Aku dan suami melalui diskusi yang panjang hingga akhirnya memutuskan operasi koklea implan pada Aziza. Mengambil keputusan itu bukan hal mudah karena menyangkut masa depan Aziza yang akan memakai alat implan dan sound processor di kepalanya seumur hidupnya. Selain itu uang memang kendala, karena kami tidak mempunyai banyak tabungan. Namun tangan Tuhan membantu meringankan beban kami. Dengan dibantu banyak orang, akhirnya donasi bisa terkumpul untuk operasi implan di satu telinga Aziza.

“Menerima sumbangan itu sama artinya menerima kasih dari orang lain. Ada orang-orang yang dulunya dibantu disaat susah dan ingin membalasnya dengan membantu orang lain. Ada juga yang ingin melakukan amal baik. Terbukalah. Buka dirimu,” kata mbak Avi Mahaningtyas, aktivis dari Semarang yang tinggal di Canberra meyakinkanku.

Mbak Avi sejak awal sudah memikirkan biaya untuk Aziza meski kami belum pernah bertemu sama sekali. Pertemananku dengan mbak Avi cukup unik, kami bisa dibilang teman di dunia maya, di fb sejak 3 tahun lalu. Kami belum pernah ketemu, namun teman-teman di lingkaranku adalah teman-teman baik mbak Avi juga (Makasih mas Mark Zuckerberg yang sudah menghubungkanku melalui fb Hehehe). Pernah suatu hari mbak Avi ke Melbourne untuk waktu yang singkat, tapi aku nggak bisa menengok karena anak-anak gak enak badan. Gantian, saat aku main ke Canberra, mbak Avi nya sedang mudik ke Jakarta. Tlisiban bahasa jawanya. Hehe…

image

“Apa yang bisa kubantu saat ini? Jangan sungkan,” tanyanya tak lama sesudah aku posting hasil tes Berra dan ASSR pertama Aziza 20 Agustus 2016. Itu adalah kode bahasa halusnya kalau butuh dana jangan sungkan mengatakannya. Dia lah yang pertama kali bertanya soal itu. Karena saat itu aku dan suami masih akan mencari second opinion dan belum memutuskan implan, kubilang untuk sementara bantu doa saja. “Let me know if you need some help,” katanya.

Selanjutnya, setelah kami mendapat hasil tes kedua dan memutuskan implan tanggal 19 September, mbak Avi bertanya lagi soal biaya pada 20 September siang. Akhirnya aku berterus terang, duit memang nggak kepegang untuk beli alat implan sepasang Rp 580 juta atau satunya Rp 320 juta dan mungkin kami akan hutang bank atau jual mobil. Mbak Avilah yang khawatir kalau hutang bank karena posisi saat ini aku tidak bekerja dan perjalanan Aziza paska operasi akan panjang serta butuh biaya yang tidak sedikit. “Ya wis, nanti tak kontak yang lain, siapa tau teman-teman sini bisa pada bantu,” katanya.

Sesudah mbak Avi menelpon aku dari Canberra, dia langsung koordinasi dengan Agung Wasono Ahmad yang masih sekolah di Sydney. Agung pun langsung menghubungi lewat whatsapp dan bertanya ini itu sambil menyusun narasi ajakan donasi. Tidak butuh lama, tulisan langsung jadi. Sore itu juga, info donasi dibuka untuk dua minggu. Agung juga langsung mengirimkan email donasi di grup penerima beasiswa Australia Awards Scholarships. Spontan, tanpa perencanaan panjang. Itulah yang terjadi sore itu. Selanjutnya ada tim kecil yang membantu mengedit, dan memberi masukan tentang donasi yaitu mas Danang Widoyoko, Retha Dungga dan Gita Putri Damayanti.

