4D12FAFE-DDA1-4202-8DB4-BA91FFDD1E11

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun..
Sahur kali ini rasanya begitu sedih. Airmata terus meleleh. Sahabat tersayang, mbak Wulan Anggraeni telah dipanggil Allah SWT, semalam. Mbak Wulan perempuan baik, sholehah, teman seperjuangan yang sama-sama punya anak implan. Semoga husnul Khotimah, diterima di sisi terbaik Allah SWT.. Semoga keluarganya kuat dan anak-anaknya yang masih kecil bisa tumbuh dengan baik dan jadi orang hebat nantinya.. 😭 amiin..

Kesamaan nasib telah mempertemukan kami. Aziza anak ketigaku dan Aufa anak pertamanya seumuran. Mereka sama-sama ada gangguan pendengaran sangat berat sejak lahir dan operasi implan hampir bersamaan di RSCM. Aziza operasi Desember 2016 dan Aufa operasi Januari 2017. Alat yang kami pakai pun satu merek. Sejak kenal, kami pun terus berkomunikasi, saling dukung. Hingga akhirnya di tahun 2018 mbak Wulan mulai berjuang melawan kankernya. 😭

Begitu banyak pelajaran hidup yang diajarkan mbak Wulan, khususnya soal kesabaran, keikhlasan, keimanan dan keteguhan berdoa. Mbak Wulan juga banyak cerita keajaiban sodaqah yang selama ini dia dapatkan dalam hidupnya. Salah satunya, anaknya Aufa juga tiba-tiba dapat implan ratusan juta dari donatur yang hingga kini tidak dia ketahui siapa. Membayangkan angka ratusan juta untuk pun berat sebelumnya. “Allah SWT yang mencukupkan,” katanya.

April lalu kami ketemu di RS Kanker Dharmais setelah Wulan disinar. Saat itu dia masih menjalani penyinaran 25 kali berturut-turut dalam 25 hari. Setiap hari pula dia berangkat dari Cibinong ke RS Dharmais. Mbak Wulan masih optimis sembuh, masih ceria dan kami makan bareng di resto pojokan lantai 2 RS Dharmais sama pak Aaron Noel Manik juga.

Dua minggu lalu, tanggal 20 Mei aku ke rumahanya di Cibinong. Pagi itu sekitar jam 8, tiba-tiba aku begitu kangen dan tergerak datang ke rumahnya. “Mbak aku nanti siang ke rumahmu ya,” kataku spontan lewat whatsapp. “Monggo mbakkuuu,” jawabnya. ❤️. Setelah selesai belanja, aku dan Aziza langsung cus ke Cibinong.

Aziza selalu senang ketemu anak yang sama-sama pakai alat implan. Dia sumringah ketemu Aufa. Mereka pun main bareng dan ibu-ibunya bisa ngobrol.

Aku dan mbak Wulan ketemu lamaaaaaa banget. Kami cerita banyak hal dari mengenang perjuangan mau operasi Aufa-Aziza sampai perkembangan dan capaian saat ini. Mbak Wulan juga cerita sakitnya, perjuangannya dan ngasih tips pola hidup sehat agar jauh dari penyakit.

Beberapa kali aku mau pulang gak dibolehin. Dia bilang masih pengen ngobrol. Kami pun lanjut ngobrol sampai berjam-jam. Saat beneran mau pulang karena sudah sore, kami berpelukan erat. Entah rasanya aku ngrasa itu pelukan terakhir. Aku nangis, mbak Wulan nangis. Dia juga minta doa sambil pamit-pamit. Saat nyetir di sepanjang jalan tol dari Cibinong ke Jakarta, airmataku terus meleleh. Ternyata itu memang pertemuan terakhir kami 😭

Selamat jalan mbak Wulan.. Sekarang dirimu tak sakit lagi.. Berbahagialah di surga.. Allah Maha Baik. Allah SWT sayang pada mbak Wulan 😭😭😘

NB: Dulu aku pernah nulis mbak Wulan juga. Silahkan klik di sini: Kisah Perjuangan Mbak Wulan