IMG_2589.JPG

Selama ini aku banyak mendengar, melihat dan dicurhati pasangan-pasangan yang berat menghadapi kondisi anak mereka yang berkebutuhan khusus. Ada ortu yang tak kuat terima kenyataan lantas mengalami gangguan kejiwaan, ada yang sedih berlarut-larut, ada yang menyembunyikan anaknya, ada yang menitipkan pada ortu di lain kota, ada yang cekcok sama pasangan tak harmonis lagi, hingga tak jarang ada yang cerai 😭. Yang kupikirkan cuma satu, bagaimana anak mereka? πŸ˜”

Aku bisa melewati jurang kesedihan yang tak terlukiskan dengan kata-kata, bisa berdiri tegak lagi, dan bisa move on terus maju salah satunya karena suamiku. Banyak yang bilang aku ibu yang yang hebat, tegar, dan kuat. Tapi sesungguhnya suamiku lah di balik semua itu. Tanpa dia, apalah aku ini. Hanya remahan peyek.

Pakne tak punya medsos, jadi tak banyak yang tahu dia. Orangnya sibuk bekerja di kementerian yang ada dibawah koordinasi bu Sri Mulyani. Dia juga tak punya waktu kumpul ngopi-ngopi bersama teman seperti eksmud lain di Jakarta. Pokoknya kerja, kerja dan kerja trus piknik sama keluarga kalau pas libur hehe. 😊

Pakne tak lelah selalu mendukungku. Ketika aku mau sekolah lagi dia mendukung plus mendorong les bahasa Inggris. Dulu aku pernah ketrima di Kriminologi Groningen Belanda, dia senang banget meski akhirnya aku nggak ke sana. Matanya berbinar sata kuberitahu surat penerimaan itu.

Ketika aku berubah mau sekolah ke Melbourne, Australia dia tetap memberi kesempatan meski dia tak bisa ikut karena banyak pertimbangan tentang status dan jabatan PNSnya. Dia juga membolehkan aku bawa anak-anak dan meminta sendiri Aziza ditinggal agar dia bisa mengurus anak juga.

“Kalau semua dibawa, papi bagaimana? Aku sendiri nanti. Pulang kerja nggak ada siapa-siapa rasanya kok nglangut. Nara dan kumara dibawa biar ada pengalaman. Aziza di sini aja. Kalau ada Aziza kan ayem,” katanya kala itu.

Dua mingguan sepulang dari Australia, saat Aziza divonis tuli sangat berat, emak yang rapuh ini terus menangis. Pakne tak menangis. Bukan karena tak sedih tentunya. Hatinya remuk redam. Tapi dia tak mau semuanya tenggelam dalam sedih. Dia terus ngeyemyemi emak ini. “Pasti ada jalan. Pasti ada jalan,” katanya berulang kali sambil memeluk emak berbadan besar ini.

Pakne sibuk kerja. Posisinya tak memungkinkan dia santai-santai, mbolos ngantor dan mengerjakan hal lain. Ibarat kata, dia kerja kayak dipecuti hehe.. *pecuuut* πŸ™ˆ. Emak ini akhirnya memutuskan yang tidak bekerja sama sekali dan mondar mandir ke sana sini ketemu banyak orang, cari informasi, download banyak literatur, kemudian lapor ke suami.

Perjalanan mendampingi anak berkebutuhan khusus bukanlah hal mudah. Suami istri harus kompak, saling mendukung sebagai sebuah teamwork. Begitu juga kami, saling memaklumi apa yang tak bisa dilakukan, dan saling mengisi siapa yang bisa mengerjakan. Tak perlu saling menuding.

Suamiku juga mendukung ketika aku mengajak diskusi soal kemungkinan operasi implan koklea yang akan mengubah hidup Aziza selamanya. Memutuskan implan dan kepala anak dibor untuk dimasukkan alat elektronik butuh sebuah keyakinan dan kekuatan hati. Kami berdua memantabkan diri. Setiap Sabtu atau Minggu bertemu orang tua keluarga anak tuli lain. Suamiku tinggal nyetir, aku yang menghubungi banyak orang, yang mengatur semuanya. Bukan karena dia bossy. Bukan.. Lagi-lagi karena dia percaya istrinya tentu mencari jalan terbaik buat anak kami.

Emak ini yang berbulan-bulan hampir tiap hari mondar-mandir ke rumah sakit Cipto Mangunkusumo sendirian. Sering ada yang nanya di rumah sakit “Bapaknya kemana?” Hehe. Mungkin ada juga yang mbatin kok seperti berjuang sendiri apa suami nggak peduli, nggak mau repot? Hehe 😬. Bukaaan.. dia nggak bisa seleluasa itu harus antri berjam-jam dengan antrian BPJS, berhari-hari bahkan berbulan-bulan.

Sesuatu yang pasti adalah suamiku terus memantau dari kantor. “Gimana periksanya? Gimana hasil tes darahnya? Besok ke dokter mana lagi? Aziza nangis tidak? Kapan dapat jadwal MRI? Kapan CT Scan? ” tanyanya setiap waktu, setiap saat. Begitu cara kami berbagi. Tak semua harus ubyang ubyung kemana-mana bareng ala orang pacaran πŸ™ˆ.

Ketika masa krisis operasi terlewati dan emak mulai ada waktu yang bisa diisi aktifitas lain, pakne mendukung pas emak mau jualan mukena, gamis dan kerudung. Ketika emak mau kerja lagi di Museum HAM Omah Munir yang kerja tanpa harus ngantor full time nine to five, dia pun mendukung. “Yang penting ngurus Aziza jangan sampai keteteran,” pesannya.

Soal keberadaan fisik di samping Aziza memang tak banyak yang bisa dilakukan suami karena ikatan kerjanya. Waktu efektif hanya Sabtu Minggu dan tiap pagi habis subuh sebelum ngantor. Selama ini dia hanya pernah satu kali mendampingi terapi Aziza pas hari Sabtu. Tapi tak perlulah emak ini tepuk dada yang selalu mengurus Aziza. Aku bisa mendampingi Aziza plus melakukan aktifitas lain karena full financial support juga dari suami. Dia bekerja mencari uang untuk memenuhi semua kebutuhan terapi, urusan dokter, urusan anak lain, rumah dan lainnya.

TEAMWORK. Itu kuncinya agar kapal tidak oleng. Semoga keluarga lain juga bisa diberi kekuatan bersama dalam berjuang. Amiiiin

Hari ini Pakne ulang tahun. Aku 22 Maret, dia 24 Maret. Kami sama-sama Aries. 😊😊 Met ultah pakne.. Makasih sudah jadi suami yang baik dan bapak yang baik buat Kumara, Nararya dan Aziza. Aku padamu 😘😘

Jakarta 24 Maret 2018

Illian DAS

081282032922