Ternyata setelah donasi dibuka, beberapa teman langsung mengontak, memastikan infonya bukan hoax dan mengungkapkan selama ini sungkan mau membantu karena takut menyinggung. Di satu sisi aku juga sungkan terbuka karena banyak hal. Jadi ya sama-sama sungkan. Hehe.. Ya memang sih, bagaimana orang tau bahwa kita butuh bantuan kalau kita tidak terbuka mengungkapkannya? Tapi memang aku sama sekali tidak menghubungi siapapun secara langsung untuk meminta donasi karena tetap saja tidak enak. Aku khawatir ngrepotin orang lain. Jadi, semua donasi hanya berdasarkan sebaran narasi donasi yang dibuat Agung Wasono dan bantuan banyak pihak yang menyebarkannya.

Donasi kemudian bergulir dan begitu banyak  yang membantu menyebarkan lewat fb serta grup-grup whatsapp yang mereka ikuti. Beberapa teman dari kecil, SD, SMP,SMA hingga kuliah di Jogja dan Melbourne serta teman di LSM dengan sukarela tanpa diminta kemudian menghubungi teman-teman yang kenal dengan aku dan membantu mengkoordinir mengumpulkan. Salah satu yang sangat membantu adalah mas Zainal Arifin Mochtar, dosen FH UGM, yang sudah nyolek teman-teman hukum bahkan sebelum donasi dibuka. (Hehe.. Makasiiiiiih). Beberapa teman dan komunitas juga datang menjenguk Aziza seperti teman-teman pengajian Aisyah di Melbourne dan mendukung emak yang gundah ini. Kami cukup beruntung, begitu banyak yang peduli. Semua dukungan apapun bentuknya sangat berarti buat kami sekeluarga.

Akhirnya saat donasi ditutup setelah dua minggu (sejak 20 September – 4 Oktober) terkumpul dana sekitar 230 jutaan. Sesudahnya, donasi susulan pun masih terus ada beberapa. “Untuk perawatan pasca operasi,” kata mereka. Beberapa juga mengirimkan mainan atau buku untuk Aziza. Sungguh luar biasa bantuan orang-orang pada Aziza kecilku. Sangat terharu banget..

image
Aziza lagi main mainan masak-masakan dari tante Yenni Meilina Lee sama Risti Saka dan juga buku kiriman tante Wiwien Apriliani dari Melbourne 😍

Rencana pembukaan donasi juga sebelumnya dilontarkan mas Andreas Harsono, teman lama yang juga aktivis Human Right Watch. Soal teknis donasi juga sempat dibahas di grup orang-orang yang dekat dengan aku, yaitu grup Anti War Hobby Bercinta (Hehehe nama grupnya memang begitu sejak 6 tahunan lalu. Intinya kami cinta damai dan nggak suka ribut 😀 ) Salah satu anggota grup, mbakyu Anita Wahid putri ketiga Gus Dur pernah usul pakai platform donasi publik yang sudah ada. Tapi memang akhirnya tidak pakai itu. Terimakasih buat semua anggota grup yang namanya tidak perlu di ekspose demi keamanan nasional hehehe.. apasih.. Ketjup satu-satu yang perempuan. Salaman buat anggota grup yang laki. 😀 )

Tadinya aku ragu membuka donasi karena khawatir ada yang nggak suka, bisa mengganggu pertemanan atau dikaitkan sama kerjaku sebelumnya di ICW. Salah seorang teman di grup ini, mas Budi Setyarso yang bekerja di Tempo juga meyakinkanku. “Ini bukan soal illian, tapi soal Aziza. Lakukan ini buat aziza, nggak usah mikir yang macam-macam,” katanya. Mas Budi juga berkata “anggap saja ini hutang pada kehidupan dan kamu akan membalasnya dengan kebaikan pada orang lain nantinya.”

Iya.. Mas Budi benar, ini adalah hutang kami sekeluarga pada kehidupan.. semoga kami bisa membalasnya dengan kebaikan lain dan membantu orang lain semampu kami. Tentu, Aziza saat besar nanti akan kuceritakan soal hutang pada kehidupan ini.

Maturnuwun semuanya yang tidak bisa kusebut satu-satu yang sudah membantu doa, donasi, kirim mainan, sharing informasi ataupun ada disaat aku butuh teman curhat.. Semoga semua kebaikan akan dibalas kebaikan lainnya oleh Tuhan YME. Amiiiiiin..