pemeriksaan selama 2 minggu, Wulan sudah berusaha mencari info sebanyak mungkin dan menyiapkan diri.

Tapi memang kenyataan sangat berat. Di bulan Ramadhan Juni 2018, psikologisnya sempat ngedrop, antara sedih, kecewa, takut, marah, khawatir dan tak percaya atas apa yang dihadapinya. Dia belum bisa menerima vonis itu.

“Saat itu rasanya saya sudah dekat banget dengan kematian. Dekat banget,” kata Wulan menerawang. Matanya terlihat berkaca-kaca.

Perasaannya campur-campur dan membuatnya mudah berpikir negatif. “Saat itu banyak banget sampah emosi. Saya sedih sekali dan juga jadi gampang marah pada hal-hal sepele,” katanya. “Dulu setelah bangkit dari sedih saat tahu Aufa tidak bisa dengar, saya menganggap dia adalah gift karena begitu banyak hikmah. Tapi saat awal saya kena kanker, rasanya Aufa jadi beban,” katanya. Berat badannya sampai turun 8 kilo saking pikirannya tertekan.

Di bulan Juli 2018, Wulan melakukan pengecekan ulang semuanya di rumah sakit kanker Dharmais. Semuanya ditelusuri dan memang benar diagnosa rumah sakit di Bogor.

Wulan yang sempat ngedrop perlahan bangkit. Dia sadar tak seharusnya dia terus larut dalam sedih, marah dan kecewa. Dia juga ikut kelas healing dan jadi semangat lagi. Wulan mengibaratkan sakit kanker dari Allah SWT adalah hadiah.

“Coba bayangkan kalau punya kekasih trus dapat hadiah sandal nggak bagus. Tentu tetap seneng kan? Nah ini juga. Allah SWT itu seperti kekasih kita dan lagi memberikan hadiah. Tapi memang hadiahnya terlihat tak indah. Allah SWT memberikan kanker, kenapa harus marah,” katanya.

Salah satu yang membuat bangkit adalah keyakinan bahwa Allah SWT akan menguji umat yang disayangnya yang dia anggap mampu. Bahkan sakit pun bisa jadi penggugur dosa. “Kalau sakit bisa menggugurkan dosa-dosaku, bukankah itu juga berkah,” katanya sambil senyum.

Dia juga sadar sepenuhnya bahwa sakitnya adalah takdir dan umur manusia sudah ditentukan. “Ada dua pilihan, pertama terus meratapi nasib, menyerah dan sakit-sakitan dan kedua tetap berusaha sehat agar tetap bisa bermanfaat bagi orang lain. Saya memilih yang kedua,” katanya sambil senyum.

 

Wulan pun akhirnya perlahan membuka diri tentang sakitnya. Dulu Wulan sempat menutup diri, tak mau keadaannya diketahui orang lain. Tapi sekarang tidak lagi, justru dia mau berbagi soal semangat dan pola hidup sehat mencegah kanker misalnya menghindari gula, gorengan, banyak makan sayur dan buah, olahraga teratur dan menghindari stress. “Silaturahmi juga harus tetap dijaga, tetap meneruskan hidup karena hidup harus diperjuangkan,” katanya optimis.

Wulan sempat berkata soal ikhtiar sembuh, doa dan kepastahan. “Saya ikhlas dengan sakit kanker ini. Saya ikhtiar untuk sembuh. Kalau memang Allah SWT memberi kesembuhan, tentu saya sangat bersyukur bisa punya waktu panjang buat keluarga. Tapi kalau memang tidak diberi kesembuhan, saya ikhlas. Semoga ini jalan buat penggugur dosa-dosa saya dan untuk bisa masuk ke surgaNya,” katanya dengan tenang.

Wulan sudah menjalani kemoterapi pertama tanggal 29 Agustus 2018 di RS Dharmais. Hari ini 18 September dilakukan Kemo yang kedua. Semoga mbak Wulan diberi kekuatan dan semua sakitnya diangkat. Amiiin ya robbal alamin.

7fcfbe9c-42ce-4c0d-9fa8-9ede31452c13
Aufa dan keluarga piknik di Dunia Fantasy. Saat itu mata Aufa bintitan.