Bolak balik terharu pada Aziza. Sebagai anak difabel, dia belajar extra untuk sampai di titik ini. Tak mudah. Tapi sesuatu yang sulit belum tentu mustahil, yang penting berusaha dan tak menyerah. Aziza senang belajar. Sesekali dia menangis kalau merasa sulit karena ingin bisa menguasai pelajaran.

Namanya bocah, kadang ya mewek. “Aku nggak bisa mami. Susah sekali,” tangisnya sambil meletakkan bukunya lalu membenamkan muka ke bantal. Nangis tersedu-sedu. Aku dan suami terus ngeyem-yemi kalau dia down. Sampai hari ini dia masih ngrasa sulit bahasa Indonesia, khususnya mengarang cerita panjang, membuat puisi, dan buat pantun. Bahasa Inggris yang dulu kutakutkan justru dia merasa senang belajarnya. ❤️

Dulu gak kebayang di titik ini. Dulu saat awal tahu Aziza profound hearing lost, aku yang tak punya pengalaman berinteraksi dengan org difabel/ kelurganya lebih ke kasian pada Aziza. Dulu cuma ingin dia bisa mendengar. Dulu rindu dipanggil “mami” saat dia tak bisa mengucap sepatah katapun.

Rupanya Aziza menunjukkan kerja keras melampaui semua keinginan sederhanaku dulu. Alhamdulillah. Sekarang harapan-harapanku padanya terus berkembang. ☺️

Semoga nantinya Aziza bisa bersinar dengan prestasinya apapun itu. Semoga bisa jadi apapun yang dia inginkan tak terhalang kondisinya, dan semoga bisa selalu berbuat baik, bermanfaat bagi orang banyak. Amin.

NB: Bukan pamer angka, tapi apa yang ada di balik angka itu. Sharing hasil perjuangan dia selama ini. Ibarat kata, ada perjuangan “berdarah-darah”, berderai air mata.

Makasih buat semua yang telah mendoakan dan mendukung Aziza dalam bentuk apapun sejak awal dulu hingga kini. Lemah teles, Gusti Allah ingkang mbales ❤️